FOTO-FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Ahmadi, warga binaan pemasyarakatan Lapas Kelas I Semarang yang bertugas menjaga perpustakan di sana.

Sabtu (17/8/2019) menjelang zuhur, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, di Lapas Kelas I Semarang alias Lapas Kedungpane sedang digelar kegiatan pemberian remisi secara simbolis kepada para narapidana penerimanya. Lokasinya di aula.

Ada berbagai pejabat hadir di sana, termasuk beberapa warga binaan setempat yang ditugasi bermain musik untuk hiburan, perwakilan penerima remisi sampai beberapa napi berstatus warga negara asing (WNA) mengenakan pakaian adat Jawa.

Tak jauh dari sana, hanya beberapa meter saja dari acara, Ahmadi (42) duduk sendirian.

Ahmadi saat itu berada di Perpustakaan Cendekia. Satu-satunya perpustakaan di komplek Lapas Kedungpane. Ahmadi adalah warga binaan yang ditugaskan menjadi penjaga perpustakaan di sana.

Ketika ditemui rumpan.id, Ahmadi menggunakan kaus potongan tanpa lengan warna kuning, itu menyebabkan tato yang memenuhi kedua tangannya terlihat jelas.

Wajahnya sumringah ketika menemui kami.

“Saya penjaga perpustakaan di sini,” katanya ramah menyambut.

Di ruang tak begitu besar itu, Ahmadi pula yang merapikan buku, menyapu ruangan sampai mencatat siapa-siapa saja peminjam buku di sana.

“Daripada nggak ada kerjaan diam di kamar saja (sel), saya tiap harinya di sini. Diminta Pak Iming Susanto (napi) membantu di sini,” ceritanya.

Setiap harinya, dia membuka perpustakaan biasa mulai sekira pukul 9 pagi dan tutup setelah waktu asar. Ada berbagai buku di situ, mulai dari buku soal bisnis, pengetahuan umum, sampai buku-buku agama.

Ahmadi bercerita, biasanya para napi datang ke perpus 6 sampai 7 orang tiap harinya. Paling banyak sore hari. Mereka yang datang ke perpustakaan berangkat dari berbagai kasus, mulai dari pidana umum, narkoba, korupsi sampai terorisme.

“Napi teroris juga sering ke sini, pinjam buku-buku agama (tentang Islam). Kalau untuk pinjam, semuanya boleh (napi). Bisa dibawa ke kamar (sel), bisa sampai seminggu, nanti kalau sudah selesai dibaca dikembalikan lagi ke sini,” bebernya.

membaca buku sambil berjaga

Adanya buku-buku di perpustakaan itu menurut Ahmadi punya banyak manfaat. Salah satunya, bisa mendalami ilmu agama lewat bacaan. Itu pula yang dilakukan Ahmadi, ketika ditemui rumpan.id tampak dia sedang membaca sebuah buku tuntunan ibadah.

“Saya sedang hafalkan niat salat, pingin salat 5 waktu. Saya sudah pingin istirahat (dari kejahatan),” ungkapnya.

Ingin Pindah Nusakambangan

Ahmadi yang tersangkut kasus peredaran gelap narkotika juga menerima remisi dari pemerintah. Di Jawa Tengah, total penerima remisi berjumlah 6.556 napi, terbagi atas 6.438 Remisi Umum I artinya tak langsung bebas dan 208 di antaranya menerima Remisi Umum II alias langsung bebas.

Sementara di Lapas Kedungpane, tempat Ahmadi mendekam, totalnya yang menerima remisi 565 napi, terinci RU I sebanyak 547 orang dan RU II sebanyak 18 orang.

Ahmadi adalah salah satu penerima remisi itu, meski tak ikut seremoni di aula. Dia menerima remisi 3 bulan. “Kalau tahun 2018 dapat remisi 1,5bulan,” tambahnya.

merapikan koleksi buku perpustakaan

Vonisnya 8 tahun 2 bulan, karena jadi pengedar sabu. Dia sebelumnya ditangkap Polres Cilacap, mulai mendekam di penjara pada tahun 2017.  Sebelum di Kedungpane, Ahmadi sempat dipenjara di Cilacap, Lapas Pekalongan lalu dipindah ke Rutan Purbalingga.

Dia dipindah dari Lapas Pekalongan karena lapas itu kebanjiran. Sementara dari Purbalingga dipindah ke Kedungpane karena di Purbalingga overkapasitas hunian terlalu tinggi, juga statusnya masih Rutan.

Ini adalah kali keduanya masuk penjara gara-gara narkoba. Sebelumnya, ditangkap pada tahun 2011 bebas tahun 2017. Artinya tak lama setelah bebas, Ahmadi kembali terjerat kasus yang sama.

Dia mengaku betul-betul kapok berurusan dengan narkoba. Penghuni Blok C itu mengaku setahun ini, belum pernah dibesuk oleh istri maupun anak-anaknya.

Istrinya seorang tukang pijat, harus menghidupi ketiga anak mereka, paling besar kelas 2 SMP, disusul 1 SMP dan paling kecil masih duduk di kelas 4 SD.

“Karena jauh banget ya, jadi belum bisa besuk (keluarganya tinggal di Cilacap),” ungkapnya.

Sebab itu, Ahmadi sangat ingin pindah Lapas. Dia ingin dipindah ke Lapas di Nusakambangan sana. Keinginannya itu sempat diutarakan ke petugas pos atau jaga blok, tapi sejauh ini belum mendapat tanggapan.

“Saya pingin ngadep Pak KPLP (Kepala Pengamanan), saya pingin dipindah ke Nusakambangan, biar dekat dengan keluarga. Kasihan mereka,” harapnya. (eka setiawan)      

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here