FOTO RUMPAN.ID/MARGI ERNAWATI
Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Yosep Parera (berdiri berkaus hitam) ketika menyampaikan materi di depan para peserta workshop di SMA N 8 Kota Semarang, Sabtu (18/1/2020).


Merah merahnya darahku

Putih putihnya tulangku

Menyatukan badanku

Menghidupkan jiwaku

Merah merah benderaku

Putih-putih benderaku menyatukan bangsaku

Menyatukan nusantara

Penggalan bait lagu bertajuk “Merah Putih” ciptaan Yosep Parera yang dibawakan Grup Musik Rumah Pancasila menjadi pembuka workshop bertajuk “Merah Putih Memanggil” di SMA N 8 Kota Semarang, Jumat (17/1/2020). Kegiatan yang diikuti sekira 40 siswa-siswi setempat itu digelar oleh Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Semarang (USM).  

Pada kesempatan itu Yosep Parera selaku Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum menjadi salah satu narasumber, namun ada yang berbeda dari materi yang disampaikan. Adalah transfer pengetahuan, wawasan dengan dibalut musik.

“Bendera Merah Putih menjadi salah satu alat pemersatu bangsa,” ungkap Yosep Parera sesaat sebelum lagu Merah Putih itu dibawakan.

 Yosep menjelaskan bahwa simbol merah putih bendera bangsa Indonesia itu sudah tertanam di dalam jiwa setiap warga negara Indonesua. Yosep menggambarkan dalam lirik lagu bahwa merah ibarat darah dan putih adalah tulang yang menyatukan badan dan mengidupkan jiwa setiap manusia Indonesia.

“Jiwa-jiwa inilah yang akan menjaga Indonesia, karena akar dari sebuah tindakan radikalisme yang menuju ke arah terorisme merupakan praktik hidup yang sudah tidak mau peduli kepada sesama, dan adanya kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat,” terang Yosep.

Yosep juga menyayangkan jika kesenjangan dan ketidakadilan itu masih terjadi di negara ini. Karena hal-hal kecil itulah yang menjadikan seseorang menjadi sakit hati dan dendam kepada pemerintah karena merasa hak-haknya diabaikan.

“Jika hal ini masih terus dilakukan oleh negara melalui aparatur pemerintahannya, maka negara sendirilah yang jadi penyebab akar radikalisme terus tumbuh di masyarakat, yang tentunya akan menghambat pembangunan negeri ini,” katanya.

Yosep juga mengajak kepada generasi muda untuk bersama-sama menjaga dan mengawasi negara ini, karena merekalah kelak yang akan memimpin negeri ini.

Model ceramah epik yang dibawakan tim Rumah Pancasila yang memadukan ceramah dan lagu kebangsaan tersebut mampu menghipnotis peserta workshop.

Selain lagu Merah Putih, Band Rumah Pancasila juga membawakan beberapa lagu ciptaannya sendiri di antaranya; berjudul Doa Anak Bangsa karya Filo Parera, Lagu Rumah Pancasila, Bangsa Pelaut, dan diakhiri dengan lagu berjudul Bhinneka Tunggal Ika.

Wakil Humas SMA N 8 Semarang Setya Ika Rini menyambut baik acara workshop kebangsaan yang diselenggarakan menwa yang telah mengundang Rumah Pancasila dan Klinim Hukum.

Kehadiran tim Rumah Pancasila dalam acara tesebut dinilai menjadi obat kebosanan di tengah metode ceramah yang masih massif dilakukan dalam setiap acara seminar maupun workshop yang ada selama ini.

“Saya awalnya takut, saat dikabari oleh panitia akan menggundang Rumah Pancasila, bayangan saya nanti anak-anak didik saya akan sangat bosan yang seharian dengerin orang ngomong di dalam ruangan,” terang Rini sapaan akrabnya saat ditemui tim rumpan.id.

Rini juga mengaku kagum dengan materi yang disampaikan oleh Rumah Pancasila, bahkan dirinya mengaku tidak menyangka bahwa peserta didiknya dipertontonkan hal yang sangat bermanfaat dan menghibur. Hal itu terlihat dari antusias peserta didik yang tetap semangat mengikuti acara dari awal sampai selesai.

“Iya tadi saya melihat anak-anak didik saya tidak ada yang meletakkan kepalanya di meja saat tim dari Rumah Pancasila menyampaikan materi, itu menunjukkan bahwa acara ini sangat sukses, biasanya kan anak-anak gampang bosen klo disuruh ikut seminar atau workshop,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here