FOTO EKA SETIAWAN
Rombongan emak-emak di samping elp ketika masuk di parkiran RSUD Kardinah Kota Tegal, Jumat (28/6/2019) sore.

Emak-emak pada ‘konteks’ media sosial, kerap jadi bahan bully-nan sebab kerap diposting ketika mengendarai motor matic dengan lampu sign ke kiri tapi beloknya ke kanan, selain postingan tetap melaju pelan di tengah jalan mengakibatkan kendaraan belakangnya harus ekstra sabar.

Di era-era Pilpres kemarin yang rame itu, emak-emak juga sempat jadi perhatian netizen ketika melakukan aksi protes. Mereka menamakan diri emak-emak militan.

Sebuah stereotipe yang ‘menggemaskan’ mengingat semua itu berujung pada pemaknaan serampangan bahwa tingkah emak-emak selalu berkonotasi negatif.

Tapi, apakah stereotipe emak-emak akan tetap seperti itu?

Saya punya jawaban dari peristiwa kecil yang saya temui sore tadi (Jumat 28/6/2019) di parkiran RSUD Kardinah Kota Tegal. Adalah ketika sebuah elp – kalau orang pantura menyebutnya, sebuah bus ukuran kecil, kerap juga disebut bus tuyul- memasuki parkiran.

Elp dengan kondisi ‘mengenaskan’ karena catnya sudah mengelupas sana sini, membawa rombongan emak-emak. Tentu saja, kehadiran emak-emak yang kalau ditaksir jumlahnya sekira 20 orang lebih itu, bukan dalam rangka demo Pilpres. Pastilah, nggak mungkin kan demo dilakukan di rumah sakit.

Kehadiran emak-emak itu tentu ingin membesuk koleganya yang sakit. Di pantura, rombongan semacam ini biasanya berasal dari satu kampung, satu kelompok arisan atau rombongan pengajian.

Seperti pada umumnya, emak-emak yang bergerombol itu memakai jilbab, sandal japit, kalau yang agak lumayan memakai sandal yang lebih bagus, beberapa menggandeng atau menggendong anaknya, kemudian heboh.

Heboh di sini ketika ada satu orang, semacam koordinator rombongan, mengumpulkan uang yang diberikan para emak tersebut. Itu bukan dalam rangka membayar bus carteran ya, tapi mereka mengumpulkan uang (mungkin dari memotong uang belanja harian, memotong tabungan atau memotong jatah suami) untuk diberikan kepada si sakit. Orang yang mereka besuk.

Peristiwa itu adalah potret, betapa ‘militannya’ emak-emak di pantura, kalau urusan membesuk keluarga, kolega, teman arisan atau teman pengajian.

Mereka begitu ‘down to earth’. Mereka tampil sangat apa adanya, rela berdesakan di elp dengan sesamanya, bahkan sampai rela duduk lesehan di dalam elp carteran demi sampai ke rumah sakit.

Sebuah misi kemanusiaan yang sangat mulia. Membesuk orang sakit sekaligus mengumpulkan uang (menyumbang seikhlasnya) untuk diberikan kepada si sakit tersebut.

Aktivitas mereka patut diacungi jempol. Mereka mungkin saja bisa bergosip tiap hari di warung sayuran, di gerombol pagi ketika membeli sarapan atau saat arisan.

Tapi mereka tidak melupakan satu hal yang sangat hakiki di kehidupan sosial: membesuk untuk memberikan dukungan moral, mendoakan si sakit agar cepat sembuh sekaligus memberikan dukungan materiil kepada si sakit dengan cara mengumpulkan uang.

Mungkin jumlahnya mungkin tak seberapa, tapi semangat kebersamaan itu tak ternilai harganya.

Jadi emak-emak itu tak hanya jadi bahan bully-nan ya, tapi lewat emak-emak kita belajar bagaimana saling peduli kepada sesama. Emak-emak seperti itu adalah emak-emak di Indonesia tercinta ini. Emak-emak yang hidupnya mau berbagi dengan sesamanya. (eka setiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here