FOTO DOKUMENTASI LAPAS SRAGEN
Kepala Lapas Kelas IIA Sragen Yosep Yambise (berseragam – empat dari kanan) bersama keluarga warga binaan Lapas Sragen


SEMARANG – Pancasila bukan hanya hiasan dinding, tapi nilai-nilainya harus diamalkan betul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Seperti dilakukan Kepala Lapas Kelas IIA Sragen, Yosep Yambise.

Pria asli Papua itu tahu betul bagaimana Pancasila itu amat penting diamalkan nilainya, khususnya ketika dihadapkan dengan berbagai perbedaan yang ada di Indonesia.

Sebab itu, pihaknya menginisasi membuat kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan kepada seluruh pegawai baik pejabat maupun staf lapas yang dipimpinnya pada Minggu (4/8/2019) di Lapas Sragen.

Kegiatan itu dilakukan secara kontinyu, termasuk menggandeng instansi luar, salah satunya Komando Daerah Militer (Kodim) 0725/Sragen.

Peserta sosialisasi wawasan kebangsaan itu juga tentunya para warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Sragen. Perbedaan status bukan jadi alasan untuk diskriminasi.

“Motto hidup saya memanusiakan manusia, jadi tidak ada diskriminasi apapun status mereka,” kata Kalapas Kelas IIA Sragen Yosep Yambise via telepon dengan rumpan.id, Senin (5/8/2019) siang.

Kehangatan bersama para pejabat dan staf termasuk warga binaan di Lapas Sragen dalam kegiatan sosialisasi bahaya narkoba lewat pembagian stiker.

Soal pentingnya menyebarkan wawasan kebangsaan tentang nilai-nilai Pancasila, Yosep mengatakan saat ini ada fenomena pergeseran nilai-nilai itu dari kelompok-kelompok yang tidak menghargai kebhinnekaan atau perbedaan di Indonesia.

“Sebab itulah, nilai-nilai Pancasila harus terus disebarkan oleh banyak pihak, bersama-sama menyebarkan kebaikan,” lanjutnya.

Yosep Yambise tercatat pernah menjadi Kalapas Nabire di Papua pada 2014-2017 kemudian Kalapas Manokwari Papua Barat tahun 2017-2018. Sementara menjabat Kalapas Sragen terhitung sejak September 2018.

Hapus Stigma Negatif

Dia mengaku prihatin ketika masih ada anggapan dari masyarakat luas bahwa narapidana alias orang-orang yang menghuni Lapas itu semuanya adalah penjahat. 

“Tidak semua orang yang dipenjara itu penjahat dan tidak semua orang di luar penjara itu baik, karena kita manusia tidak ada yang sempurna,” tegasnya.

Berangkat dari situ, Yosep Yambise, juga menginisiasi berbagai kegiatan di luar yang melibatkan masyarakat luas, para pejabat kabupaten dan tentunya warga binaannya.

Di antaranya; kerja bakti mengecat masjid agung setempat, sampai membersihkan alun-alun bersama masyarkat lainnya. Warga binaan yang diajak tentu mereka yang sudah dalam proses asimilasi atau jelang bebas. 

“Mereka (WBP) sering kita libatkan dalam agenda bersama seperti kerja bakti bersama TNI Polri, di lingkungan Pemerintah Sragen,” katanya.

Dukungan Kodim Sragen

Sementara itu, Komandan Kodim Sragen, Letkol Kavaleri Luluk Setyanto, mengemukakan bahwa perbedaan di Indonesia itulah yang memperkuat sekaligus membuat Indonesia jadi indah.

“Keberagaman itu seperti warna yang beraneka ragam, yang menyusun pelangi yang indah di Nusantara,” kata Luluk via telepon dengan rumpan.id, Senin petang. 

SUMBER FOTO: Instagram
Komandan Kodim Sragen Letnan Kolonel Kavaleri Luluk Setyanto

Sebab itulah, Luluk amat mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, terutama wawasan kebangsaan terkait pengamalan Pancasila. Dia menyebut dari 5 sila Pancasila dan isi 45 butirnya, tidak ada satupun yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.

“Sekarang masih ada fenomena warga suka main hakim sendiri, mencaci orang, menghujat orang, menjelek-jelekkan orang. Itu bukti Pancasila belum diamalkan secara konkrit,” tegasnya.

Luluk juga sepakat untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan itu, tentunya tidak ada diskriminasi. Sebab itu pihaknya sangat antusias dan berpartisipasi aktif ketika digandeng pihak Lapas Sragen dalam kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan. Ada harapan, yakni dengan perbedaan yang mereka punya, mereka bisa jadi contoh bagaimana hidup dalam keberagaman sekaligus membina warga binaannya, melayani tanpa diskriminasi.

“Di Sragen ini, kami selalu menggiatkan wawasan kebangsaan utamanya pengamalan Pancasila, seperti ke sekolah-sekolah, di upacara tiap hari Senin, itu kami kerjakan kontinyu. Tidak ada lagi pedoman hidup yang bisa menyatukan di Indonesia kecuali Pancasila,” tandasnya.  (erna virnia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here