SEMARANG — Baru saja menghirup udara bebas, seorang narapidana penghuni Lapas Kelas IIB Bangkinang Riau harus kembali merasakan jeruji penjara.

Pasalnya, dia adalah tersangka kasus pemerasan bermodus mengancam menyebarkan foto asusila korbannya via media sosial. Saat menjalankan aksinya, napi itu mengaku sebagai perwira Polri.

Tersangka bernama Irvan Abrianto,34, warga Dusun Loban, Muara Sentajo, Kabupaten Muara Senggigi, Riau. Korbannya seorang perempuan berinisial IR, 34, warga asli Demak, Jawa Tengah.

Petugas yang menjemput Irvan adalah anggota Subdirektorat V Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah.

“Tersangka melakukan pemerasan kepada IR lewat pesan WhatsApp,” ungkap Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Agung Prabowo, di kantornya, Jumat (24/5/2019).

Dia mengemukakan, tersangka dan korban awalnya berkenalan via Facebook. Media sosial itu diakses tersangka via smartphone, dari dalam penjara.

Perkenalan berlanjut ke bujuk rayu dengan iming-iming akan dinikahi. Korban termakan bujuk rayu, apalagi tersangka mengaku perwira Polri.

Bahkan rayuan itu sampai mampu membuat korban mau mengirimkan foto-foto asusilanya kepada tersangka via WhatsApp.

Ternyata, foto-foto itu dimanfaatkan tersangka untuk memeras korban. Tersangka mengancam akan menyebar foto-foto asusila korbannya ke media sosial jika tidak menyerahkan sejumlah uang.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian, diketahui pelaku melancarkan aksinya sejak bulan November 2018. Selama kurun waktu tersebut pelaku diketahui sudah melakukan beberapa kali pemerasan dengan total uang hingga Rp.50 juta.

“Tersangka mendapatkan uang sekira Rp.50juta dari kejahatan itu,” lanjut Agung Prabowo.

Barang bukti kejahatan itu adalah 3 buah smartphone yang digunakan tersangka beraksi. Tersangka dijerat pasal 27 ayat (1) dan atau Pasal 27 ayat (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2018 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.

Polisi terus mengembangkan penyidikan kasus itu. Pasalnya, tidak menutup kemungkinan tersangka melakukan kejahatan serupa dengan korban berbeda.

Korban Bisa Jadi Tersangka

Pada bagian lain, advokat dari LPPH Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ephin Apriyandanu, berargumen pada kasus seperti itu korban juga bisa juga dijerat regulasi yang sama.

“Kehadiran Undang-Undang ITE khususnya Pasal 27 bukan hanya untuk menjerat pelaku penyebar gambar-gambar asusila, tetapi juga dapat menjerat perekam dan pemilik gambar tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ephin mengatakan kehadiran pasal ini adalah agar tidak sembarang orang merekam gambar asusila yang kemudian dapat digunakan untuk melakukan kejahatan.

“Jadi korban atau si pemilik gambar juga bisa saja dipenjara jika gambar asusila itu kemudian tersebar dan menjadi konsumsi publik, ” kata Ephin. (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here