FOTO-FOTO RUMPAN.ID/ERNA VIRNIA
Rumah Mbah Samini di Kampung Gisirejo Semarang Utara yang dibangun oleh Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, sudah bisa ditempati, Kamis (18/6/2020).


Ada yang tak biasa di raut wajah Mbah Samini,75, ketika ditemui di rumahnya di RT9/RWI, Kampung Gisikrejo, Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, ketika ditemui rumpan.id Kamis (18/6/2020) sekira pukul 11.00 WIB. Mbah Samini ketika itu terlihat ceria.

Dia baru saja memperoleh “rumah baru”: sebuah rumah panggung berbahan kayu. Rumah dengan model seperti itu, setidaknya bisa menentramkan usia senjanya melawan rob air laut. Sudah 10 tahun terakhir, rumah lamanya, yang berukuran kecil, selalu terendam rob. Beranjak dari ranjang kayu saja, pasti air sudah menggenang di lantai tanahnya, ketinggiannya sampai mata kaki bahkan bisa lebih ketika ditambah air pasang lebih tinggi dan hujan.

Sehari-hari, Mbah Samini tinggal bersama anak perempuannya bernama Waginah (40) dan cucunya bernama Dwi (10) yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sudah 1 dekade itulah mereka sehari-hari hidup “berdampingan” dengan rob. Sebetulnya, dulu Waginah punya suami, yang juga tinggal bersama. Namun, saat Waginah hamil muda, suaminya kabur.  Akhirnya tinggal mereka bertiga dalam satu rumah.

Penurunan tanah di wilayah pesisir memang jadi masalah yang melanda wilayah dekat pantai utara (pantura) Jawa. Tak terkecuali di Kampung Gisikrejo Semarang Utara itu, yang lokasinya tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Di kampung itu sebenarnya tak hanya rumah Mbah Samini yang rutin berurusan dengan rob, namun beberapa warga lain masih punya biaya untuk setidaknya membuat tanggul, menguruk tanah dan meninggikan bangunan guna menghindari rob.

Mbah Samini dan anaknya tak punya biaya untuk itu. Jadi mereka hanya bisa pasrah menunggu nasib dibetulkan. Dia hanya berdoa, dan barangkali hari itu doanya dikabulkan Maha Pemberi Hidup: rumahnya direnovasi jadi rumah panggung dan gratis.

“Dulu saya memang pernah berangan-angan untuk memperbaiki rumah saya ini, tapi kondisi badan saya yang sudah tua dan enggak punya pendapatan, angan-angan itu saya simpan saja,” ungkap Samini yang kerap sakit-sakitan itu.

Dia sungguh tak menyangka ada yang akan membantu membetulkan rumahnya itu. Bahkan, dia juga tak tahu pasti siapa yang datang untuk membetulkan rumahnya. Ingatannya sudah tak tajam lagi, selain karena kesehatan juga faktor usia.  

“Saya lupa siapa yang datang ke rumah saya waktu itu, alhamdulillah ternyata kata-kata orang itu benar, rumahku sekarang sudah diperbaiki,” jelasnya.

Di rumah barunya itu, Samini juga diberi kasur baru. Dia gembira sekali; sudah tidak kedinginan lagi dan basah kakinya oleh rob.  

Rumah panggung itu dibangun oleh Rumah Pancasila dan Klinik Hukum. Pendirinya, Yosep Parera, kerap datang ke Mbah Samini, termasuk saat Covid-19 melanda. Timnya juga kerap datang ke sana untuk sedikit membantu warga, termasuk Mbah Samini, berbagi sembako dan sempat membangunkan rumah pemandian jenazah di kampung itu.

Mbah Samini (paling kanan) bersama Dwi cucunya dan Waginah anaknya.

Waginah sendiri berterimakasih kepada Rumah Pancasila dan Klinik Hukum yang secara cuma-cuma membetulkan rumah itu.  

“Mohon maaf, ibu saya kadang lupa, tapi saya mewakili Ibu mengucapkan terima kasih kepada Pak Yosep dari Rumah Pancasila yang sudah membangunkan rumah untuk kami,” terang Ginah.

Di keluarga itu hanya Ginah yang bekerja. Pendapatannya seminggu Rp200ribu, bekerja sebagai buruh di sarang walet di dekat rumahnya.  

“Kami makan seadanya, kadang ya saya harus berhemat, karena Ibu juga kan sakit-sakitan butuh obat, ya uangnya saya pakai buat beli obat juga,” ungkap Gina.

Gina juga berterima kasih kepada Pak RT dan juga tetangga di sekitar rumahnya karena selama ini sudah banyak membantu keluarganya baik memberi bantuan berupa bahan makanan dan juga bantuan lainnya.

“Biasanya Pak RT itu yang sering ke sini, ngasih bantuan sembako, kadang ya dikasih beras, kadang juga tetangga pada datang ngasih bantuan makanan, ya Alhamdulillah masih banyak orang yang membantu keluarga saya,” katanya.

Pada kesempatan lain, Suwito seorang tukang yang membantu proses pembangunan rumah Mbah Samini mengaku senang karena oleh Rumah Pancasila dilibatkan langsung membantu warga yang membutuhkan.

Alhamdulillah tidak butuh waktu lama kami bisa menyelesaikan pembangunan rumah panggung Mbah Samini ini, jadi kini Mbah Samini bisa tinggal di rumah dengan nyaman dan tidak kebanjiran lagi,” katanya.

Kualitas bangunan, sebut Suwito, menjadi prioritas dalam mewujudkan rumah yang nyaman untuk Mbah Samini ini.

“Sedikit kendala yang kami hadapi kebetulan bahan baku kayu ini sekarang sudah mulai susah didapat, selain itu karena di sini lokasinya banjir, maka kami membuat kerangkanya itu di rumah, jadi sampai sini tinggal masang saja,” cerita Suwito.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here