FOTO RUMPAN.ID/SUTRISNO
Advokat dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Indra Parito (berdiri) dan Adi Leksono ketika membacakan nota pembelaan (pledoi) saat sidang di Pengadilan Negeri Semarang, Selasa (17/9/2019). Mereka mendampingi dua mahasiswa yang jadi terdakwa kasus pembunuhan.


SEMARANG – AdvokatdariRumah Pancasila dan Klinik Hukum terus lakukan upaya pembelaan atas kliennya, Yehezkiel Lede Bani (25) serta Isak Bani (23) duo terdakwa pembunuhan mahasiswa asal Papua yang kuliah di Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

Pembelaan disampaikan pada sidang lanjutan kasus tersebut, Selasa (17/9/2019) dengan agenda tersebut. Sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) Pengadilan Negeri Semarang menuntut agar Lede dipenjara 20 tahun dan Isak 15 tahun. Kedua terdakwa dianggap melanggar Pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana.

Di depan majelis hakim, advokat Indra Parito tak sepakat dengan tudingan jaksa yang dialamatkan pada dua terdakwa soal pembunuhan berencana.  

“Fakta-fakta persidangan tidak terbukti adanya unsur perencanaan yang dilakukan klien kami. Jadi ini murni spontan,” kata Indra kepada rumpan.id sesaat setelah sidang.

Ia menjelaskan saat kejadian pembunuhan tersebut semua barang bukti yang digunakan bukanlah sesuatu yang sudah direncanakan oleh kliennya.

“Bahkan cutter yang digunakan ini milik korban, yang digunakan untuk mengancam terdakwa, dari ancaman itu kemudian terjadi perkelahian hingga korban meninggal,” lanjutnya.

Wujudkan keadilan Pancasila

Meski mengaku kliennya bersalah karena telah melakukan tindakan pembunuhan, Indra selaku kuasa hukum berharap hakim dan jaksa mau untuk merevisi tuntutannya guna mewujudkan keadilan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Ia menambahkan sesuai dengan nilai Pancasila dan hukum positif, seharusnya kliennya dituntut dengan Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP.

“Salah ya salah, cuma (tuntutannya) jangan seenaknya,” tegas Indra.

Sementara itu pada sidang tersebut, Lede mengaku sangat keberatan. Dia mengaku insiden pembunuhan itu terjadi spontan, juga ketika itu sedang di bawah pengaruh minuman keras. Dia juga mengaku merasa bersalah dan khilaf.

“Saya jauh-jauh dikirim orangtua saya untuk mengenyam pendidikan. Dan tidak sekalipun berpikir untuk melakukan semua ini, saya menyesal,” kata dia saat membacakan pembelaannya di depan majelis hakim.

Dia juga berharap majelis hakim mau untuk memberikan keringanan hukuman terhadap Isak Bani. Menurutnya Isak tidak ikut andil dalam pembunuhan tersebut.

“Saya harap Yang Mulia mau membebaskan adik saya Isak, dia hanyalah korban atas apa yang sudah saya lakukan,” tutupnya

Insiden pembunuhan ini terjadi pada Selasa 26 Februari 2019 pagi di Kawasan Industri Terboyo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Korban bernama Dominicus Gregorio Awi, mahasiswa asal Merauke, Papua.

Ketika itu korban ditemukan tergelatak bersimbah darah di sana. Melalui serangkaian penyelidikan, termasuk melihat rekaman closed circuit television (CCTV), polisi akhirnya membekuk dua pelakunya tak lama setelah penemuan jasad korban. (sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here