Seorang pemulung terlihat beristirahat melepas lelah di depan Wisma Perdamaian, Kawasan Tugu Muda, Kota Semarang, Rabu (29/5/2019) petang.

Di tengah hingar-bingar perkotaan, masih ada sebagian warga yang lusuh. Mereka mengais rezeki dari sisa-sisa euforia warga urban. Dari plastik kemasan bekas makanan atau minuman, kardus, atau barang buangan lain yang bisa diolah menjadi rupiah.

Mereka memang kaum marjinal, tapi tidak untuk dikesampingkan. Sebagai warga yang memegang teguh Pancasila, sudah selayaknya untuk saling membantu. Tidak melulu berbentuk rupiah. Memberikan lapangan pekerjaan, lebih efektif. Agar mereka tidak lagi hidup di jalanan.

Setidaknya, agar uang mereka tidak langsung habis untuk membeli sebungkus nasi. Ada rupiah yang disisakan untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Mendapatkan pendidikan formal yang layak, untuk kemudian mendapatkan pekerjaan lebih baik.

Pemerintah pun perlu turun tangan. Bukan untuk menyingkrikan agar tidak mengotori kota. Tapi diberikan pelatihan agar pantas menyandang predikat tenaga kerja di kancah industri. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here