Napi Lapas Kedungpane dilatih Membatik

FOTO DOK. HUMAS LAPAS KELAS I SEMARANG
Kepala Lapas Kelas I Semarang, Dadi Mulyadi, bersama timnya saat membuka kegiatan pelatihan batik tulis pewarnaan alami bagi para warga binaan pemasyarakatan setempat, Selasa (12/2/2019).

SEMARANG – Salah satu fungsi lembaga pemasyarakatan (lapas) adalah mempersiapkan warga binaannya untuk bisa hidup secara baik saat kembali ke tengah-tengah masyarakat pascabebas nanti.

Salah satunya, memberikan keterampilan untuk nantinya diharapkan bisa jadi modal mereka memperoleh penghasilan. Di sini, masyarakat tentu harus ambil bagian. Menerima keberadaan mereka, bahkan mau saling bantu, tak terkecuali ketika para warga binaan pemasyarakatan (WBP) masih berada di balik jeruji. 

Hal itu tercermin pada kegiatan pelatihan membuat batik tulis di Lapas Kelas I Semarang, yang secara resmi mulai dibuka Selasa (12/2/2019). Pihak lapas menggandeng perajin batik, untuk melatih WBP-nya.

Kepala Lapas Kelas I Semarang, Dadi Mulyadi, mengatakan ada 25 WBP yang mengikuti pelatihan membuat batik tulis ini.

“Semoga pelatihan ini dapat memotivasi WBP untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas serta kuantitas mutu hasil batik khas Lapas Kelas I Semarang,” kata Dadi, melalui siaran pers yang diterima rumpan.id, Selasa (12/2/2019) sore.

Jika kualitas dan kuantitas sudah terpenuhi, sebut Dadi, diharapkan produk batik khas Lapas Kelas I Semarang ini bisa digemari pecinta batik, baik lingkup lokal maupun luar lapas.

Dadi juga mengatakan, dalam pelatihan tersebut pihaknya juga mengadakan kerja sama dengan Butik Kinanthi atau Wastra Batik Semarang yang sudah berpengalaman perihal batik tulis dengan menggunakan bahan alami.

“Saya ucapkan terimakasih kepada Wastra Batik yang sudah berkenan berbagi ilmunya,” sambungnya.

Pelatihan batik tulis ini secara resmi dibuka oleh Kepala Lapas didampingi Kepala Bidang (Kabid) Kegiatan Kerja, Kabid Pembinaan, Kepala Seksi (Kasie) Bimbingan Pemasyarakatan serta Kasie Bimbingan Kerja.

Kabid Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Semarang, Susi Pohan, optimis dengan ciri khasnya sendiri, batik tulis dapat bersaing dan disegani khalayak.

“Apalagi menggunakan pewarna alami. Hasilnya lebih eksklusif, harapannya mampu bersaing dan disegani,” terang Susi.

Salah satu WBP Lapas Kelas I Semarang tampak sedang membuat batik tulis, Rabu (13/2/2019).

Dihubungi terpisah, Pemilik Wastra Batik atau Batik Kinanthi, Olif, mengungkapkan semangatnya berbagi keterampilan kepada para WBP alias narapidana itu adalah diharapkan bisa jadi modal ketika mereka sudah bebas.

“Modal batik tulis murah, Rp200ribu saja sudah cukup,” kata Olif sapaan akrabnya kepada rumpan.id, Selasa (12/2/2019) petang. 

Melihat hasil yang telah dibuat, Olif yakin batik tulis yang dihasilkan oleh para WBP di Lapas Kelas I Semarang itu mampu bersaing dengan perajin batik tulis lainnya.

“Beberapa orang (warga binaan), batik pertamanya sudah bagus,” lanjutnya menilai.

Olif (paling kiri) bersama para WBP yang terlihat memamerkan batik tulis hasil karya mereka di Lapas Kelas I Semarang

Olif ini bukan kali pertama berbagi keterampilan membuat batik tulis kepada khalayak. Salah satunya, juga melatih para eks pecandu narkotika ketika bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah.

Pada bagian lain, jumlah penghuni Lapas Kelas I Semarang sendiri per Selasa 12 Februari 2019 dihuni oleh 1.805 orang, terbagi 1.173 berstatus narapidana dan 632 orang berstatus tahanan. Jumlah ini overkapasitas, mengingat kapasitas Lapas Kelas I Semarang hanya 663 orang. Data ini didapat dari Sistem Database Pemasyarakatan yang diakses secara online. (Sutrisno)

Mereduksi Niat Jahat

Advokat dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Dwi Jayanti Setyaningrum, berargumen pada hakikatnya warga binaan pemasyarakatan (WBP) merupakan insan dan sumber daya manusia yang ada di Indonesia.

Sebab itulah, mereka tentu harus diperlakukan secara manusiawi, sebagaimana perintah Pancasila dalam rangka merawat kemanusiaan. Pembinaannya dilakukan terpadu, antara pembina, yang dibina dan masyarakat secara umum. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas WBP.

Dia menegaskan fungsi lembaga pemasyarakatan (lapas) harus mengutamakan pembinaan daripada penyiksaan sebagaimana konsiderans Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan

“Konsideransnya seperti itu,” kata dia kepada rumpan.id, Kamis (14/2/2019).

Menurutnya, program yang dilakukan Lapas Kelas I Semarang merupakan langkah untuk membina kepribadian dan kemandirian.

Relaksasi program pembinaan seperti ini, menurutnya dapat membuka ruang dalam membina dan berupaya membekali narapidana agar bisa kembali masuk ke masyarakat.

“Narapidana juga manusia yang harus dihargai hak kemanusiaannya  termasuk hak-haknya untuk menikmati dan mempertahankan kehidupan yang manusiawi,” terang Dwi.

Dengan demikian, Dwi mengungkapkan, lapas telah berperan dengan cara yang selaras dengan perikemanusiaan (humanitas) dengan merawat manusia yang cedera intelektualnya melalui pembinaan dan pemulihan selama menjalani pembinaan di dalam lapas.

“Hukum harus membantu manusia berkembang sesuai kodrat dan porsinya, serta harus memajukan kebaikan kemanusiaan,” lanjutnya

Advokat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Dwi Jayanti Setyaningrum

Dwi berargumen memperkeras bentuk hukuman sampai menimbulkan efek jera bukanlah satu-satunya cara ampuh guna meredam kejahatan. Cara lain bisa dilakukan, contohnya; memperlakukan narapiana secara manusiawi dengan mereduksi niat jahat yang masih tertanam di pikiran mereka.

Jika itu sudah dan terus dilakukan, maka WBP akan merasa terlindungi dan terpenuhi hak asasi manusianya selama menjalani masa pembinaan.

Dengan begitu, dia berharap, saat WBP ini kembali ke masyarakat pascabebas, dapat menjadi pribadi yang mampu menjunjung nilai-nilai Pancasila sekaligus turut serta dalam memperkokoh rumah Indonesia yang damai, tenteram dan sejahtera.

“Pidana kurungan tahanan, cukuplah menjadi siksaan satu-satunya yang harus dijalani seorang warga binaan,” tegas Dwi. (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here