Advokat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, Yosep Parera (kanan) dan Ceicilia Novita Prameswari (kiri) ketika berada di Lapas Kelas II A Magelang, Sabtu (3/8/2019).


MAGELANG – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Magelang menangguhkan penahanan terhadap IR (37) seorang ibu rumah tangga yang didakwa menjual kosmetik dan obat tradisional tanpa izin edar.

Perintah penangguhan penahanan itu diberikan setelah pembacaan pledoi dari tim advokat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang selaku kuasa hukum IR. Sidang beragenda pledoi itu pada Senin (14/10/2019). IR sebelumnya ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kota Magelang.

Majelis hakim pada perkara IR; Yamti Agustina sebagai ketua dan anggota: Maria Anita Chistianti Cengga dan Wahyu Sudrajat.

Advokat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang Ceicilia Novita Prameswari alias Vita, menyebut pemeriksaan yang dilakukan penyidik Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Semarang tidak sesuai regulasi.

Sebab, IR yang sudah berstatus tersangka diperiksa penyidik tanpa didampingi penasihat hukum. Padahal regulasi memerintahkan pada peristiwa seperti itu, tersangka wajib didampingi penasihat hukum.

“Tindakan itu (pemeriksaan tersangka tanpa penasihat hukum) tidak dapat dibenarkan,” kata Vita kepada rumpan.id, tak lama setelah sidang.

Berangkat dari fakta itu, maka penyidikan yang dilakukan penyidik BBPOM di Semarang adalah tidak sah secara hukum dan batal secara hukum, meskipun ada surat pernyataan dan penolakan dari tersangka.

IR sendiri dijerat dengan pasal yang hukumannya tinggi. Vita menyebut pada Pasal 56 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), disebutkan tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana 15 tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam pidana 15 tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri maka pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka.  

“Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian kata wajib adalah sesuatu yang harus dilakukan,” lanjutnya.

Saat sidang beragenda pledoi itulah, majelis hakim akhirnya memerintahkan penangguhan penahanan kepada IR. Di antara pertimbangannya; IR adalah ibu dari 3 anak, regulasi tentang perlindungan anak mengamanatkan jika seorang ibu tidak boleh dijauhkan dari anak-anaknya. Penangguhan itu terhitung sejak Selasa 15 Oktober 2019.  

Pertimbangan lainnya adalah pemeriksaan IR yang sudah selesai jadi tidak ada alasan lagi untuk tetap ditahan.

Saat persidangan dari agenda dakwaan hingga pledoi itu, dihadirkan beberapa saksi, baik dari pihak jaksa penuntut umum (JPU) maupun penasihat hukum. Saksinya mulai dari pembeli, penyidik, karyawan. Saksi ahli juga dihadirkan, termasuk pakar hukum Bernard L Tanya yang dihadirkan oleh penasihat hukum.

Vita juga menyebutkan filosofi Pancasila pada penegakan hukum, selain merawat kemanusiaan juga dalam rangka memberikan kesejahteraan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sesuai perintah sila ke-5 Pancasila.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus tercipta keseimbangan antara hak dan kewajiban, selain itu sebagai anggota masyarakat sebangsa setanah air, kita harus menghormati hak-hak orang lain.

“Sidang selanjutnya beragenda putusan, Senin 28 Oktober 2019,” jelas Vita.   

IR sendiri merupakan warga Jalan Tarumanegara Kabupaten Magelang. Dia penjual perlengkapan rumah tangga dan kosmetik online. Balai Besar POM di Semarang menggerebek rumahnya pada 30 April 2019, menemukan 137 jenis kosmetik dan 1 jenis obat tradisional tanpa izin edar.

Barang-barang itu sebenarnya sudah tidak dijual IR, namun karena disimpan dalam satu gudang bercampur dengan jualan lainnya, IR ditetapkan sebagai tersangka.  

IR didakwa pasal 196 dan 197 Undang-Undang nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, ancaman pidananya maksimal 10 tahun dan 15 tahun dan denda paling banyak Rp1miliar dan Rp1,5miliar.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Lapas Kelas IIA Magelang, Bambang Sirat, membenarkan IR sudah tak lagi ditahan di sana. “Sudah dibebaskan,” kata Bambang Sirat via WhatsApp (WA) kepada rumpan.id. (Nanda Khohar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here