FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Kawasan Tambaklorok Kota Semarang

Kawasan Tambaklorok yang berlokasi di Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang adalah kawasan pesisir. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sampai Fadli Zon pernah blusukan ke sana.

Laiknya daerah pesisir lainnya, tentunya kawasan ini dekat dengan laut. Di sana-sini banyak tambak. Bahkan wilayah yang dulunya daratan, sekarang berubah jadi laut, karena tergerus abrasi.

Meski wilayah pesisir, yang kerap dipandang sebagai tempat tinggal orang-orang berwatak keras, kampung gali, tapi sesungguhnya aneka tuduhan itu tak semuanya benar.

Warganya baik-baik, bahkan sampai rela bertaruh nyawa menyelamatkan nyawa orang lain.  

Kisah ini saya dengar Jumat (9/8/2019) malam, dari Pak Edi. Saya ketika itu bersama beberapa kawan sedang memancing, motor kami parkir di depan sebuah rumah. Pak Edi itu pemiliknya.

Orangnya ramah, demikian pula istrinya. Buktinya mereka berdua menyilakan kami duduk di teras rumahnya yang bersih sebab habis dipel, ketika itu selepas Magrib menjelang Isya.

Pak Edi, pria paruh baya itu menemani kami mengobrol. Memakai kaus, bersarung dan peci, Pak Edi ramah mengobrol dengan kami. Obrolan tak sengaja tentunya, sebab kami sebelumnya belum saling kenal.

“Ora suwe, wingi-wingi nang mburi omah ana wong kalap (belum lama, kemarin-kemarin, di belakang rumah ada orang tenggelam),” cerita Pak Edi ditemani istrinya membuka obrolan.

“Lah kok bisa Pak?,” tanya saya kepada Pak Edi yang ternyata sudah 3 periode jadi salah satu Ketua RT di sana.

Lalu Pak Edi bercerita. Kalau insiden itu awalnya yang mengetahui adalah istrinya. Ketika berada di belakang rumah, terlihat empat orang tercebur tambak cukup dalam. Mereka adalah para pemancing yang memakai perahu, tapi perahunya terbalik.

Sang istri menyangka awalnya mereka hanya guyonan. Sempat ditanya “Kowe iku guyon apa kalap? (Kamu itu bermain-main apa tenggelam),” tambah istrinya Pak Edi berbagi cerita.

Ternyata tak menyahut. Kepala mereka terus berusaha dimunculkan di permukaan air agar bisa bernafas. Tangannya terlihat minta tolong.

Sadar keselamatan mereka terancam, istrinya itu memberitahu ke suaminya, ya Pak Edi itu.

Hanya bercelana pendek, tanpa kaus, Pak Edi langsung nyebur ke tambak. Karena aksesnya susah terhalang waring (jaring), dia berenang lagi ke tepian. Mengubah jalur menuju para korban, beberapa tetangganya juga diberi tahu. Mereka sama-sama berenang menuju para pemancing yang nyaris tenggelam itu.

Akhirnya mereka bisa diselamatkan. Salah satunya bahkan harus dilarikan menggunakan mobil pikap warga ke Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, karena kondisinya mengkhawatirkan. Tapi akhirnya tertolong juga.

“Wah, aku ora nyangka iseh iso renang. Ndisik pas awakku iseh cilik, memang wis iso renang. Padahal nek tak pikir aku dewe yo iso melu kalap, renang adoh nafase entek. (Wah, aku nggak nyangka masih bisa renang, dulu pas badan masih kecil memang sudah bisa renang. Padahal saya sendiri ya bisa ikut tenggelam, renang jauh nafas habis),” beber Pak Edi.

Bravo Pak Edi! Kalau menolong orang masih banyak mikir-mikir dulu, pasti nasib para pemancing itu bisa jadi berbeda. Bisa jadi karena kebanyakan mikir, keselamatan diri dan sebagainya, para pemancing yang nyaris tenggelam itu malah bablas.

Begitulah rumah Indonesia, rumah yang dihuni orang-orang yang mau saling menolong bahkan apapun risikonya. Meski usia sudah lewat paruh baya, perenang tetaplah perenang ya Pak!

FOTO EKA SETIAWAN

Kawasan Tambaklorok Semarang    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here