Oleh: Dr. Yovita A. Mangesti, SH.,MH

(Asosiasi Ilmuwan dan Praktisi Hukum Indonesia)

Kata perempuan, berasal dari Bahasa Sansekerta, yakni “empu”, artinya sebuah panggilan kehormatan yang berarti “tuan”. Penyebutan ini menempatkan perempuan pada posisi dihargai dan terhormat.

Semestinya, hal ini dapat menjadi semangat bagi perempuan untuk berani menempatkan diri, menjalankan peran maksimal sebagai makhluk sosial, yang dinamai atau menyandang sebutan perempuan.  

Teriakan emansipasi, perjuangan gender, antidiskriminasi, berorientasi pada pengakuan terhadap hak-hak sosial dan hukum, di mana perempuan harus diperlakukan sama dengan laki-laki. Gerakan feminis konservatif hingga era post-truth ini menghasilkan berbagai undang-undang perlindungan perempuan.  

Tahun 1979, Komisi Kedudukan Perempuan PBB, menandatangani konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) dan merumuskan hak-hak perempuan yang harus diakui dan diberikan oleh negara, yaitu;

  1. Hak dalam ketenagakerjaan :memiliki kesempatan kerja yang sama dengan laki-laki. Hak ini meliputi kesempatan yang sama dari proses seleksi, fasilitas kerja, tunjangan, hak untuk menerima upah setara,  mendapatkan masa cuti yang dibayar, termasuk saat cuti melahirkan, hak untuk tidak  diberhentikan oleh pihak pemberi tenaga kerja dengan alasan kehamilan maupun status pernikahan.
  • Hak dalam bidang kesehatan : mendapatkan kesempatan bebas dari kematian pada saat melahirkan, memperoleh  pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan KB, kehamilan, persalinan, dan pasca-persalinan.
  • Hak yang sama dalam pendidikan : sebagaimana diperjuangkan oleh R.A. Kartini di Indonesia, setiap perempuan berhak untuk mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan, tanpa diskriminasi.
  • Hak dalam perkawinan dan keluarga : Perkawinan yang dilakukan haruslah berdasarkan persetujuan dari kedua belah pihak secara bebas tanpa paksaan, perempuan juga memiliki hak dan tanggung jawab yang sama.
  • Hak dalam kehidupan publik dan politik : berhak untuk memilih dan dipilih, mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam perumusan kebijakan pemerintah hingga implementasinya

Perempuan Indonesia dilindungi sedemikan rupa, dibungkus dengan hak-hak konstitusional yang diberikan oleh negara, di antaranya; UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga,UU No.8 Tahun 2012 Tentang Politik, bahwa perempuan berhak untuk berpolitik dengan menyuarakan pendapatnya, berhak berhak memilih dan dipilih untuk menjadi anggota dewan.

Kemudian, UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, bahwa perempuan difabel memiliki hak konstitusional, UU No. 17 Tahun 2016 tentang penetapan Perpu nomor 1 Tahun 2016 menjadi Undang-Undang, bahwa pelaku kekerasan seksual terhadap anak dapat dikenai sanksi penjara, denda, dan tindakan kebiri,  PP No.61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, bahwa hak reproduksi perempuan dilindungi oleh undang-undang.

Tetapi, ada sisi lain yang juga semestinya dipahami oleh perempuan, bahwa perempuan secara biologis berbeda. Perempuan berkromosom XX, mempunyai vagina, dan alat reproduksi dengan fungsinya yang khas, dan hal ini berbeda dengan laki-laki yang berkromosom XY, mempunyai penis, dan alat reproduksinya yang sangat berbeda dengan perempuan.

Persoalan biologis yang “memang berbeda” akan tetap beda. Perbedaan inilah yang berimplikasi pada persoalan psikologis, sosial dan hukum. Kita tidak harus membuatnya sama karena “memang tidak sama” dan biarlah “tetap tidak sama”.

Esensi Kesetaraan

Berangkat dari pemahaman bahwa secara biologis, memang berbeda, maka sebenarnya yang ingin disetarakan melalui perjuangan gender adalah kesetaraan, harmonisasi peran perempuan dan laki-laki, kemitraan dalam melaksanakan fungsi sebagai makhluk sosial. Kesetaraan ini tidak selayaknya mereduksi, menggerus nilai mulia jati diri perempuan dengan terus berusaha menyamakan diri dengan laki-laki.       

Hak sosial, didapatkan ketika perempuan itu hidup di tengah masyarakat. Sebagai anak perempuan, saudara perempuan, teman perempuan, istri, ibu, karyawati, atau apalah statusnya, artinya, eksistensi seorang perempuan “meng-ada” di tengah sesamanya.

