Merebaknya virus corona di Indonesia juga menjadi ketakutan tersendiri bagi anak-anak yang tinggal di kolong jembatan Arteri Yos Sudarso, Kota Semarang.

Namun, ketakutan itu direspons sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dengan mengajak mereka bermain dan belajar sekaligus mengedukasi apa itu virus corona sekaligus bagaimana mencegahnya.

memberi edukasi lewat video tentang virus corona

Seperti pada kegiatan Minggu (15/3/2020) pagi di sana. Pada kegiatan bertajuk Minggu Pagi Ceria dengan Anak-Anak Kolong Jembatan, para mahasiswa itu berinteraksi dengan anak-anak, memutarkan video yang disorotkan ke tembok kayu di salah satu rumah warga di sana.

Ada juga yel-yel kesehatan yang diteriakkan. Bunyinya seperti ini: “My Head, My Heart, My Body are Fresh! Fresh! Fresh!” anak-anak dan para mahasiswa kompak berteriak.

Salah satu tulisan anak di sana berisi tentang ketakutan apa yang mereka rasakan. Salah satu isinya: “Takut Corona, Takut Nilai Ulangan Jelek”. Selain itu ada pula seorang anak bernama Tika yang menuliskan cita-citanya: Dokter. “Mengejar impian dan cita-cita bisa mengobati orang yang kena virus corona.”

Tulisan-tulisan itu dicoretkan pada selembar kertas, plus sebuah gambar berwarna karya mereka sendiri. Anak-anak yang ada di sana variatif; ada yang masih duduk di bangku SD, SMP hingga SMA. Namun ada pula yang belum sekolah hingga putus sekolah karena tak ada biaya.

karya anak-anak kolong jembatan

Mereka yang tinggal di kolong jembatan itu totalnya ada 45 Kepala Keluarga (KK). Mereka adalah para korban penggusuran Kampung Cakralawa Semarang Barat Kota Semarang, pada tahun 2006 silam.

Salah satu mahasiswa yang turun di sana, Ela Vinda, bercerita Minggu pekan lalu dia bersama teman-temannya sudah menggelar kegiatan serupa di sini.

Ketika itu mereka memberi tugas anak-anak untuk menuliskan cita-cita, hingga apa yang mereka takutkan. Ternyata, beberapa di antaranya menuliskan tentang takut virus corona. Akhirnya,  pertemuan inilah mereka memberikan edukasi tentang virus corona sekaligus pencegahannya.

Dia sendiri, bersama teman-temannya sebenarnya juga khawatir akan merebaknya virus itu.

“Waspada itu penting, tetapi tetap melakukan yang terbaik,” kata Ela ditemui di lokasi acara.

belajar matematika

Dia bersama teman-temannya di UIN Walisongo itu berkomitmen tetap memberikan edukasi kepada anak-anak di sana.

“Kami ambil bagian yang kecil, semampu kami, mengajak mereka belajar dan bermain,” tutupnya.  

Metode seperti itu diyakini Ela tidak membosankan. Sebab, mereka mengajak anak-anak bermain sambil belajar. Mereka mengajarkan beberapa pengetahuan umum hingga matematika.

Ela sendiri mengaku mengetahui adanya warga terutama anak-anak yang tinggal di kolong jembatan ini dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum. Ketika itu Ela dan teman-temannya berdiskusi soal hukum di kantor Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, di Jl Semarang Indah Blok D15/32 Kota Semarang, tepatnya Sabtu (15/2/2020) lalu.

“Pak Yosep Parera (pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum) menyampaikan kalau ada acara di kolong jembatan, kami tertarik hadir dan sampai sekarang masih rutin ke sini,” tambahnya.

mengajak ngobrol lansia di sela-sela kegiatan

Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti, yang hadir pada Minggu (15/3/2020) itu mengapresiasi apa yang dilakukan para mahasiswa ini.

“Di saat beberapa orang takut keluar rumah (karena wabah virus corona), mereka tetap beraktivitas bahkan memberikan edukasi kepada anak-anak,” kata Tanti, sapaan akrabnya.  

foto-foto: rumpan.id/eka setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here