Garuda Pancasila 

Akulah pendukungmu

Patriot proklamasi

Sedia berkorban untukmu

Pancasila dasar negara

Rakyat adil makmur sentosa

Pribadi bangsaku

Ayo maju maju…

Lagu itu adalah Mars Pancasila atau yang lebih populer dengan Garuda Pancasila.  Penciptanya bernama Sudharnoto, komponis asal Kendal, pada tahun 1956 itu, menggema auditorium Gedung Prof. Sudharto,S.H, Kawasan Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang, Kota Semarang, Selasa (29/1/2019).

Saat itu digelar acara peringatan wisuda ke-153 Undip. Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama, berdiri di podium memimpin koor, diikuti civitas akademika, para wisudawan termasuk paduan suara Undip.

Alhasil, terjadilah koor raksasa di ruangan itu. Lagunya menggema! Apalagi, lagu itu dinyanyian dengan dinamika marcia con fesosto; bersemangat, meriah dan baris berbaris.  

Prof Yos Johan sengaja memperdengarkan lagu itu, sekaligus menyanyikannya dengan koor, sebelum memberikan pidatonya.

“Lagu seperti ini sudah mulai jarang diperdengarkan sejak kalian SMP,” kata Johan memulai pidatonya di depan para wisudawan.

Lagu itu tak sekadar lagu, bunyi tanpa pesan. Lagu Garuda Pancasila berisi pesan sakral; tentang kesetiaan segenap rakyat Indonesia kepada negaranya.

Maka, Prof. Yos Johan tentu saja tahu betul bagaimana lagu ini harus diperlakukan, kemudian dihayati bersama.

Penghayatan menyeluruh bisa menangkal paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila. Seperti paham radikal ataupun sikap intoleransi yang sudah beberapa kali terjadi di Indonesia, tak terkecuali di lingkungan kampus.

Secara khusus, Prof. Yos Johan, menyebutkan bahwa kampus yang dipimpinnya tentu saja secara keras menolak paham-paham radikal. Salah satu caranya, membuat kebijakan-kebijakan yang tidak memungkinkan paham-paham seperti itu tumbuh di Undip. Baik menjangkiti mahasiswa ataupun dosennya.  

Kampus Undip, kata Prof. Yos Johan, adalah cerminan dari bangsa Indonesia yang bersatu dari berbagai perbedaan, seperti suku bangsa. Itu adalah cerminan kebhinekaan dan persatuan.  

Kewaspadaan Prof. Yos Johan membentengi kampusnya dari paham-paham radikal bukanlah isapan jempol semata. Sebab, kampus memang sudah jadi sasaran propaganda radikalisme yang disebarkan orang-orang tak bertanggungjawab.

Seperti halnya diungkapkan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi Budi Gunawan, sebelumnya. Budi menyebut ada 39 persen mahasiswa di Indonesia terpapar paham radikal, bahkan ada 3 universitas yang jadi perhatian khusus. Meski Budi tak menyebut detil mana-mana saja universitasnya.

Budi memaparkan data itu saat menjadi pembicara dalam ceramah umum Kepala BIN kepada BEM PTNU se-Indonesia di Kampus Universitas Wahid Hasyim Semarang pada Sabtu (28/4/2018) silam.

Saat itu, Budi juga menjelaskan dari riset BIN tahun 2017 ada 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA atau sederajat, setuju dengan tegaknya negara Islam di Indonesia. 

Menurutnya mahasiswa memang sering dijadikan target penyebaran paham radikal oleh pelaku-pelaku terorisme. Mereka jadi target cuci otak kemudian dicekoki pemahaman-pemahaman radikal.

Untuk Undip sendiri, diketahui juga telah menonaktifkan salah satu guru besarnya karena dianggap pro terhadap salah satu organisasi yang dilarang pemerintah Indonesia. 

Harus Kreatif

Sementara itu, pada upacara wisuda tersebut, ada 477 mahasiswa diwisuda. Mereka itu yang diwisuda pada tahap itu. Karena totalnya ada 2.203 mahasiswa yang diwisuda pada upacara wisuda ke-153 ini. Seremonial dibagi menjadi 4 tahapan, mulai 29 – 31 Januari 2019 ini.

Mereka diwisuda mulai dari tingkatan diploma, sarjana, magister maupun doktor, baik untuk profesi maupun spesialis.  

Secara keseluruhan, sejak Undip berdiri pada 1957 silam hingga sekarang, telah meluluskan 207.912 wisudawan. Presentasenya; 58 persen wisudawan wanita dan 42 persen wisudawan pria. 

Prof. Yos Johan mewanti-wanti para wisudawan agar dapat menjadi generasi penerus bangsa yang produktif, berkontribusi positif bagi Indonesia dengan tetap kreatif dan berdaya saing. Bukan malah sebaliknya, menambah jumlah penangguran, menjadi beban negara.

“Selamat atas kelulusan Anda! Bukan selamat Anda jadi penyumbang jumlah pengangguran,” tegasnya. 

Pada bagian lain, persoalan pengangguran di Indonesia merupakan persoalan yang belum selesai hingga sekarang.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus 2018, jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 7juta orang. Jumlah ini berkurang 40ribu orang di banding tahun 2017. 

Berdasar data yang sama, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 ada 131,01 juta orang. Naik 2,95 juta orang di banding Agustus 2017. Angkatan kerja ini mencerminkan jumlah penduduk yang secara aktual siap memberikan kontribusi terhadap produksi barang dan jasa di suatu wilayah atau negara. 

Pimpinan advokat dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, mengemukakan seluruh lapisan masyarakat harus bahu membahu untuk mengatasi persoalan ketersediaan lapangan pekerjaan. Tidak bisa hanya mengandalkan dari negara saja.

Bagi masyarakat yang punya kelebihan, membuka usaha untuk kemudian menyerap tenaga kerja. Ataupun generasi muda bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, mengasah dan mengembangkan kreativitas agar tak jadi pengangguran ketika misalnya tak diterima bekerja di suatu perusahaan atau instansi.

“Hanya dengan gotong royong kita bisa mewujudkan keadilan dan kemakmuran, sesuai pesan lagu Mars Pancasila itu. Maka, marilah kita semua gotong royong menciptakan lapangan pekerjaan,” ungkap Yosep kepada rumpan.id, Rabu (30/1/2019).  (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here