MAGELANG – Ribuan lampion diterbangkan serentak di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Sabtu (19/5/2019) malam. Warna keemasan temaram api lampion yang membumbung, mempercantik malam purnama di candi Buddha itu.

Lampion itu tak hanya diterbangkan warga lokal, tapi wisatawan nusantara dan mancanegara juga terlibat dalam kemeriahan tersebut. Mereka berkesempatan menjadi penerbang lampion.

Pesta lampion ini merupakan bagian dari perayaan Hari Raya Waisak. Sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, pesta lampion kali ini digelar dua sesi. Pukul 20.00 WIB dan 22.00 WIB.

Tiap sesi, dilakukan dua kali penerbangan lampion. Hal ini dilakukan karena melihat antusias wisatawan yang ingin menikmati Candi Borobudur dengan nuansa spesial.

Penerbangan lampion digelar sesaat setelah detik-detik Waisak. Ditandai dengan pemukulan gong tiga kali dan pemercikan air berkah serta membacakan Paritta Jayanto dan umat bersikap anjali.

Tuntunan meditasi Waisak oleh Biksu Wongsin Labhiko Mahathera dan pada saat meditasi suasana hening. Selesainya meditasi ditandai dengan pemukulan gong satu kali.

Dalam renungan Waisak, Biksu Tadisa Paramita Mahasthavira menyampaikan bahwa saat ini, tidak sedikit umat manusia yang tidak paham hati dan tidak menampakkan kesejatian diri. Sehingga, hati mereka telantar, gelap, kotor, sakit dan merajalelanya pancaskanda.

“Akibatnya hati kita menjadi bingung, berlaku buruk, kebiasaan buruk, karakter buruk, dan nasib pun jadi buruk. Imbasnya interaksi hubungan dengan keluarga dan masyarakat jadi buruk, karena hati tidak dikendalikan maka hati mudah tergoda, terjerat dan terbius oleh kondisi di luar,” katanya.

Menurutnya, banyak juga manusia hanya tertarik dan tertuju pada dimensi di luar dirinya. Sampai melupakan jatidiri masing-masing. Memuja keluar sampai lupa memahami hati, tidak bisa introspeksi, tidak bisa koreksi diri.

“Bagaimana dia bisa melatih diri, kalau tidak menampakkan kesejatian diri dan bagaimana dia bisa terbebas dari siklus tumimbal lahir,” katanya.

Sementara itu, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin yang hadir dalam perayaan itu menuturkan, keberagaman agama memang menjadi ciri khas Indonesia.

Saling menghormati. Meski mayoritas pemeluk Islam dan sedang menjalani ibadah puasa, tidak menghalangi umat Buddha dalam merayakan Waisak. Bahkan tidak sedikit umat Muslim yang membantu menyukseskan Waisak.

“Kita menghargai kebangsaan kita dengan kebhinnekaan kita, perbedaan bukanlah kelemahan melainkan kekuatan. Oleh karena itu, perhatian pada kehidupan beragama dan berdemokrasi menjadi sangat penting,” katanya.

Dijelaskan, bahwa inti ajaran agama adalah kasih sayang bukan kebencian, semangat inilah yang akan dirawat sebaik-baiknya.

“Kita harus mencegah berbagai upaya yang membuat kehidupan kita bersama menjadi terpecah dan menimbulkan konflik. Melalui momentum Tri Suci Waisak ini saya ingin mengajak kepada setiap umat beragama untuk melakukan evaluasi diri,” ucapnya. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here