SEMARANG – Semarang punya gedung seni modern pertama di Indonesia. Namanya Gedung Marabunta. Ada dua semut marabunta di atasnya. Lokasinya di Jalan Cendrawasih Nomor 23, Kota Lama Semarang. Sayang, bangunan bernilai sejarah tinggi ini mangkrak.

Merasa prihatin, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, Theodorus Yosep Parera berupaya menghidupkan Gedung Marabunta. Yakni dengan mendorong Pemkot Semarang untuk membenahinya.

“Kami mengirim surat rekomendasi untuk Wali Kota Semarang agar Marabunta dipugar. Agar bisa kembali difungsikan untuk pertunjukan kesenian,” bebernya, Senin (10/6/2019).

Dia membayangkan, tarian tradisional dari Aceh hingga Papua, bisa tampil di Marabunta. “Di Semarang ini kan banyak mahasiswa dari berbagai daerah. Nah, mereka bisa tampil di situ setiap pekan atau setiap bulan,” imbuhnya.

“Ini bentuk partisipasi kami dalam membangun bangsa dan negara. Ingin mengajak masyarakat agar tidak acuh tak acuh terhadap Indoesia. Ini cara kami, tidak lewat aksi demo, atau berbicara jelek di media sosial. Tapi menyampaikan aspirasi lewat prosedur yang benar,” katanya.

Jika nantinya surat rekomendasi yang dikirimkan pihaknya tak ditanggapi pihak Pemkot Semarang, Yosep tetap akan berupaya menghidupkan Marabunta. Salah satunya dengan menggelar pentas kesenian di depan Gedung Marabunta dengan menggandeng berbagai komunitas yang ada di Kota Semarang.

“Tentu dengan izin kepolisian dan pihak terkait agar tidak menganggu lalu lintas dan pengunjung di Kota Lama,” terangnya.

Yosep menilai, pemerintah memang harus mempertahankan gedung yang menyimpan nilai sejarah tinggi. Apalagi gedung itu termasuk bangunan cagar budaya, yang juga diamanatkan undang-undang terkait perlindungannya.

“Jangan dibiarkan mangkrak, nanti lama-lama rusak atau roboh seperti gedung di sebelahnya,” lanjutnya. 

Catatan sejarah, di Marabunta, juga pernah menampilkan tarian striptis pertama di Indonesia. Waktu itu yang menari Margaretha Geertruida Zelle atau yang tenar disapa Putri Matahari. Penari erotis berdarah Paris, Prancis ini menikah dengan Mayor Rudolh Mc.Leod, seorang perwira KNIL Hindia Belanda yang tinggal di Semarang.

Gedung Marabunta sangat megah dan berarsitektur unik, yakni seperti kapal terbalik. Gedung ini dibangun pada tahun 1854 pada masa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dulu gedung ini digunakan untuk gedung pertunjukkan opera, tari ballet, musik, dan seni modern lain. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here