FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Bayangan seorang perokok terpantul dari kaca smoking area di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Rabu (1/5/2019).

BADUNG – Pada tahun 2017, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menyatakan pemerintah akan menggunakan dana bagi hasil cukai hasil tembakau atau cukai rokok sekira Rp5triliun untuk mengatasi defisit pendanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Saat itu, perolehan pendapatan dari iuran Rp74,25triliun sementara klaim yang harus dibayarkan Rp84triliun. Artinya ada defisit pembayaran iuran senilai Rp9,75triliun.

Setahun kemudian, yakni di tahun 2018, cukai rokok kembali menyumbang Rp5triliun untuk menambal defisit BPJS Kesehatan.

Namun demikian, para perokok kerap dipandang sebelah mata. Misalnya tentang tempat merokok di ruang publik di bandar udara (bandara).

Obrolan siang tadi (Rabu 1 Mei 2019) tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, menyiratkan para perokok seperti jadi ‘anak tiri’ di antara orang-orang lain yang ada di bandara tersebut.

Di lokasi itu, kami mengobrol dengan salah satu perokok. Saat itu, kami baru saja selesai check in pesawat terbang, menunggu waktu boarding. Area merokok di bandara itu sangat sempit. Lokasinya di ujung, dekat Gate 2 bandara.

Di ruangan yang sempit itu, berjejal para perokok. Mereka menikmati tembakau di antara riuh rendah suasana bandara. Ada dua asbak besar yang ditempatkan di ruang sempit itu. Kalau dikira-kira, ruangan itu diisi 20 orang saja sudah penuh sesak. Lebih mirip seperti penjara, berjejal.

“Ini masih untung, karena atapnya terbuka masih luas. Kalau di Soekarno-Hatta (bandara), lebih sempit lagi,” kata seorang perokok yang mengobrol dengan kami siang itu.

Dia yang mengaku sebagai pengusaha itu, melanjutkan ceritanya. Dia membandingkan fasilitas untuk para perokok di Singapura. Di sana, para perokok diberi tempat yang luas, udara terbuka. Jadi tidak perlu berjejal sempit untuk menikmati tembakau. Fasilitas tetap diberikan secara layak.

Obrolan berlanjut hingga tentang cukai rokok yang jadi salah satu penyumbang terbesar BPJS Kesehatan ketika mengalami defisit pendanaan.

Merokok ataupun tidak merokok adalah pilihan masing-masing individu. Tetapi, akan menjadi bijak ketika memberikan fasilitas yang layak bagi para perokok.

Pengalaman tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, fasilitas tempat merokok di tiap-tiap bandara berbeda. Termasuk luasnya.

Misalnya; di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, fasilitas tempat merokok cukup luas dengan atap terbuka. Meski kalau turun hujan, para perokok harus menepi agar tidak basah, namun ruangan yang cukup luas bisa membuat nyaman para perokok.

Bandara Hang Nadim Batam, tempat merokoknya sempit. Ada semacam kedai kopi yang menyediakan tempat merokok. Membuat para perokok berjejal untuk menikmati tembakau.

Di Yogyakarta, di Bandara Internasional Adi Sucipto, setelah check in, tempat merokok adalah sebuah kedai yang kira-kira menyediakan all you can eat dengan mahar Rp100ribu. Fasilitasnya nyaman, meski memang kalaupun tidak makan atau minum, hanya merokok saja, bayarnya ya tetap sama. (eka setiawan)   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here