Foto Eka Setiawan
Deputi Pengkajian dan Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Prof. Adji Samekto (kanan) tampil didampingi moderator Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, saat memberikan kuliah umum di Program Doktoral Ilmu Hukum (PDIH) Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Sabtu (4/5/2019).

SEMARANG – Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Dr. F.X. Adji Samekto, mengatakan politik identitas kini menjadi tantangan bagi Indonesia.

“Karena politik identitas berarti mengingkari pluralisme yang sesungguhnya merupakan hal yang fitrah di Indonesia,” ungkapnya sesaat setelah mengisi kuliah umum di Program Doktoral Ilmu Hukum (PDIH) Universitas 17 Agustus 1945 Kota Semarang, Sabtu (4/5/2019).

Sebab itu, pihaknya mengajak khalayak untuk mereduksi atau mengurangi tumbuhnya politik identitas. Dia mengakui, walaupun sejarah mencatat ketika negara ini didirikan, ada golongan-golongan yang tidak sepakat dengan ideologi Pancasila.

“Tapi itu kan dialetika. Jadi memang, dialektika di dalam mendirikan Indonesia merdeka itu selalu tumbuh keinginan satu dan keinginan lain, tapi kemudian akhirnya tercapai kesepakatan. Kesepakatan itu kemudian terefleksi dalam Pancasila yang terumuskan di dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, yang akhirnya kita pakai hingga hari ini,” bebernya.

Dia melanjutkan, perumusan Pancasila itu sebenarnya adalah cerminan dari kesepakatan para tokoh-tokoh pendiri bangsa sekaligus cerminan kebesaran hati para pendiri bangsa.

“Bahwa mereka sadar bahwa kita tidak bisa tidak menerima hal yang beragam,” lanjutnya. 

Pihaknya, sebut Prof. Adji, mengakui masih ada kelompok-kelompok tertentu yang menggunakan politik identitas.

Bahkan kelompok-kelompok itu terus melakukan perekrutan-perekrutan baik anggota aktif maupun simpatisan. Salah satunya menyasar para mahasiswa. Modus rekrutmen yang dilakukan pun beragam.

“Kayak di Tembalang (Kota Semarang) juga ada. Rekrutmen mulai dari dijadikan pacar, dicarikan kos-kosan, fotokopian (tugas dibantu),” sebutnya.

Melihat fenomena seperti itu, Prof. Adji menyebut saat ini pihaknya juga melakukan berbagai upaya objektivikasi kebenaran tentang Pancasila.

“Kami bekerja sama juga dengan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme),” ungkap Prof. Adji.

Sementara itu, pada kegiatan kuliah umum tersebut, Rektor Untag 1945 Semarang, Suparno, dalam sambutannya juga mengatakan hidup di Indonesia diperlukan sikap saling menghormati dan menghargai.

“Ora usah gontok-gontokan, nggak ada gunanya. Harus menghargai, menghormati dan mencintai sesama umat,” kata dia.

Pada kegiatan itu, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, tampil sebagai moderator acara. (eka setiawan)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here