FOTO RUMPAN.ID/ERNA VIRNIA
Henry Izuchukwu Frederick (paling kanan) bersama para napi berstatus WNA lainnya di Lapas Klas I Semarang, Sabtu (17/8/2019).


SEMARANG – Seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Nigeria Henry Izuchukwu Frederick (30) kepincut dengan budaya Jawa. Dia hafal betul lagu “Bengawan Solo”, ciptaan maestro keroncong Gesang.

Tak hanya hafal lirik dan notasinya, Henry juga perlahan memahami makna lagu itu. “Maknanya mengajarkan kita tentang sopan santun, ramah, rendah diri dan berbuat baik pada sesama,” kata dia saat ditemui rumpan.id di Lapas Klas I Semarang alias Lapas Kedungpane, Kamis (12/9/2019) siang.

Pada peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia lalu, Henry bersama beberapa napi yang berstatus WNA lainnya, menyanyikan lagu “Bengawan Solo” di depan para aparatur pemerintahan Jawa Tengah. Ketika itu diadakan seremonial pemberian remisi bagi narapidana.

“Saya bangga bisa pentas dan menyanyikan lagu Bengawan Solo,” katanya.

Henry berada di lapas tentu bukan dalam rangka kunjungan atau lainnya, melainkan sedang menjalani hukuman sebagai akibat dari perbuatannya terlibat peredaran gelap narkotika. Dia dihukum 12 tahun penjara.

Walaupun ada beberapa WNA di Lapas Kedungpane, Henry tahu betul harus berbaur dengan lainnya, yang kebanyakan orang Jawa. Jadi dia harus pandai bersosialisasi.

Dibantu pihak lapas maupun sesama napi, Henry akhirnya sudah bisa berbahasa Indonesia, meski belum sempurna. Itu jadi bekal buat dirinya berkomunikasi dengan teman-temannya sesama napi di lapas Kedungpane. 

Meski gembira sudah punya banyak teman, Henry juga sebenarnya menyimpan kesedihan. Dia kangen keluarganya. Tapi dia tahu betul kondisi saat ini jika keluarganya tidak ada yang membesuk. Di antaranya kondisi jarak yang memang sangat jauh dan tentu membutuhkan biaya besar untuk menempuhnya.

 “Saya berpesan kepada keluarga saya yang ada di Nigeria, Bapak dan Ibu di sana tidak usah khawatir, saya di sini di Lapas Semarang Jawa Tengah, Indonesia baik-baik saja, sehat wal afiat,” ucapnya.

Henry juga menceritakan pihak kedutaan Nigeria juga tidak pernah membesuknya. Tapi dia tetap sabar menunggu pihak dari kedutaan akan segera turun, dan memberikan hak-haknya. Seperti pendampingan ataupun membantu menguruskan permintaan peringanan hukuman hingga pengajuan grasi.

“Saya yakin mereka tahu, kalau ada saya dan teman-teman lainnya yang bernasib sama dengan saya ada di sini. Sekarang sudah ada pihak pengacaranya yang menguruskan semuanya, supaya ada perhatian dari pihak kedutaan kepada saya,” kata Henry.

Staf Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Kedungpane Fajar Sodik menyebut seluruh warga binaan mendapatkan hak yang sama, tak terkecuali para WNA.

“Mereka juga bagian dari kami, yang wajib kami bina, salah satu yang kami lakukan adalah dengan mengenalkan kebudayaan Jawa ini, supaya dia merasa dihargai,” jelas Fajar kepada rumpan.id.

Lebih lanjut Fajar menjelaskan budaya Jawa dikenalkan dan diajarkan kepada WNA karena kebetulan mereka ditempatkan di lapas yang berada di Provinsi Jawa Tengah ini. Fajar juga menjelaskan bahwa budaya Jawa itu banyak mengajarkan tentang kebaikan.

Seperti bagaimana saling menghormati kepada sesama, sopan santun, ramah, dan saling bertegur sapa dengan bahasa yang halus atau sopan sehingga secara otomatis itu akan membentuk karakter mereka menjadi lebih baik. Cara ini tentunya juga dapat membantu mereka dengan mudah berinteraksi dengan para binaan lainnya.

“Saya juga berharap dengan diperkenalkan kebudayaan Jawa, akan menjadikan mereka merasa dihargai, dan mereka juga tidak canggung untuk membaur kepada warga binaan yang lain, yang mayoritas orang Jawa,” pungkas Fajar.

Pembinaan Khusus

Di kesempatan lain Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Kemasyarakatan (Bimkemas) Lapas Kedungpane Ari Tris Octhia Sari menjelaskan bahwa selama ini pihaknya sering melakukan dialog bersama pimpinan dan jajaran terkait dengan pemberian hak kepada seluruh warga binaan, termasuk mereka yang WNA.

“Pembinaan khusus yang sering kami lakukan kepada mereka terutama narapidana warga negara asing, ya seperti untuk proses pengurusan Pembebasan Bersyarat (PB), remisi, dan lain sebagainya,” kata Octa, sapaan akrabnya, kepada rumpan.id saat ditemui Kamis siang.

Lebih lanjut Octa menjelaskan bahwa pembinaan yang diberikan kepada warga binaan terutama WNA ini dia sesuaikan dengan minat dan bakatnya, sehingga mereka nyaman menjalaninya.

Upaya pendekatan yang biasa dilakukan yaitu dengan mengumpulkan mereka tersendiri dalam sebuah forum, biasanya kami didampingi para penerjemah bahasa dengan memberdayakan warga binaan yang kebetulan juga bisa beberapa bahasa negara asing.

“Mereka ada sekitar 63 WNA, biasanya kami kumpulkan mereka dalam sebuah forum, sehingga dengan mudah kami bisa mengakomodasi permasalahan apa yang tengah warga binaan asing ini hadapi, dan kami juga bersama-sama mencarikan solusinya,” jelas Octa.

Masih disampaikan Octa, bahwa dalam pembinaan dirinya menjalankan sesuai dengan perintah Pancasila bagaimana memanusiakan manusia, dengan memberikan perhatikan kepada mereka, dan memberikan solusi dari masalah mereka dengan cara berdialog.

Octa juga menjalaskan bahwa tidak ada perbedaan yang menonjol dalam melayani para WB antara warga Indonesia dengan warga negara asing.

“Semuanya mendapat perlakuan sama, kami tidak membeda-bedakan. Memang tugas kami menjadikan mereka menjadi lebih baik, dan tidak mengulangi lagi perbuatannya ketika kelak kembali ke masyarakat,” kata Octa.

Ke depan Octa juga berharap bisa menjalin komunikasi dengan kantor kedutaan, supaya hak-hak WNA ini segera didapatkan dari negaranya, sehingga ada keadilan bagi mereka.

“Terutama bagi mereka yang tersandung kasus hukum, nah ini yang sedang kami komunikasikan dengan pusat dan pihak kedutaan agar hak-hak mereka dapat kami akomodir dan kami tahu tindak lanjut proses selanjutnya,” pungkas Octa. (erna virnia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here