FOTO-FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA alias Lapas Bulu Semarang, tampak sibuk menjahit di bengkel kerja komplek LPP Semarang, Rabu (24/7/2019).

Eka Setiawan

Kota Semarang

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) ternyata bisa jadi tempat belajar budaya bagi warga negara asing (WNA). Itu tentunya bagi mereka yang tersangkut pidana sehingga harus mendekam dalam sejumlah kurun waktu bahkan seumur hidup di dalamnya.

Seperti terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Semarang alias Lapas Bulu. Terhitung pada Rabu (24/7/2019) siang, ada 6 WNA yang mendekam di sini dari total 334 penghuni. Penjara itu sebenarnya hanya berkapasitas 174 penghuni.

Sebanyak 6 WNA yang bertatus napi itu, terdiri dari 1 perempuan kebangsaan Inggris, 1 Thailand, 1 Cina, 1 Filipina dan 2 perempuan dari negara Taiwan. Selain yang Taiwan, mereka itu dipenjara karena menyelundupkan narkotika ke Indonesia.

Hukuman mereka yang diterima beragam, dari belasan tahun hingga vonis seumur hidup. Ketika mereka ditahan, mereka tentunya berbaur dengan para warga binaan pemasyarakatan (WBP) alias narapidana lainnya. Mengikuti berbagai macam pembinaan yang dilakukan, termasuk membuat berbagai kerajinan khas Indonesia.

Membuat batik cap

Seperti A, perempuan asal Inggris. A kini sudah mahir membatik, entah itu dibuat kain ataupun dompet. Membatik ini jadi salah satu program unggulan di Lapas Perempuan Semarang. Pewarnaannya menggunakan bahan-bahan alami, seperti dedaunan dan biji-bijian.

“Hasil karyanya dikirim ke keluarganya di Inggris sana, pakai paket, jadi batik bisa sampai ke Eropa,” ungkap Kepala LPP Kelas IIA Semarang, Asriati Kerstiani, ketika ditemui Rabu siang.

Sementara C, perempuan asli Filipina yang divonis seumur hidup karena kedapatan membawa 1,1kg heroin di Bandara Adi Soemarmo Boyolali April tahun 2011 silam, kini juga sudah mahir menjahit.

“Bisa bikin boneka (jahit),” ungkap C ketika ditemui Rabu siang itu.

Selain itu, C (32) juga sudah mahir berbahasa Indonesia bahkan bahasa Jawa. Sejak ditahan, C berusaha keras belajar bahasa Indonesia agar bisa bergaul dengan teman-temannya di dalam penjara.

“Dulu awalnya sering nangis, nggak tahu bahasanya (nggak bisa komunikasi) terus belajar, sekarang sudah bisa. Bahasa Jawa juga (sudah bisa, walaupun sedikit),” lanjut C yang mengaku pernah dikunjungi orang tuanya pada tahun 2015 silam.

Sementara, WNA lainnya berinisial WB (23), asal Thailand, juga mengaku sedikit demi sedikit akhirnya bisa berbahasa Indonesia. Dia belajar dari teman-temannya sesama narapidana di penjara.

WB yang mahir menyanyi tiap harinya beraktivitas dengan bekerja di salon di dalam penjara. Teman-temannya juga orang Indonesia.

Salon di LPP Semarang.

Selain para WNA itu, tentu juga warga binaan yang merupakan orang Indonesia juga mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan.

Selain membatik, menjahit, bekerja di salon di penjara, mereka juga mengelola koperasi, mengemas cotton buds, main band, rutin mengikuti kegiatan siraman rohani juga kegiatan-kegiatan lain yang positif seperti hidroponik hingga bordir.

Mengemas cotton buds.

Kepala LPP Semarang, Asriani Kerstiani menambahkan semua keterampilan yang diberikan itu diharapkan bisa jadi bekal mereka nanti setelah bebas.

“Ada pula pengolahan kacang kedelai, peternakan lele untuk jadi abon dan kerupuk juga pengolahan singkong berkualitas. Agar nanti bisa mandiri,” tambahnya.

FOTO EKA SETIAWAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here