ilustrasi: pixabay.com


Oleh:

Tjoki Aprianda Siregar

Perhimpunan Bangsa – Bangsa Asia Tenggara atau populer dengan singkatannya ASEAN akan memperingati 53 tahun berdirinya pada tanggal 8 Agustus mendatang  di tengah pandemi Covid-19 yang menghantui dunia.

Di bawah kepemimpinan Vietnam sebagai ketua organisasi regional tersebut, ASEAN baru-baru ini melaksanakan pertemuan tingkat tingginya secara virtual pada 26 Juni 2020. Pertemuan bertemakan “ASEAN yang Kohesif dan Responsif”, ASEAN telah menunjukkan komitmen kuat mereka untuk tetap bersatu dalam menanggulangi dampak pandemi Covid-19.

Mendapatkan laporan meningkatnya jumlah warga negara-negara ASEAN yang terpapar virus Corona, negara-negara ASEAN melalui pernyataan bersama ketuanya menyadari tantangan-tantangan yang muncul dan belum pernah terjadi sebelumnya sebagai akibat pandemi Covid-19. Pernyataan itu menilai perlunya upaya bersama seluruh negara anggota dan tanggap bersama ASEAN melalui pendekatan multi-pemangku kepentingan dan multisektor berupa pembentukan Kelompok Kerja Dewan Koordinasi ASEAN mengenai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat ASEAN.

Dengan latar belakang ke-3 pilarnya, yakni Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN (KPKA, Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA), dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN (KSBA), negara-negara ASEAN menegaskan kembali komitmen mereka dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut untuk mewujudkan visi masyarakat  ASEAN tahun 2025.

Visi dimaksud adalah untuk menciptakan masyarakat ASEAN berdasarkan aturan, berorientasi pada rakyat dan terpusat pada kepentingan rakyat dalam lima tahun ke depan.

Meski demikian jelas mengenai hal-hal yang ingin diwujudkan organisasi regional ini, dunia luar tampak tidak yakin, dan mempertanyakan relevansi ASEAN di dunia saat ini, dengan semakin banyak tantangan yang muncul dari waktu ke waktu, seperti pandemi Covid-19.   

Keraguan atas relevansi ASEAN saat ini tidak dapat dihindarkan segera setelah klaim kepemilikan wilayah sepihak dari Tiongkok atas perairan Laut China Selatan (LCS)  muncul ke publik pada tahun 2015, dengan negara berpenduduk terbanyak di dunia tersebut menegaskan kepada dunia mengenai batas wilayah perairannya di LCS sesuai yang dinamakannya “9 garis putus-putus” pada peta LCS.

Klaim Tiongkok dimaksud tidak segera ditanggapi oleh negara-negara ASEAN sebagai satu kesatuan. Suasana sebelumnya dan terkait beberapa negara ASEAN adalah Tiongkok berbaik hati memberikan hibah, bantuan teknik, dan pinjaman dengan suku bunga rendah. Negara-negara itu adalah Myanmar, Kamboja, dan Laos. Karenanya ketiga negara itu seperti “terjebak” dalam posisi yang canggung untuk dapat menerima usulan negara-negara rekannya di hampir setiap forum ASEAN untuk mengecam klaim Tiongkok.

Diplomat Singapura yang juga mantan Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Barry Desker, menyebutnya situasi kecanggungan sebagai “…. imbas pengaruh Tiongkok terhadap sebagian negara anggota ASEAN untuk mencegah keputusan apa pun yang dapat berdampak pada preferensinya di setiap perundingan bilateral, akan semakin menyulitkan bagi negara-negara ASEAN  untuk mencapai konsensus”.

Dalam lima tahun terakhir, Tiongkok tampak semakin penting bagi ASEAN. Sebut saja;  pendirian Bank Investasi Infrastruktur Asia usulan Tiongkok, yang juga dipimpin negara itu, beserta program-program Inisiatif Sabuk dan Jalan dari Tiongkok, yang keduanya disambut baik dan dipadukan oleh negara-negara ASEAN ke dalam program kerjasama mereka.

