Advokat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang ketika bertemu dengan seorang narapidana kasus peredaran narkotika di Lapas Klas IIB Pati, Minggu (15/9/2019).

SEMARANG – Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang melakukan pendampingan hukum kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Klas IIB Pati, seorang narapidana atas nama Thomas Millyen kasus narkotika dengan hukuman 20 tahun penjara.

Pendampingan tersebut diketuai oleh Advokat Muhammad Amal Lutfiansyah, Advokat Ephin Apriyandanu, Advokat Alif Abdurrahman, dan Advokat Roni Gunawan Raja Gukguk.

“Iya alhamdulillah kemarin (Minggu 15 September 2019) kami diterima dengan baik oleh petugas lapas, dari awal kami datang sampai selesai kami bertemu dengan klien kami,” ungkap Lutfi kepada tim rumpan.id saat ditemui Senin (16/9/2019) sore.

Lebih lanjut Lutfi menjelaskan bahwa pendampingan kepada Thomas merupakan proses awal, setelah sebelumnya Thomas berkomunikasi dengan Rumah Pancasila untuk dibantu terkait dengan masalah hukum yang menjeratnya.

Lutfi juga mengakui bahwa dirinya dan tim tengah mengumpulkan sejumlah alat bukti seperti salinan putusan pengadilan, untuk langkah selanjutnya.

“Karena alat bukti itu yang utama ya, kebetulan kemarin calon klien kami belum menyiapkan itu semua, katanya belum diantar oleh pihak keluarga, jadi kami masih menunggu,” kata Lutfi.

Pasien stroke

Sementara itu Advokat Ephin Apriyandanu juga bercerita kepada tim rumpan.id bahwa dirinya beserta tim diterima sangat baik oleh pihak Lapas sejak awal mereka datang ke Lapas Klas IIB Pati dari Semarang.

Pemandangan lain saat di Lapas pun menarik perhatian tim saat tengah menunggu petugas jaga mengizinkannya masuk bertemu dengan klien.

“Jadi saat kami sampai di lapas, ada cewek di depan, saya pikir keluarga napi, ternyata itu dokter petugas jaga di lapas yang sedang menunggu kedatangan WBP yang kebetulan habis di rawat di Rumah Sakit (RS) Soewondo,” jelas Ephin.

Ephin juga menjelaskan bahwa setelah tim bertanya kepada petugas jaga lapas, kebetulan agenda minggu itu dokter cantik di Lapas Klas IIB Pati tengah menunggu pasien penderita stroke yang merupakan salah satu WBP pulang dari RS Soewondo Pati.

Dengan didampingi para keluarganya dan juga petugas, WBP diantar kembali ke Lapas setelah selama 3 hari mendapat perawatan intensif di RS atas rujukan dari dokter lapas.

Dengan sangat humanis para petugas melayani para tamu yang datang dan juga tentunya kepada keluarga yang tengah membesuk para WBP. Pihak keluarga WBP juga mengakui bahwa Lapas Pati selama ini selalu memberikan haknya kepada WBP, termasuk izin perawatan kepada WBP yang kebetulan tengah sakit.

“Iya kemaren saya juga bertanya kepada pihak keluarga, katanya memang dari awal sudah menyampaikan kondisi kesehatan WBP tersebut, dan pihak Lapas sejak awal telah memberikan hak-haknya sehingga pihak keluarga juga bisa turut membantu untuk merawat dan mengawasi WBP yang tengah sakit itu,” pungkas Ephin.

Pada bagian lain,Kepala Sub Seksi Registrasi dan Binkesmas Lapas Pati Krismianto menyatakan bahwa dalam melayani seluruh warga binaan pemasyarakatan penghuni lapas, pihak keluarga dan juga advokat yang mendampingi para napi sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) lapas.  

“Iya memang itu bagian dari tugas kami sesuai slogan kami melayani bagi warga binaan pemasyarakatan yang ada di lapas ini,” jelas Krismianto kepada tim rumpan.id melalui sambungan telepon pada Selasa (17/9/2019) pagi.

Pelayanan yang diberikan termasuk kepada narapidana yang dalam kondisi sakit. Karena keterbatasan sarana prasarana yang dimiliki, maka pihak lapas akan merujuk WBP yang tengah sakit dan keadaan darurat.

Sejak awal masuk pihak lapas selalu mendata riwayat kesehatan daripada napi, untuk memastikan apakah telah memiliki asuransi kesehatan seperti BPJS Kesehatan atau yang lainnya.

Pendataan ini juga dilakukan secara berkala untuk update kepemilikan BPJS terutama bagi para napi-napi yang sudah lama dan sudah usia lanjut.

“biasanya kami akan berkoordinasi dengan pihak keluarganya, supaya mereka para napi juga terfasilitasi dengan baik ketika dari mereka ada yang sakit, atau butuh perawatan khusus, jadi kepemilikan BPJS ini sangat membantu untuk kami teruskan ke rumah sakit milik pemerintah,” ungkapnya.

Lebih lanjut Krismianto juga menjelaskan bahwa sudah menjadi komitmen petugas lapas untuk melayani setiap warga binaan yang sudah mempunyai putusan inckraht dari pengadilan. Sehingga semua hak-haknya akan diberikan.

Di antaranya; pemberian remisi atau mengusulkan pemberian remisi kepada para napi yang sudah menjalani masa hukuman selama 6 bulan. Selain itu pihak lapas juga akan mengusulkan pembebasan bersyarat bagi napi yang telah memenuhi syarat administrasi dan sudah menjalani hukuman selama 1 tahun 8 bulan.

“Biasanya kami juga akan mengusulkan integrasi atau cuti bersyarat (CB) jika memang napi ini memenuhi syarat,” kata Krismianto.

Masih disampaikan Krismianto bahwa penjara kini tidak seperti dulu, jika dulu keluarga yang membesuk para napi dibatasi dengan jeruji besi, dan hanya bisa menyentuh tangan.

Namun kini semua lapas telah memberikan ruang untuk mempertemukan mereka para napi dengan pihak keluarganya atau kuasa hukumnya, tentunya dengan pengawasan dari pihak petugas.

Pelayanan itupun dilakukan saat jam-jam kerja yaitu hari aktif Senin-Sabtu, kecuali kunjungan dari pihak keluarga atau advokat yang sudah mendapat izin dari kantor wilayah, dan jika kondisi memungkinkan maka hari Minggu akan dilayani.

“Iya kalau dulu kan hanya bisa pegangan tangan karena terhalang jeruji besi, kini para napi orang tua bisa menerima kunjungan dari keluarganya, dan juga bisa menggendong anaknya, karena memang kami fasilitasi tempatnya,” ungkap Krismanto. (erna virnia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here