Oleh: Ignatia Sulistya Hartanti                 (Seorang Ibu, Pegiat Kemanusiaan, Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum)

Sebagai seorang ibu yang punya anak masih sekolah, saya paham betul aktivitas anak saya. Terutama seputaran kegiatannya di sekolah, tugas-tugas, ulangan, atau kegiatan belajar lainnya yang dilakukan anak saya.

Saya menerka, hal ini juga dipahami ibu-ibu lainnya, orang tua murid, atau apapun wali murid tentang aktivitas belajar anak-anak mereka di sekolahan.

Berangkat dari situ, seperti yang saya alami, muncul berbagai keluhan dari orang tua murid terutama ibu-ibu tentang sekolahan. Keluhan itu adalah tentang banyaknya tugas atau pekerjaan rumah (PR) yang diberikan oleh guru di sekolah tempat anak-anak kami, anak-anak mereka, bersekolah

Tak hanya PR, jumlah ulangan juga tak kalah banyaknya. Bahkan terkadang, dalam sehari, anak harus menempuh 3 ulangan di sekolahan. Artinya, selain PR yang banyak, anak-anak tentu juga harus berpikir ekstra keras untuk mempersiapkan berbagai ulangan di sekolahan. Tentu saja, tujuannya agar nilai mata pelajaran tidak jeblok. 

Secara pribadi, saya berargumen rutinitas tugas dan ulangan yang diberikan para guru kepada anak-anak, malah justru menjadi beban berat.

Padahal, sudah seharusnya murid diberi keleluasaan waktu bahkan nikmatnya belajar dalam rangka mengembangkan wawasan ilmu mereka ketika berada di sekolah. Bukan hanya ditekan dengan banyaknya tugas dan ulangan. Tetapi, interaksi, permainan minat bakat, mungkin akan lebih menyenangkan bagi mereka. Pendidikan yang baik tak hanya soal nilai-nilai mata pelajaran.

Ini tentu saja karena melihat bahwa sehari-hari, waktu anak-anak itu memang lebih banyak dihabiskan di sekolah di bandingkan di rumah.

Maka, sudah seharusnya para pendidik dan pihak sekolah lebih mengutamakan bagaimana caranya agar anak didik bisa nyaman dalam menjalani proses pendidikan mereka di sekolahan.

Sebagai contoh di negara Finlandia, negara yang disebut memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Mereka telah lama menerapkan aturan tanpa PR dan ujian nasional di sekolah-sekolah yang mereka miliki, sebab guru dianggap sudah cukup paham dalam mengevaluasi murid-muridnya.

Dan satu hal yang paling mencolok di Finlandia adalah tidak ada sistem peringkat atau ranking, sebab pemerintah Finlandia meyakini bahwa semua siswa mempunyai potensi untuk menjadi yang terbaik.

Kita akan lihat hasil penelitian dari Universitas Oviedo Spanyol, bahwa tugas sekolah akan berdampak positif yang signifikan bagi pemahaman anak didik jika penyelesaian tugas itu hanya membutuhkan waktu sekitar 60 menit.

Penelitian lain dari Stanford Graduate School of Education, juga menemukan bahwa mengerjakan PR dan tugas selama lebih dari 3 jam setiap harinya akan memberikan efek negatif baik secara mental maupun fisik.

Mengacu dari dua penelitian ini dan mencontoh sistem pendidikan di negara Finlandia, maka alangkah bijaksana apabila di negara Indonesia bisa diterapkan sistem pendidikan sekolah seperti itu.  

Sistem pendidikan yang memperhatikan secara benar bagaimana anak didik bisa mengembangkan seluruh potensi mereka tanpa tertekan banyaknya tugas-tugas sekolah dan ulangan untuk mereka selesaikan setiap harinya.

Sesuai dengan filosofi Pancasila sila ke-2, bahwa kita harus merawat kemanusiaan di bumi Indonesia. Maka, mulai sekarang sudah seharusnya kita memikirkan bagaimana kita bisa merawat semua anak didik di Indonesia baik secara mental maupun secara fisik.

Salah satu caranya, dengan memberikan hal bijak dalam penerapan tugas sekolah dan evaluasi pembelajaran untuk mereka. Sebab, jangan lupa, di tangan merekalah nantinya kita akan mempertaruhkan masa depan bangsa ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here