Keberatan Amerika Serikat (AS) malah ditanggapi dengan ketertarikan negara-negara sekutunya untuk bekerjasama atau terlibat dalam program-program Bank Investasi Infrastruktur Asia.

Australia, Korea Selatan, dan Jepang yang semula bersikap memboikot bank yang bermarkas di Beijing tersebut dilaporkan tengah mempertimbangkan kembali untuk mengubah sikap mereka.

Meskipun ASEAN terkesan rentan dalam menangkal pengaruh Tiongkok dalam lima tahun terakhir, dan AS tampak menjauh dari organisasi regional itu, pengamat politik Alexander Feldman berpendapat berbeda. Dalam tulisannya tanggal  23 April 2020 yang dimuat di jurnal Strategic Review, Feldman menyoroti hubungan cukup lama yang telah berlangsung antara Asia Tenggara dan AS, yang diyakininya akan terus berlanjut meski akan menghadapi persaingan ketat Tiongkok.

Dia juga percaya bahwa, siapapun yang akan memenangkan pemilihan presiden AS dan akan dilantik pada 20 Januari 2021, meski itu Trump, “ASEAN masih akan mendapat tempat penting dan menjadi kawasan prioritas dalam kebijakan luar negeri AS di Asia”. Menurutnya pemerintahan AS di masa lampau, baik dibawah Partai Republik maupun Demokrat, senantiasa menegaskan kembali pentingnya sentralitas ASEAN sebagai inti kebijakan luar negeri AS.

Feldman melontarkan argumen bahwa sejak tahun 2009, Presiden AS selalu menghadiri pertemuan-pertemuan tingkat tinggi ASEAN, kecuali pada tiga kali pertemuan.

Merujuk pada pertengahan tahun 1960-an, diketahui luas bahwa ASEAN dibentuk lima negara Asia Tenggara karena didorong kekhawatiran terhadap ancaman komunisme. Bagi mereka yang tumbuh dewasa pada tahun 1960-an, komunisme seperti “gelombang pasang laut yang sulit dibendung”.

Kelima negara pendiri ASEAN mengkhawatirkan komunisme karena mereka semua menghadapi ancaman pemberontakan kelompok komunis di negaranya masing-masing.  

ASEAN kemudian memetik keuntungan dari rangkaian perkembangan geopolitik yang terjadi pada tahun 1980-an. ASEAN berada di posisi menguntungkan pada saat Perang Dingin, dan selanjutnya mengambil manfaat dari retaknya hubungan Tiongkok dengan Uni Soviet.

Kishore Mahbubani berpendapat, seandainya hubungan kedua negara komunis besar dunia tersebut tidak retak, seluruh Asia Tenggara dapat saja terpengaruh atau bahkan dikendalikan oleh komunisme atau rezim-rezim pro-komunis.

Sebelum munculnya pandemi Covid-19, perlambanan ekonomi global telah mempengaruhi perekonomian di semua negara, termasuk Indonesia, dan diskursus yang terjadi di setiap belahan dunia seperti didominasi pandangan yang pesimistis. Mengutip perumpaan yang digunakan Kishore Mahbubani terhadap ASEAN, disebutnya seperti “kepiting”, bergerak maju dua langkah, satu langkah mundur, dan satu langkah ke samping, sehingga sulit mengatakan bahwa telah terjadi kemajuan.

Namun, apabila melihat dengan cermat, dengan menganalisis kemajuan yang dicapai ASEAN tiap dekade, gerakan maju ASEAN akan terlihat dan ASEAN terus bergerak maju. Kekuatan ASEAN sesungguhnya terletak pada kelemahannya, muncul sebagai platform satu-satunya bagi negara-negara besar dunia untuk terkoneksi dengan kawasan Asia Pasifik.

ASEAN karenanya terlalu lemah untuk menjadi ancaman bagi negara manapun. Seluruh negara besar di dunia mempercayai ASEAN. Mantan Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo mengistilahkannya sebagai berikut, “Pada akhirnya, cara ASEAN selalu akan dapat menemukan jalannya (dalam mempertemukan negara-negara besar), yang masih lebih baik daripada tidak melibatkannya sama sekali (dalam ketegangan atau pertentangan politik negara-negara besar di kawasan)”.

