Ibu-ibu Poklasar Srikandi Tangguh membersihkan ikan untuk diolah

SEMARANG – Menyisihkan waktu luang untuk lebih produktif, menjadi harapan ibu-ibu di RT 03 RW 11 Kampung Sedayu Sumur Adem Kelurahan Bangetayu Kulon Kecamatan Genuk Kota Semarang. Bersama Dinas Perikanan Kota Semarang, Sri Sukamti selaku Ibu RT di Kampung Sedayu membentuk paguyuban bernama Kelompok Pengolahan dan Pemasaran  Srikandi Tangguh yang beranggotakan 10 orang warganya.

“Senin (12/10) kemarin kami sudah membentuk Poklasar Srikandi Tangguh sebagai bentuk dukungan kami kepada kelompok budi daya ikan yang sudah ada di sini, dan hari ini kami para ibu-ibu diajarkan bagaimana cara mengolah ikan yang difasilitasi oleh Dinas Perikanan Kota Semarang,” terang Sri Sukamti selaku pembina Poklasar Srikandi Tangguh sekaligus Ibu RT setempat saat ditemui rumpan.id Kamis, (15/10) siang.

Bu RT sapaan akrab Sri Sukamti menyebut sebelumnya pihaknya sudah membentuk pengurus Poklasar Srikandi Tangguh untuk periode pertama ini. Bersama dengan tim Bu RT menunjuk Ibu Elyaningrum sebagai ketua, untuk  sekretaris Ibu Nurul dan bendahara Ibu Sudalimah.

Selaku pembina, Sri Sukamti berharap para anggotanya bisa kompak dan semangat dalam mengelola dan mengembangkan Poklasar ini. Sesuai namanya usaha yang tengah dirintis bersama warganya ini bisa tangguh dan langgeng, tentunya dapat menambah penghasilan para Ibu-ibu.

“Kami berharap semoga usaha yang kami rintis bersama ini bisa lancar dan bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi ibu-ibu di sini. Karena dalam pengerjaan produksi di Poklasar nantinya kami para ibu rumah tangga tentu akan menyelesaikan urusan rumah terlebih dahulu. Jangan sampai kami sibuk di poklasar tapi keluarga gak keurus,” jelas Sri Sukamti.

Pada kesempatan lain, Ely selaku Ketua Poklasar Srikandi Tangguh,  istri dari Sri Puji Mulyanto yang merupakan mantan narapidana terorisme (napiter) yang tinggal di sana, mengaku bahwa dirinya bersama ibu-ibu di kampungnya sengaja dikumpulkan oleh Dinas Perikanan Kota Semarang Senin (12/10) untuk membentuk paguyuban tersebut.

Pembentukan Poklasar Srikandi Tangguh ini sebagai tindak lanjut dibentuknya Kelompok Budi Daya Ikan (Pokdakan) Karya Anak Negeri yang beranggotakan bapak-bapak di RT 03 dan diketuai oleh Sri Pujimulyo Siswanto alias Puji.

“Kami para Ibu-ibu di sini sengaja dikumpulkan untuk membahas masalah Bapak-bapak di sini yang sudah membuka usaha budi daya ikan lele, sedangkan kami para Ibu-ibu yang nantinya akan mengolah dan memasarkan hasil panennya,” kata Elyaningrum.

Stigma Negatif Eks Napiter di Masyarakat

Sebagai seorang yang menyandang status mantan napiter, Puji mengaku sempat mendapat stigma negatif di lingkungan tempat tinggalnya. Dia tinggal di sana sejak tahun 2001 silam.

Masalah ini bermula dari Puji yang sudah dua kali terlibat kasus terorisme dan ditahan  pada tahun 2010 dan 2015. Pascabebas bukan hal mudah untuk dirinya membaur dengan masyarakat. Melihat masalah tersebut Ketua RT setempat yakni Hendi Kartika mengambil sikap dengan menjadikan Puji menjadi takmir musala yang ada di lingkungannya. Salah satu tujuannya, agar perlahan Puji bisa berbaur dengan warga, pun sebaliknya.

Lambat laun berkat komunikasi intensif yang terjalain antara Puji dan Pak RT akhirnya muncul inisiasi membuat kolam budi daya ikan lele. Rencana itupun mendapat dukungan penuh dari Pak RT dengan menggerakkan warganya.

