Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera (kanan), menemui Farah dan ibundanya, Widi, di Sekretariat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Jalan Semarang Indah Blok D15/32, Kelurahan Tawang Mas, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Selasa (12/3/2019)

SEMARANG – Salam Pancasila dan Salam Penegakan Hukum!

Hari ini, Selasa (12/3/2019), Rumah Pancasila dan Klinik Hukum berbahagia karena bisa menyelesaikan perkara adik Farah, mahasiswi Farmasi Semarang asal Kabupaten Kudus dan Ibundanya, Widi.

Ibu Widi itu adalah ibu tunggal. Sebab, sejak tahun 2005, suaminya menderita penyakit diabetes, gangguan ginjal dan kena stroke hingga mengalami kebutaan.  

Sejak saat itu, Ibu Widi sendirian merawat suaminya dan dua anaknya. Tentu membutuhkan biaya yang sangat banyak.

Berbagai upaya pengobatan dilakukan, dari menjual harta benda, rumah, sawah, mobil. Semuanya dijual untuk pengobatan. Semuanya habis. Tapi Tuhan berkehendak lain. Suaminya dipanggil menghadap-Nya.  

Maka, sampai saat ini Ibu Widi sendirian banting tulang untuk hidupi dua anaknya.

Salah satunya Mbak Farah ini. Karena sudah tidak punya lagi harta benda, setiap tahun mereka harus berpindah-pindah kontrakan. Cari yang paling murah.  

Satu-satunya penghasilan Ibu Widi adalah bekerja menyuplai kain apabila ada permintaan dari konsumen.

Ibu Widi berjuang seorang diri, wajahnya begitu tegar. Ini adalah contoh wanita Indonesia yang sangat kuat!  

Ibu Widi berjuang agar anaknya yang paling kecil bisa sekolah SMP dan yang besar, si Farah itu, berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi di Semarang. Cita-cita Farah itu jadi apoteker.  

Sekalipun membayar kuliah harus mencicil, sampai saat ini Farah sudah duduk di semester 4. Dia kuliah S1.  

Musyawarah Mufakat

Kendala menerpa. Farah ini di semester 4 kemarin, setelah bayar Rp2juta dari total uang yang harus dibayar per semeter Rp6,5juta, Farah datang ke kampus untuk mengisi Kartu Rencana Studi (KRS).

Tapi, saat mau isi KRS, dosen yang bersangkutan tidak ada karena izin cuti. Ketika dosen itu kembali aktif, Farah menghadap untuk keperluan pengisian KRS tadi.

Namun, ternyata Farah tidak boleh izin, bahkan harus mengambil cuti. Uang Rp2juta yang sudah dibayarkan, akan dipotong Rp1,25juta untuk cuti.  

Menghadapi masalah itu, Farah mengontak Rumah Pancasila dan Klinik Hukum untuk minta bantuan.

Yosep Parera selaku pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, mengutus advokatnya yakni Indra Parito untuk berangkat ke Kudus menemui Ibu Widi dan Farah untuk mencari informasi yang lebih detil tentang persoalan mereka. Indra berangkat Jumat (8/3/2019) pekan lalu.

Setelah semua didapat, esok harinya, Rumah Pancasila dan Klinik Hukum mengirimkan surat resmi ke kampus tempat Farah berkuliah. Satu jam berselang, pihak kampus langsung mengontak Ibu Widi untuk bertemu.  

Tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum mendampingi, ada tiga advokat yang turun; Indra Parito, Ephin Apriyandanu dan Wisnu Ardantyo Basworo.

Mediasi dilakukan. Hasilnya, berdasarkan berita acara, diputuskan Farah bisa berkuliah lagi. KRSnya sudah bisa diisi.

Apresiasi

Rumah Pancasila dan Klinik Hukum berterimakasih kepada kampus tempat Farah berkuliah yakni Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan Farmasi Semarang.

Sebab, pihak kampus itu dipandang punya kebijaksanaan melalui musyawarah mufakat berdasarkan Filosofi Pancasila. Sehingga, pendidikan Farah itu lebih diutamakan. Farah adalah masa depan, harapan, dari keluarganya, sekaligus bangsa ini.

Farah juga diharapkan nantinya terus bisa merawat ibunya, sebab saat ini sering sakit.

“Harapannya 3 tahun ke depan, Dik Farah ini bisa selesai kuliahnya supaya bisa membantu ibu dan adiknya untuk kembali hidup normal secara baik seperti kita yang lain, yang berkecukupan,” kata Yosep Parera selaku Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum.  

Yosep juga mengapresiasi tiga advokatnya; Indra, Ephin dan Wisnu, sebab bekerja dengan hati begitu cepat. Hanya dalam waktu 4 hari, perkara itu sudah selesai.  

Pihaknya, sebut Yosep, juga akan membantu dana sosial kepada Farah yang akan dikirimkan oleh advokat Shofi dan Ephin untuk melunasi sisa pembayaran uang semesteran Farah sebesar Rp4,5juta.

“Sehingga Dik Farah tidak lagi pusing bisa studi dan berkelanjutan secara baik akan terus diawasi secara langsung oleh Rumah Pancasila dan Klinik Hukum sampai dengan Dik Farah nanti bisa menyelesaikan studinya,” lanjut Yosep.

Yosep juga berterimakasih khususnya kepada Dokter Endang Diah Ikasari sebagai pimpinan kampus tempat Farah berkuliah, yang telah bijaksana memberikan peluang kepada Farah untuk kembali melanjutkan kuliah tanpa kendala.

“Agar Dik Farah bisa menjadi manusia yang baik di Indonesia. Sekolah ini merupakan teladan bagi kampus-kampus lain dan sekolah-sekolah lain bahwa segala sesuatu di Indonesia ini diselesaikan dengan musyawarah,” sambung Yosep.

Jika hal itu terus dilakukan, maka akan membawa Indonesia lebih baik ke depan. Yosep berharap kampus tempat Farah berkuliah semakin maju, baik. Yosep juga menyarankan agar yang akan jadi apoteker bisa memilih kampus itu, sebab mampu memberikan kebjakan-kebijakan ketika mahasiswa-mahasiswinya mengalami kesulitan.  

Yosep mengajak masyarakat luas untuk terus saling membantu di rumah Indonesia, sebagaimana perintah gotong royong Pancasila.  

Doa-doa dari Ibu Widi dan Dik Farah setiap hari telah membuka ruang bagi kita untuk saling membantu di rumah Indonesia.

“Maka kami dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum menyampaikan jangan lupa untuk selalu berdoa, bersyukur dan memohon kepada Tuhan, maka Tuhan akan pasti akan mengutus orang-orang terbaik di Indonesia untuk turut serta membantu Anda menyelesaikan seluruh masalah Anda,” tandas Yosep.

Mari saling membantu di rumah Indonesia. Salam Pancasila dan Salam Penegakan Hukum! (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here