FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti, bersama tim ketika memberikan bantuan ke Kasti (75), di Kalikayen, Kabupaten Semarang, Minggu (10/3/2019).

SEMARANG – Tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang kembali memberikan bantuan kepada warga kurang mampu. Minggu (10/3/2019) siang, tim yang dinakhodai Theodorus Yosep Parera bertandang ke lima warga kurang mampu untuk memberikan bantuan berupa uang tunai dan seonggok sembako. Semuanya janda yang sudah berumur. Tinggalnya di rumah yang jauh dari sebutan layak.

Sugiyem (60), yang berdomisili di Jalan Ngesrep Barat Dalam IV, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang menjadi tujuan pertama. Dua mobil yang mengangkut delapan personel Tim Rumah Pancasila harus parkir agak jauh dari rumah Sugiyem, berada di salah satu sudut jalan buntu.

Dewan Pengawas  Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Ignatia Sulistya Hartanti, Ketua Rumah Pancasila Michael Adhitya Reksawardana, dan Pimpinan Redaksi Rumpan.id Erna Virnia, ikut dalam penyerahan bantuan. Mereka menyalami dan menanyakan kabar Sugiyem ketika sampai di rumah berdinding papan kayu tersebut.

Rumah Sugiyem yang lebarnya hanya sekira 3 meter, tidak cukup menampung semua tim Rumah Pancasila yang datang siang itu. Sugiyem tinggal sendirian di sana.

Bantuan berupa uang tunai dan sembako, diberikan di ruang tamu, yang sekaligus difungsikan jadi kamar tidur Sugiyem. Nenek yang menjadi pembantu rumah tangga untuk mendapatkan penghasilan itu mengucapkan terimakasih kepada Yosep Parera sebelum tim melanjutkan perjalanan untuk membantu warga lain.

Selepas berpamitan dengan Sugiyem, tim menuju tempat tinggal Semi (61), Jalan Ngesrep Timur IV, tak jauh dari lokasi pertama.

Sepetak ruangan yang ditempati Sugiyem dan 1 putranya itu sebenarnya tidak layak disebut rumah. Sebab awalnya, bangunan kecil dari papan itu digunakan untuk tempat jualan.

Persis seperti bangunan di sebelah kanan-kiri tempat tinggal Sugiyem yang digunakan untuk warung makan, tempat usaha menjahit, dan lain sebagainya.

“Dulu, saya kontrak di rumah orang. Ini untuk jualan. Tapi kontraknya sudah habis dan terpaksa tinggal di sini. Kalau ada uang, penginnya mau cari kos-kosan saja,” ucapnya.

Dari rumah Semi, tim bertandang ke rumah Kasti (75). Letaknya di bilangan Lengkongsari, Kalikayen, Kabupaten Semarang.

FOTO RUMPAN.ID/Ajie Mahendra
Ketua Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Michael Adhitya Reksawardana, menyerahkan bantuan sembako kepada Kasti.

Kasti tinggal sendirian di rumah dari papan kayu yang sebagian sudah tampak rapuh. Tidak ada keramik atau cor semen untuk alas rumah.

Di rumah itu hanya tersedia sepetak ruangan yang digunakannya untuk melakukan aktivitas Semi.

Tidak ada kamar mandi. Kalau mau mandi atau buang air kecil, Kasti memilih pergi ke tetangga, atau sungai yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Selesai memberikan bantuan, tim menuju kediaman Rebi (70) yang letaknya cukup dekat dari tempat tinggal Semi. Rumah kayu yang dihuni Rebi, hanya bisa diakses dengan jalan kaki.

Rebi yang mengaku sering sakit-sakitan, memang butuh ulutan tangan. Sebab, dia sudah tidak bisa mencari penghasilan. Kebutuhan hidupnya ditopang oleh cucu yang tinggal satu rumah dengannya. Itu pun tidak bisa diandalkan karena cucunya bekerja sebagai buruh bangunan musiman.

Sementara Jumirah (80) yang juga tinggal di bilangan Lengkongsari, masih satu wilayah, menjadi penerima bantuan terakhir siang itu. Nenek yang mengaku sudah punya banyak buyut ini cukup supel. Dia tampak bahagia menerima tim Rumah Pancasila.

“Silakan duduk, jangan berdiri,” ucap nenek yang sudah tidak berdiri ini ketika menyambut tim Rumah Pancasila.

Dia pun berbagi cerita tentang kehidupannya. “Dulu saya hampir setiap hari ke Semarang. Ke pasar, beli dagangan untuk dijual lagi,” kenangnya.

Dia juga menanyakan nama masing-masing personel tim Rumah Pancasila yang datang ke rumahnya.

FOTO RUMPAN.ID/AJIE MAHENDRA
Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera, berbagi tawa bersama Jumirah di rumahnya.

Walaupun kurang mampu, Jumirah ternyata masih mau berbagi. Dia sempat menawarkan makan siang saat tim hendak berpamitan.

“Ayo makan dulu, jangan terburu pulang. Ini ada nasi yang cukup untuk dimakan bersama. Lauknya ada ikan,” katanya.

Tim dengan berat hati tidak bisa menerima tawaran itu. Sebabnya, memang memburu waktu, tim yang memang sudah ada agenda untuk rapat. Mereka berpamitan.  

Sementara itu, Yosep Parera menyebut pihaknya memang sengaja keliling untuk memberikan paket bantuan untuk masyarakat yang kurang mampu. Kemanusiaan yang menggerakkan.  

“Mereka tidak hidup sendirian. Kalau butuh pertolongan, masih ada warga Indonesia lain yang mau menolong. Karena sesuai perintah Pancasila, hidup itu harus gotong royong. Saling menolong. Yang kuat menolong yang lemah,” ungkapnya.

Rencananya, Yosep Parera cs akan kembali membantu lima warga lain yang tinggal di Kota Semarang. Bantuan yang diberikan kepada warga kurang mampu itu, selain berasal dari uang pribadi juga dari donatur lain, seperti Andre pemilik usaha Mebel Inc yang menyumbang Rp5juta.

“Kami sudah siapkan lima paket lagi untuk lima warga kurang beruntung di Semarang. Tapi tidak hanya itu, ke depan, kami akan menolong siapa pun warga yang tinggal di Rumah Indonesia yang butuh bantuan,” tegasnya. (Ajie Mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here