Sumber Foto: Ajie Mahendra
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ketika mengenakan beskap lurik seharga Rp 70 ribu.

SEMARANG – Demi menjaga kebinekaan Bangsa Indonesia, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) coba menghormati keragaman busana adat nasional. Setiap hari Kamis di minggu terakhir setiap bulan, para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemprov Jateng pun diminta berbusana adat nasional.

Sebelumnya, Pemprov Jateng sudah mewajibkan ASN untuk berbusana adat Jawa setiap tanggal 15 setiap bulan. Sekarang, busana adat Jawa wajib dikenakan setiap Kamis pekan pertama hingga ketiga. Sedangkan Kamis pekan terakhir, mengenakan busana adat nasional.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menerangkan, yang dimaksud busana adat nasional adalah semua pakaian adat dari seluruh daerah di Indonesia. Menurutnya, semua busana adat daerah di Indonesia bagus dan harus dilestarikan.

Dia menentang jika ada yang berpandangan negatif pada busana adat tertentu. Koteka, misalnya. “Kalau mau pakai koteka, tidak masalah. Kalau ada yang menganggap saru, itu persepsi atau pikiran, padahal koteka itu kekayaan budaya bangsa Indonesia,” jelasnya, Jumat (6/9/2019).

Menurutnya, penggunaan pakaian adat ini bisa mempererat jiwa kebinekaan. Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pondasi Bangsa Indonesia, akan terus terjaga.

Hal itu diperlukan dalam rangka pengenalan, pembinaan, dan pengembangan kebudayaan nasional, serta untuk melestarikan kebudayaan Jateng.

“Para pejabat birokrasi Pemprov Jateng harus dapat menjadi teladan dan mendukung kebijakan mengenakan pakaian tradisional,” terangnya.

Selain untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, kebijakan penggunaan pakaian adat lanjut Ganjar juga dilakukan untuk meningkatkan ekonomi kreatif. Saat ini lanjut dia, para penjual batik, blangkon, lurik, kebaya menjadi kebanjiran order.

“Sekarang industri blangkon, batik, lurik, beskap dan lainnya jadi berkembang di Jateng. Cara-cara inilah yang tepat untuk meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat,” tandasnya.

Dia menegaskan, penggunaan pakaian adat ini tidak perlu yang berharga mahal. Ganjar sendiri mengaku lebih nyaman menggunakan beskap lurik seharga Rp 70 ribu. Beskap tersebut dari kain lurik berwarna-warni.

“Karena bagus, saya beli. Ini tidak mahal lho, kainnya ini hanya Rp70.000, lebih murah dibanding ongkos jahitnya. Jadi kalau ada yang bilang kebijakan saya mewajibkan mengenakan pakaian adat memberatkan, itu sebenarnya tidak menjadi alasan,” tegasnya. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here