FOTO-FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Kyai Ali Masykur selaku Pimpinan Pondok Pesantren Salaf API Matholi’ul Anwar Jepara

Eka Setiawan

Kabupaten Jepara

Rasa cinta tanah air harus ditanamkan sejak dini. Bagi generasi muda, hal itu menjadi makin penting di era sekarang, di mana arus global yang tentunya membawa serta berbagai ideologi dari luar, mudah sekali menyebar.

Jika ideologi itu baik, sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, tentu tak jadi masalah. Tapi, jika bertentangan, tentunya ini yang merepotkan.

Sebab itu, hidup di era global seperti sekarang, pintar saja tidak cukup. Sejak dini harus tertanam cinta tanah air. Itu jadi semacam benteng terakhir menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu dikatakan Kyai Ali Masykur, selaku Pimpinan Pondok Pesantren (ponpes) Salaf Asrama Pelajar Islam (API) Matholi’ul Anwar, Desa Randusari, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, ketika mengobrol dengan tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang sekaligus rumpan.id, Minggu (21/7/2019).

“Jadi sejak dini harus tertanam (cinta tanah air), karena sepintar apapun (jika tidak tertanam rasa cinta tanah air), nanti mudah kena arus (global),” kata Kyai Ali Masykur.

Sang Kyai paham betul hal itu. Sebabnya, meskipun ponpes yang dipimpinnya adalah ponpes salaf, yang lekat dengan Islam tradisional, para santrinya selalu ditanamkan nilai-nilai keindonesiaan. Cinta kepada tanah airnya sendiri.

Di ponpes yang dipimpinnya, para santri diajarkan bagaimana mencintai Indonesia. Bagaimana caranya? Beberapa yang dilakukan, seperti; memajang Garuda Pancasila hingga rutin mengadakan upacara bendera.

Tentu tak hanya lewat simbol-simbol Garuda dan upacara saja. Beberapa kegiatan yang dilakukan dengan pihak luar ponpes, dari kegiatan bersama pemerintahan setempat, kepolisian hingga pentas teater, juga dalam rangka menjaga nilai-nilai keindonesiaan itu.

Para santri sedang membuat mebel

Dilatih Mandiri

Sejak didirikan 25 tahun yang lalu, Kyai Ali Masykur terus berusaha menjaga marwah ponpes. Seperti dikatakannya, kemunculan ponpes di Indonesia salah satu tujuannya adalah penyebaran agama Islam.

“Menegakkan agama lewat ilmu,” kata Ali yang siang itu tampak santai, memakai peci hitam menutup rambutnya yang agak gondrong.

Namun demikian, nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan juga selalu diajarkan. Jadi santri di sini tak hanya mengaji kitab-kitab kuno saja.  

“Kami terus berusaha menanamkan itu, cinta Allah, cinta Rasul dan cinta tanah air. Mau tidak mau ini tentu (cinta) Pancasila. Tidak ada satupun sila (Pancasila) yang bertentangan dengan ajaran Islam,” lanjutnya.

Santri di Ponpes Salaf API Matholi’ul Anwar itu jumlahnya kisaran 130-170 santri, semua laki-laki. Mereka itu yang mondok alias model asrama.

Selain mereka, masih ada santri-santri lain, sebagian besar dari masyarakat lingkungan pondok, yang mengaji di sana. Mereka mengaji paruh waktu saja, tidak menetap asrama, biasanya hanya setelah Magrib.

Para santri yang mondok berasal dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya; dari Banyuwangi, Cepu, Tuban, Ambarawa, Magelang, Cilacap, Brebes, Sukabumi, Aceh, Jambi, Bengkulu hingga Lampung.

Ada 8 tingkatan pendidikan yang digelar, mulai dari tingkat ibtidaiyah hingga tingkat ihya ulumuddin. Nama-nama tingkat pendidikannya menggunakan nama-nama kitab.

“Tiap tingkatan setidaknya ada 4 pelajaran (pendidikan agama saja), tidak ada pelajaran umum,” sambung Kyai Ali Masykur.

Tiap 8 tahun, ponpes yang dipimpin Kyai Ali Masykur itu meluluskan para alumni. Mereka tentu bebas memilih pekerjaan apa saja. Ada beberapa di antaranya juga yang mendirikan ponpes. Ali Masykur merinci santrinya yang mendirikan ponpes itu; Sunarto di Demak, Zaenal di Tuban, Itmam di Jambi dan Muhibin di Palembang.

Salah satu santri sedang membuat mebel kayu dengan mesin bubut.

Selain mengaji, Kyai Ali Masykur juga mengajarkan para santrinya untuk hidup mandiri secara finansial. Mempunyai penghasilan. Para santri diajarkan keterampian ukir dan pertukangan.

Para santri membuat mebel sendiri, dengan kerjasama pihak luar untuk menjualnya. Keterampilan itu tidak diajarkan dengan mendatangkan ahli dari luar, cukup turun-temurun atau belajar antarteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here