“Memang ini awalnya inisiasi dari saya kepada Pak RT untuk membuat budi daya ikan lele, Alhamdulillah Pak RT merespon baik rencana saya ini. Sekarang hampir setiap hari saya bersama Pak RT dan juga warga aktif mengelola,” ungkap Puji.

Kini Puji merasa bersyukur karena apa yang sudah diupayakan mendapat respon positif dari pemerintah dan masyarakat. Hari ini Kamis (15/10) para ibu-ibu yang tergabung dalam Poklasar Srikandi Tangguh mendapat pelatihan pengolahan ikan langsung dari Dinas Perikanan Kota Semarang.

Selain itu dirinya juga menerima bantuan berupa induk ikan lele dari Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang dan juga bantuan berupa tandon air serta pompa air dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Semarang.

“Alhamdulillah hari ini kami juga menerima bantuan berupa induk ikan lele dari Bapak Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang. Selain kami juga mendapat bantuan berupa tendon dan pompa air yang rencananya nanti di sini kami juga akan membuka usaha laundri,” terangnya.

Ke depan diakui Puji bahwa selain budidaya lele, pihaknya juga akan membuka usaha baru berupa laundri untuk tambahan penghasilan bersama. Sedangkan untuk pemasaran semua usaha yang akan dijalankan menjadi tanggung jawab bersama demi berkembangnya usaha tersebut.

Puji juga berharap usaha yang tengah dijalankan bersama warga di sini bisa menjadi sumber penghasilan baru di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, sehingga bisa membantu menopang kebutuhan hidup warga.

Sri Pujimulyo Siswanto (paling kanan) melepas indukan lele bersama Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang Nurkholis dan Ketua RT setempat Hendi Kartika (kaus biru).

Peluang Usaha

Sementara itu Nurkholis selaku Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang sangat mengapresiasi dengan adanya kelompok budidaya ikan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat tersebut. Indukan ikan lele yang diberikan ini diharapkan akan memudahkan masyarakat dalam mengembangkan usahanya ini.

“Saya sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Pak Puji bersama warga di sini. Karena sudah melaksanakan program kami yaitu budidaya ikan air darat,” ungkapnya.

Lebih lanjut Nurkholis menjelaskan indukan yang diberikan hari ini diharapkan dapat memudahkan pelaku budidaya dalam pembibitan, sehingga proses pembesaran lebih mudah karena dengan adanya indukan dapat mengurangi biaya produksi.

Nurkholis juga mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan penyuluhan secara berkala kepada Pokdakan Karya Anak Negeri ini tentang bagaimana cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Tentunya dengan dimulai dari proses awal budidaya sampai kualitas produksi yang benar-benar aman untuk kesehatan maupun aman untuk lingkungan.

“Jangan sampai nanti justru akan menimbulkan limbah, harapannya bisa berkolaborasi dengan hidroponik atau dengan pertanian jadi bisa saling menguntungkan, karena air dari perikanan bisa untuk menyiram tanaman,” terangnya.

Selain itu Nurkholis juga berharap kedepan tidak hanya produksi dan budidaya saja, tetapi juga mengarahkan kepengolahan dan pemasaran yang bisa menambah nilai jual sehingga bisa menumbuhkan ekonomi kerakyatan.

Budidaya ikan darat ini juga disebut Nurkholis merupakan peluang usaha yang sangat baik. Mengingat Kota Semarang saat ini baru memenuhi 40% konsumsi ikan per tahunnya.

Angka konsumsi ikan per tahun di Ibu Kota Jawa Tengah ini mencapai 17 ton pertahun, namun produksinya baru sekitar 6-7 ton, sehingga ini suatu peluang untuk usaha.

“Usaha seperti ini perlu adanya peran bersama terutama untuk memviralkan tempat ini, karena apa kalau sudah viral kan bisa jadi ajang promosi tersendiri,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Baznas Kota Semarang Arnas Agung Adrarasmara optimis kelompok budidaya dan pengolahan ini bisa berkembang. Salah satu sebabnya; adanya sinergitas dan kolaborasi antara masyarakat dengan pemerintah dan lembaga lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here