FOTO: AJIE MAHENDRA
Salah satu relawan harus dilakukan tindakan medis karena kakinya robek terkena pecahan kaca jendela.

SEMARANG – Sejumlah warga Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanahmas, Semarang Utara yang terdampak proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) mulai merasakan pusing dan mual. Disinyalir, kondisi kesehatan mereka memang menurun karena shock, dan harus tinggal di tenda pengungsian.

Petugas medis dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr Nurul Afifah menerangkan, keluhan yang dirasakan warga, bisa dipengaruhi banyak faktor. “Bisa kondisi lingkungan karena sekarang ini peralihan penghujan ke kemarau. Bisa juga kekurangan nutrisi. Kecapekan mungkin karena digusur,” terangnya, Sabtu (11/5/2019).

Belum ada warga yang memerlukan penanganan medis secara khusus. Seperti harus diberi infus, atau dilarikan ke rumah sakit. Meski begitu, pihaknya menerjunkan sejumlah petugas untuk terus memantau kondisi kesehatan warga lewat cek tensi dan keadaan umum.

“Kami di sini dari jam 14.00-21.00. Di luar jam itu, mungkin ada petugas medis dari pihak lain yang ikut memantau warga,” bebernya.

Diakui, kondisi lingkungan di area pengungsian memang kurang sehat. Sebagian terendam rob. MCK pun baru tersedia satu. Itu pun baru dibangun siang tadi. Tidak tersedia fasilitas untuk mandi. Air bersih pun susah didapat.

“Tapi belum ada yang mengeluhkan diare atau muntaber,” bebernya.

Lebih lanjut, Nurul mengimbau agar relawan atau siapa pun yang beraktivitas di puing-puing bangunan sisa rumah yang rubuh, untuk selalu hati-hati. Sebab, ada warga dari Kedungmundu yang kakinya sobek terkena pecahan kaca.

Pria yang diketahui bernama Wirya itu pun langsung mendapatkan tindakan khusus di tenda kesehatan. “Karena kakinya sobek, harus dijahit,” tutur Nurul. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here