FOTO RUMPAN.ID/ERNA VIRNIA
Maripah (73) tukang pijat tradisional di Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

SEMARANG – Maripah (73) warga Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang sejak 13 tahun lalu menggeluti profesi sebagai tukang pijat tradisional. Keahliannya memijat didapat secara otodidak, berawal saat diminta tolong tetangganya yang kelelahan, meminta dipijat dan kerikan.

“Dulu itu awalnya ada tetangga yang kebetulan sedang masuk angin, minta tolong saya untuk dikerokin dan dipijit, alhamdulilah sembuh. Nah sejak itu akhirnya banyak yang datang minta dipijit kalau sedang kelelahan,” ungkap Maripah kepada tim rumpan.id saat ditemui di rumah kontrakannya di Pudak Payung, Mingggu (10/11/2019) malam.

Profesi pemijat ini menjadi satu-satunya mata pencahariannya di usia senjanya. Maripah juga mengaku dengan penghasilan yang tidak menentu, dirinya harus bisa menyisihkan uang untuk sewa rumah yang harus dibayarkan setiap tahunnya sebesar Rp3juta.

Tinggal bersama seorang anaknya yang tidak bekerja, menjadikan penyemangat tersendiri bagi Maripah demi mempertahankan dapurnya tetap ngebul.

“Ya dari hasil mijit ini, yang saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kadang ada pelanggan yang baik hati biasanya kalau saya habis mijit, pulangnya dikasih beras, dan lain-lain, ya bersyukurlah masih banyak orang-orang baik,” kata Maripah.

Maripah juga mengaku bahwa selama ini dirinya juga tidak pernah mendapat bantuan sedikitpun dari pemerintah, karena sejak dirinya pindah ke Pudak Payung, belum pernah mengurus pindah domisili yang berasal dari daerah Kalisidi Kabupaten Semarang.

Namun demikian Maripah tak menjadikan masalah, karena selama ini dirinya sudah bersyukur diterima oleh masyarakat di lingkungannya. Hal ini dibuktikan dirinya selalu rutin mengikuti Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di kampungnya.

Maripah juga mengaku bahwa pelangan yang datang selama ini dari berbagai kalangan, ada yang dari keluarga Polri, TNI, pengusaha dan lain sebagainya.

“Kadang kalau saya dipanggil begitu sampai malam, mijit bapaknya, anaknya, menantunya, kadang saya batasi kalau capek ya saya menolak, karena gak mungkin juga kan saya yang bantu orang untuk sehat malah saya kecapekan sendiri,” ungkapnya.

Selain membatasi jumlah orang yang dipijit, Maripah juga memberlakukan hari libur untuk dirinya sesuai dengan penanggalan pasaran jawa, yaitu setiap wage dirinya tidak menerima jasa pijat.

Dia percaya, kalau dilanggar justru akan membawa dampak buruk untuk dirinya.

Di tengah tuntutan zaman, Maripah masih punya secercah harapan, yaitu untuk menambah penghasilannya. Dirinya kini tengah menabung mengumpulkan modal, untuk jualan wedang ronde di rumahnya. Minuman tradisional yang menyehatkan.

“Saya pengen sekali jualan wedang ronde, ngumpulin modal sedikit-sedikit, karena di sini tak lihat belum ada yang jualan itu, buat tambah-tambah biar kalau bayar kontrakan gak berat,” pungkasnya.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here