FOTO HUMAS BASARNAZ JATENG
Petugas gabungan Basarnaz Jateng pos SAR Cilacap dibantu warga saat mencari Rujianto dan Anwar, Bocah tengelam di Sungai Pemali, Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, Jumat (22/2/2019)

SEMARANG – Peristiwa tenggelamnya dua bocah; Rujianto dan Anwar menambah daftar panjang korban anak tenggelam hingga tewas di Kabupaten Brebes.

Dari informasi yang di himpun, sekurangya ada 13 kejadian orang tenggelam di Kabupaten Brebes sejak 2016. Hampir secara keseluruhan, korbannya adalah anak anak usia remaja.

Di mulai September 2016 di mana 5 orang tenggelam saat mencuci daging kambing kurban di Sungai Pemali. Di susul 2 kejadian berikutnya di tahun 2017, pada bulan Januari dan Februari, masing-masing 1 orang meninggal kejadian itu.

Di tahun 2018, jumlah kejadian tenggelam di Brebes kian bertambah, tercatat 5 kejadian dengan 7 orang meninggal dunia. Sementara di tahun 2019, per 23 Februari ini, sudah ada 2 peristiwa tenggelam.

Humas Badan SAR Nasional (Basarnas) Jateng Kantor SAR Semarang, Zulhawary Agustianto menyatakan kesadaran masyarakat akan keselamatan terutama saat beraktivitas di perairan menjadi salah satu sebab sering terjadinya peristiwa tenggelam di Jawa Tengah.

“Banyak kemungkinannya, salah satunya Pengawasan orang tua yang kurang,” kata Zulhawary pada rumpan.id via WhatsApp, Sabtu siang

Dia mengatakan, seringnya kejadian korban tenggelam bukan saja ada di Kabupaten Brebes, kejadian serupa juga kerap terjadi di daerah lainnya

“Bukan hanya Brebes, Mas, Sungai Serayu (Banjarnegara), Sungai Progo (Magelang), Sungai Lusi Grobogan juga cukup sering terjadi kecelakan air,” terangnya

Berkaitan dengan hal ini, Zul, mengatakan pihaknya juga mengalami kesulitan untuk mengadakan sosialisasi terkait hal ini, salah satunya dikarenakan sumber daya manusia yang dimiliki belum dapat mengcover seluruh wilayah Jawa Tengah.

“Kurang biaya dan SDM, Basarnas hanya ada si Semarang, Cilacap, Wonosobo, Jepara dan Solo,” terangnya

Kepala Badan SAR Nasional Jawa Tengah, Arif Sofingi, mengungkapkan peristiwa tenggelamnya dua bocah di Kabupaten Brebes ini bermula ketika korban Rujito (10) warga RT 1 RW 3 Desa Kaliwlingi serta Anwar (10) warga RT 3 RW 3 Desa Kaliwlingi dan kelima temannya bermain air dengan menggunakan ban dalam (tubing) di Sungai Pemali, Jumat (22/2/2019) pukul 14.00 WIB.

“Rujito kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari ban sehingga terbawa arus dan tenggelam. Anwar yang mengetahui temannya terjatuh berusaha menolong, namun dia terbawa arus juga,” ungkap Arif, Sabtu (23/2/2019).

Mendapat laporan kejadian ini, Basarnas Pos SAR Cilacap beserta tim SAR gabungan segera melakukan pencarian.

Kurang dari satu jam pencarian, korban Rujito berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, 10 meter dari lokasi tenggelam. Sementara Anwar belum ditemukan dan masih dalam proses pencarian.

“Saat ini upaya pencarian tim SAR gabungan diantaranya BPBD, Polsek, Koramil, PMI dan kelurga,” tambah Mulwahyono, Koordinator Kantor SAR Cilacap.

Mulwahyono juga mengatakan pencarian sempat dihentikan karena cuaca yang tidak mendukung, pencarian akan dilanjutkan kembali hari Sabtu dengan melakukan penyisiran dengan perahu karet dari TKP ke arah utara sejauh dua kilometer.

“Kondisi kedalaman Sungai Pemali kurang lebih empat meter, lebar mencapai sepuluh meter , cuaca cerah dan semoga korban cepat di temukan,” lanjutnya.

Masyarakat Wajib Mengingatkan

Berkaitan dengan tenggelamnya dua anak di Kabupaten Brebes, Advokat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Andreas Hijrah Airudin, mengatakan peristiwa seperti itu adalah bentuk minimnya rasa peduli dan perhatian masyarakat, khususya para orang tua.

“Harusnya masyarakat mencegah (bermain di sungai),” kata Andreas kepada Rumpan.id, Minggu (24/2/2019) malam.

Menurut Andreas, anak merupakan bagian dari generasi muda penerus bangsa yang memiliki peranan strategis untuk kemajuan negara.

Sebagai aset bangsa, anak-anak harus dijamin kesejahteraannya serta dilindungi dari segala bentuk kejahatan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial secara utuh, selaras dan seimbang.

Pasalnya, Andreas mengatakan, sebagai karunia Tuhan, anak juga diberkati dengan ciri dan sifat khusus, seperti belum memiliki pemahaman mana yang baik dan mana yang buruk serta belum cukup umur.

“Oleh karenanya, maka menjadi kewajiban seluruh bangsa untuk menjaga keselamatannya,” tegasnya.

Salah satu cara menjaganya, menurut Andreas, Polri melalui fungsi pembinaan masyarakat di tingkat terkecil dapat memberikan edukasi bahaya bermain air di sungai saat melakukan tugas sambang dan patroli Kamtibmas.
(Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here