ASEAN telah bertransformasi dari organisasi regional yang terdiri dari negara-negara miskin di masa lampau menjadi platform diplomatik penting yang secara berkala mempertemukan negara-negara besar. ASEAN telah berkembang menjadi lingkungan yang kondusif bagi negara-negara maju untuk saling berkomunikasi. Menjaga keberadaan ASEAN dianggap banyak negara besar sejalan dengan kepentingan mereka. Sebagian di antara mereka, termasuk AS, Tiongkok, Jepang dan India, memiliki kepentingan bersama dalam menjaga keberlangsungan keberadaan ASEAN meski terdapat perbedaan kepentingan di antara mereka.

ASEAN sesungguhnya telah tumbuh menjadi organisasi regional terkemuka di kawasan. ASEAN tidak perlu menjadi organisasi regional seperti NATO dengan membentuk pasukan gabungan, misalnya, atau memberlakukan mata uang tunggal seperti Euro seperti halnya Uni Eropa.

ASEAN terbukti mampu mengumpulkan negara-negara besar untuk bersama-sama membahas isu-isu keamanan kawasan dan internasional atau isu-isu yang menjadi kepentingan bersama melalui Forum Regional ASEAN secara berkala. ASEAN juga telah berhasil menghimpun negara-negara besar seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, dengan India, Australia, dan Selandia Baru melalui platform penting seperti KTT Asia Timur, untuk merinci dan membahas program-program pembangunan yang mungkin dikerjasamakan.

Terakhir dan terkini, ASEAN akan terus menjadi semakin penting dewasa ini, dengan kemampuan menghimpun kekuatan-kekuatan besar dan negara-negara di dunia dalam lingkup yang jauh lebih luas, meliputi negara-negara di pesisir Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, dalam forum kerja sama Indo-Pasifik. Fenomena tersebut bermakna peran ASEAN menjembatani kepentingan dan ideologi berbeda negara-negara yang secara geografis terletak di benua berbeda sesungguhnya menunjukkan gaung relevansinya hingga kini.  

Jakarta, 27 Juli 2020

*Penulis adalah seorang diplomat senior, saat ini bekerja pada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta. Opini ini merupakan pandangan pribadi yang bersangkutan dan tidak mencerminkan pandangan lembaga ia bekerja.

Referensi:

Fajar, Taufik, KTT ASEAN, Menko Airlangga: Seluruh Negara Menuju New Normal, Okefinance, Okezone, 26 Juni 2020, economy.okezone.com

Feldman, Alexander, America 2020: Why Asean matters, Cover Story, Strategic Review by SGPP Indonesia, 23 April 2020

Ford, Lindsey, Does ASEAN Matter?, Asia Society Policy Institute, 12 November 2018, asiasociety.org

Heydarian, Richard Javad, Is ASEAN Still Relevant? The organization’s significance is in question during a critical year, ASEAN Beat, The Diplomat, 26 March 2015, thediplomat.com

Laeis, Zuhdiar, Kemenko Polhukam sebut ASEAN terus berkolaborasi kendalikan COVID-19, Antaranews, 13 Juli 2020, m.antaranews.com

Liputan6.com, Pengamat Unej Paparkan Alasan Negara ASEAN Dapat Atasi COVID-19, 14 Juli 2020, m.liputan6.com

Kurnia, Tommy, 10 Negara ASEAN dengan Kasus Corona COVID-19 Terendah hingga Tertinggi, Liputan 6, 30 Juni 2020, m.liputan6.com

Mahbubani, Kishore & Sng, Jeffery, The ASEAN Miracle, A Catalyst for Peace, NUS Press, Singapore, 2017

Nation, ASEAN is still relevant, says Dr M, The Star, 3 September 2019

Nugroho, Andreas Chris Febrianto, Seperti Main Mata, Malaysia Dianggap Pro dengan Tiongkok di Laut China Selatan Gegara Ambil Tindakan Berbeda dengan Negara ASEAN Termasuk Indonesia, Ini Buktinya!, Sosok.id, 18 Juli 2020  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here