FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Pasar Malam Dugderan Semarang sudah mulai digelar di pekan ke-4 bulan April 2019 ini. Lokasinya di Kawasan Johar Kota Semarang. Foto diambil Minggu (28/4/2019) malam.

SEMARANG — Kira-kira sepekan lagi, sudah masuk bulan Ramadan. Bulan yang bagi umat Muslim menjadi istimewa, karena ada kewajiban berpuasa selama sebulan penuh.

Di Indonesia, kedatangan Ramadan ada berbagai tradisi menyambutnya. Salah satunya di Kota Semarang.

Di ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini, ada tradisi Dugderan. Tradisi ini ada rangkaiannya, ditandai dengan digelarnya Pasar Dugderan hingga nanti Kirab Dugderan yang jadi tanda H-1 Ramadan alias esoknya sudah mulai puasa. Tradisi Dugderan ini sudah ada lebih dari satu abad yang lalu. Tepatnya sudah 135 tahun.

Sejarah mencatat, tradisi ini diawali pada tahun 1882 saat Semarang masih wilayah Kebupatian, dipimpin Bupati Raden Mas Tumenggung (RMT) Arya Purbaningrat. Dugder adalah singkatan dari dug sebagai bunyi bedug, dan der adalah bunyi petasan. Sebagai penanda bahwa esok hari Ramadan sudah tiba.

Sementara Pasar Dugderan adalah rangkaian tradisi sebelum acara puncak tersebut. Di gelar sekira sepekan dan berakhir saat akan digelar Kirab Dugderan.

Nah saat ini, Pasar Dugderan sudah mulai digelar di Kota Semarang saat ini. Coba saja tengok di Kawasan Pasar Johar Semarang, dekat Masjid Agung Kota Semarang.

Pasar itu diwarnai dengan adanya berbagai wahana permainan, misalnya; kora-kora, komedi putar, tong setan sampai bianglala.

Pedagang Pasar Dugderan juga menjajakan berbagai jajanan sampai mainan anak-anak, mulai dari alat masak-masakan, kapal otok otok, juga gangsingan. Salah satu yang khas pedagang Dugderan adalah mainan dari gerabah.

Semuanya tumpah ruah di sana, penuh suka cita. Tak peduli orang mana, termasuk para warga keturunan Tionghoa, maklum di dekat lokasi itu adalah Kawasan Pecinan. Semuanya berbaur, baik jadi penjual maupun pengunjung Pasar Dugderan.

Slamet, salah satu penjual kapal otok-otok di pasar malam mengaku mengambil barang jualannya dari seorang teman.

“Itu buatan Brebes,” kata dia.

Penjual lainnya, Suhardi, mengaku berasal dari Yogyakarta. Tiap harinya dia berjualan aneka kerajinan bambu, termasuk mainan gangsing.

Biasanya dia berjualan di Kawasan Simpanglima Kota Semarang, namun kali ini karena ada Pasar Malam Dugderan, dia berpindah jualan. Berjalan kaki, Suhardi memikul dagangannya. Dijual dari Rp4000 sampai paling mahal Rp40ribu.

“Uangnya saya gunakan untuk menafkahi keluarga,” kata pria paruh baya tersebut.

Dia bangga, karena hasil kerja kerasnya bisa digunakan untuk membiayai kuliah anaknya di Yogyakarta. Sudah jadi sarjana ekonomi. Tapi Suhardi masih punya anak yang masih SMA, sehingga dia tetap bertekad bekerja keras untuk membiayai sekolah anaknya itu.

Setiap harinya, Suhardi mengaku tidur di Masjid Baiturrahman Kawasan Simpanglima Kota Semarang. Kalau dagangannya sudah habis, Suhardi akan pulang ke Yogyakarta, mengambil dagangan baru sekaligus memberi uang hasil jualannya di Semarang kepada keluarganya.

Pasar Malam Dugderan adalah potret bagaimana warga Semarang hidup dalam kerukunan, meski berbeda latar belakang. Semuanya bersuka cita, bergembira di sini, baik yang mencari rezeki maupun yang mencari hiburan.

Sesekali cobalah main ke Pasar Malam Dugderan Semarang, sekaligus bernostalgia dengan masa kecil lewat berbagai mainan tradisional yang sudah jarang ditemui. (eka setiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here