Siapapun Bisa Marah, Gaes!!!

Oleh: Theodorus Yosep Parera
(Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum)

Kata berita sebagaimana liputan sebuah stasiun TV swasta (calon) Presiden marah:

Kamu wartawan mana? Nadanya keras, suaranya menggelegar di depan khalayak! Marah!  Waktu itu Pak Prabowo menuding seorang wartawan.  

Ada juga artis, berteriak histeris, marah dan merusak pintu rumahnya sendiri karena menuduh pasangannya sendiri selingkuh.

Ponakan kecilku yang umurnya baru 3 tahun juga bisa marah saat kuenya diambil kakaknya. Saking marahnya, HP ibunya yang dipegang sambil dengerin lagu anak-anak dilemparkan ke muka kakaknya.  

Tapi yang paling rame dan viral sekarang adalah marahnya Adi Saputra. Motornya sendiri dirusak, diobrak-abrik, di depan Pak Polisi lagi! Pacarnya sampai nangis-nangis sebab motor kesayangannya dirusak sang pacar yang tak terima ditilang Pak Polisi.  

Marah memang milik kita semua. Mau anak kecil, orang kecil, orang besar, orang kaya, orang miskin, pejabat, rakyat, kuat atau lemah, pintar atau tidak pintar, semuanya punya dan pasti pernah marah.  

Lalu, apa itu marah?

Secara garis besar ada 3 komponen marah, yaitu: pikiran (pemikiran negatif), perasaan (kecewa, frustrasi, emosi) dan tindakan (berteriak, kekerasan fisik atau bisa juga perbuatan untuk memperbaiki keadaan tertentu).

Sementara, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), marah artinya sangat tidak senang karena dihina atau diperlakukan tidak sepantasnya.

Nah! Berarti kalau ada orang marah-marah sampai melakukan perbuatan yang melanggar hukum, seperti Adi Saputra yang merusak motornya, bisa kita maklumi dong! (merusak motor bisa dimaklumi, tapi melanggar lalu lintasnya eitts tunggu dulu…)  

Maklum, jadi ingat ajaran hukum pidana “alasan pemaaf” sebagai penghapus pidana, sebagaimana ketentuan Pasal 44 KUHP.  

Loh kok bisa?! Bisa dong!

Bukankah ajaran Socrates bahwa tunc iratus furere artinya marah adalah kegilaan sesaat, juga dianut dan diamini oleh beberapa pakar hukum pidana plus beberapa hakim di Indonesia.

Mungkin itulah sebabnya, Mas Adi begitu sadar (motornya rusak, pacarnya nangis plus terekam video) langsung nangis sambil mencium tangan Pak Polisi: meminta maaf.  

Melihat kasus si Adi, tampaknya dia sangat butuh psikiater. Sebab, marah dalam psikologi sebagaimana pendapat C.P Chaplin Anger, adalah:

“Reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan atau frustrasi, dan dicirikan oleh reaksi kuat pada sistem syaraf otonomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik; dan secara implisit disebabkan oleh reaksi serangan lahiriah, baik yang bersifat somatis atau jasmaniah maupun yang verbal atau lisan”.

Semoga Mas Adi bisa lolos dari jeratan pidana.

Lalu, apakah marah itu jelek? Tidak juga dong.

Sebagai sifat manusia, marah sangat penting bagi manusia. Sebab, dapat membangkitkan semangat perjuangan dan pengorbanan dalam membela kebenaran guna menegakkan keadilan. Misalnya; gerakan 212 (yang berjilid-jilid itu) dalam membela akidah dan keimanan.

Robot Terminator (Arnold Schwarzenegger) kepada John Connor juga pernah mengutarakan hal itu: “Lebih baik marah daripada putus asa!” begitu kira-kira kata si Terminator sambil nyengkiwing si John Connor (Terminator 3: Rise of The Machines). Si Robot mengatakan itu merupakan psikologi dasar.

Ngomong-ngomong soal marah, nulis-nulis soal marah, saya malah jadi kepingin marah! Marah sama “si Inem”, biar besok “rumah lebih bersih” dan “pakaian lebih licin”!

Marahnya sudah diubun-ubun. Tapi, sebentar! Jangan-jangan “si Inem” ini malah kemas barang, angkat koper dan pulang kampung!  

Terus saya mau marah ke siapa dong! Blaiss….!!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here