Kesetaraan ini muncul bukan semata-mata karena jeritan untuk dipersamakan, tetapi oleh pengakuan terhadap kualitas diri seorang perempuan di tengah keluarga dan masyarakat. 

Hak sosial, hak konstitusional didapatkan oleh perempuan atas berapa banyak kualitas yang memang bisa diberikan sesuai statusnya, apakah dia sebagai anak perempuan, saudara perempuan, teman perempuan, istri, ibu, karyawati, dan lain-lain.

Dari seorang perempuan, lahirlah anak-anak, generasi penerus yang menentukan kelangsungan nasib suatu bangsa. Perempuan yang secara biologis tidak memiliki keturunan punya ruang untuk menjadi ibu bagi anak didik, anak asuh, anak komunitas, anak-anak di kelompok kategorial masyarakat.

Jadi tidak ada alasan bagi seorang perempuan untuk diam tak berbuat apa-apa. Seberapa besar pengakuan hak sosial ini, tergantung dari bagaimana seorang perempuan menghargai dirinya sendiri. Hal ini sangat berbeda esensi dari persamaan atas dasar fisik.

Ada banyak ruang yang bisa diisi oleh perempuan untuk berkarya. Perempuan adalah agen perubahan (agent of social change).

Seorang anak, begitu lahir, yang dikenal adalah aroma tubuh ibunya. Selanjutnya dia akan belajar mengenali ibunya lewat bahasa sentuhan.

Tahap berikutnya bisa berbahasa, bercakap , berperilaku, karena ibunya yang mengajarkan dia berbahasa, bercakap, berperilaku. Kemampuan berbahasa, bercakap, berperilaku ini ditransfer dari ibunya.

Jika demikian, maka peran untuk mentransfer nilai, norma, orientasi hidup, ada di tangan perempuan, ibu atau siapapun dia yang menggantikan peran ibu.

Seluruh peristiwa sosial, dimulai dari bagaimana seorang perempuan memberikan karyanya, bagi anak biologisnya atau anak-anak lain, yang melintas waktu di hari-harinya.

Ruang domestik dalam rumah tangga, adalah wahana perempuan untuk turut berperan, tetapi tidak menggantikan peran laki-laki. Suatu hal yang secara esensial angat berbeda antara “turut berperan” dengan “menggantikan peran”. 

Perempuan adalah mitra, tak bisa disubtitusi, didominasi. Dalam hal kesehatannya, perempuan harus mengenali faal tubuhnya dan menghargainya untuk tidak menjadi objek pemenuhan kebutuhan lahiriah laki-laki semata. Sebab, secara biologis fungsi laki-laki dan perempuan tidak bisa saling dipertukarkan. Yang satu, bukan obyek bagi yang lainnya.  

Di ruang politik, ada peluang besar untuk berkarya dan duduk di bidang pemerintahan, sebut saja; Sri Mulyani Indarwati, Susi Pudjiastuti, Rini Soemarno, Tri Rismaharini, dan lain-lain.

Di ruang sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya ada nama-nama Sulistyowati Irianto , Tjut Nyak Deviana Daudsjah, Tian Belawati, Mira Lesmana, Anne Avanti,  Moerjati Soedibyo, Catherine Hindra Sutjahyo, dan masih banyak lagi tokoh inspiratif bagi perempuan.

Seperti apa perempuan itu akan dihargai, disetarakan, tergantung pada bagaimana perempuan bisa menghargai dan menempatkan dirinya di ruang tempat ia mengambil peran di masyarakat.

Perempuan adalah agen perubahan sosial. Perubahan untuk menjadikan generasi penerusnya menjadi insan yang sungguh bermartabat sebagai manusia. Agen yang memberi warna dalam sebuah peradaban.

Peradaban ini akan menjadi peradaban yang manusiawi dan berkeadilan, jika perempuan di dalamnya mengusung jati diri sebagai manusia yang berjuang untuk kemanusiaan dan keadilan.

Dalam diri seorang perempuan terdapat potensi luar biasa, karena perempuan dilahirkan sebagai makhluk sempurna bertubuh dan berjiwa. Tubuh membalut jiwa. Tubuh instrumen bagi jiwa yang berakal untuk terus mengasah diri dan berkualitas.

Seperti apa generasi penerus bangsa ini tergantung dari transformasi nilai, norma, dan keadaban yang dibawa oleh perempuan. Maka, membangun kesetaraan tidak karena sama, tapi justru karena berbeda dengan laki-lakilah, maka perempuan menjadi sama.

Hukum memberikan hak konstitusional, melindungi perempuan dari ancaman apapun. Perempuan, bergeraklah, bangun orientasi, raihlah visi, dan bawa generasi bangsa ini dengan lembutnya bahasa-mu, yang menjadikan setara dan bermartabat di tengah dinamika pergerakan zaman!

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here