Sabtu, 17 Agustus 2019, Republik Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-74 tahun. Warga negara ini gegap gempita merayakannya.

Tak terkecuali mereka yang menyandang status warga binaan pemasyarakatan (WBP). Di penjara, mereka juga berbahagia, apalagi yang menerima remisi.

Kebahagiaan lain juga terpancar dari di antara mereka hari itu. Seperti terlihat di Lapas Kelas I Semarang alias Lapas Kedungpane. Ketika itu Rumah Pancasila dan Klinik Hukum diundang untuk menghadiri penandatanganan MoU dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah.

Di salah satu tempat di komplek lapas, dipamerkan hasil karya para binaan. Ada akuarium, batik tulis, miniatur kapal, kursi kayu, sepatu, tote bag. Beberapa di antaranya juga main musik. Mereka antusias memamerkan hasil karyanya masing-masing.

Lebih dari itu, semangat mereka tetap berkarya di tengah keterbatasan itulah menjadi luar biasa.

Saya ketika itu melihat seorang binaan sedang membatik, motifnya wajah seorang pejabat. Kemudian saya tertarik untuk berbincang dengannya.

Beliau bercerita bahwa “Di lapas semua kegiatan yang bisa dikerjakan ya dikerjakan, sesuai kemampuan masing-masing,” kata pria yang belakangan saya ketahui bernama Mashudi (49) itu.

Dari kegiatan itu, ada sisi positif yang dilakukan para binaan di lapas. Aktivitas mereka berkarya, berkesenian, juga dapat mengubah stigma negatif masyarakat terhadap para binaan.

Tentu ada harapan besar, ketika mereka bebas dapat diterima oleh masyarakat Pemberdayaan para binaan di lapas salah contoh pengamalan sila ke-2 Pancasila: memanusiakan manusia apapun status mereka. (Edwin Ervandjie)

FOTO-FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN

membuat batik tulis

memamerkan miniatur kapal buatannya

membuat kursi


akuarium cantik
bermain musik menghibur acara



berseragam pramuka menyambut pejabat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here