SUMBER FOTO: Instagram Nahdlatul Ulama


Kabar duka datang dari Kota Suci Makkah (Mekah) al Mukarromah, Arab Saudi, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Maimoen Zubair atau Mbah Moen wafat, Selasa (6/8/2019) pukul 04.17.

Berdasar siaran pers NU di akun resmi Instagramnya @nahdlatululama disampaikan PBNU berduka sangat mendalam. Indonesia kehilangan tokoh panutan, pemimpin dan pengayom umat.

“Bangsa Indonesia kehilangan tokoh yang penuh sikap kebersahajaan. Semoga teladan almaghfurlah diteruskan pada kader-kader bangsa. Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafannya dan menempatkannya di surga yang terbaik,” tulis Sekretaris Jenderal PBNU A Helmy Faishal Zaini pada siaran pers yang disebarkan di Instagram resmi NU.

Dituliskan pula, kepada umat Islam, khususnya warga NU, diajak untuk bersama-sama melakukan salat gaib dan membacakan surat Al-Fatihah untuk K.H. Maimoen Zubair.

Beliau merupakan sosok yang gigih untuk memperjuangakan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Salah satu upaya penting yang dilakukan oleh K.H. Maimoen Zubair  adalah menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT atas perjuangan yang penuh dengan kesungguhan dan menghapus penjajahan.

“Semoga jejak keteladanan yang diwariskan oleh K.H Maimoen Zubair bisa kita serap sebagai pelajaran untuk menghadapi tantangan zaman di masa yang akan datang,” lanjut Helmy dalam rilisnya.

Mbah Moen wafat di usia 90 tahun, kelahiran  Rembang 12 Oktober 1928. Beliau merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang. Mbah Moen selain ulama juga politisi, sempat jadi anggota DPRD maupun MPR. Salah satu putranya, yakni Taj Yasin adalah Wakil Gubernur Jawa Tengah.   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here