FOTO RUMPAN.ID/Yana Ade Rizakie
Tim Rumah Pancasila Dan Klinik Hukum, (hbaju hitam, dari kiri) Sigit Wibowo, Indra Parito, dan Adi Laksono mendampingi Ibu F, saat dimintai keterangan di Polres Jepara, Rabu (25/09/2019).

SEMARANG – Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang mendampingi seorang pemuda berinisial F (20) yang menjadi korban dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum Polres Jepara.

F adalah warga Desa Buaran, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Pendampingan hukum ini diberikan secara gratis.

Pada Rabu (25/9/2010) lalu, tim advokat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang; Sigit Wibowo, Indra Parito, Adi Laksono dan Yana Ade Rizakie mendampingi ibunda F di Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Jepara. Keperluan ibunda F di sana untuk dimintai keterangan terkait kasus yang menimpa anaknya.  

Kasus yang menimpa F, diawali ketika dia menonton acara musik di Desa Mulyolobo, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara pada 10 Juli 2019 malam.

Pada acara itu terjadi rusuh, bentrok antarpemuda. Insiden itu salah satunya membuat sebuah kaca mobil dinas polisi pecah. F dituduh yang memecahnya.

F yang tidak merasa tentu saja mengelak. Cekcok mulut dengan beberapa oknum aparat kepolisian terjadi. Seminggu berselang, F yang sedang menonton hiburan musik di daerah Kecamatan Batealit, Jepara, diringkus aparat kepolisian, untuk dimintai keterangan terkait kasus pemecahan kaca sebelumnya.

“Mungkin karena dendam cekcok itu mas, jadi adik saya yang dibawa,” kata Jefri, kakak F saat dihubungi rumpan.id via Whatsapp, Rabu (2/10/2019).

F tidak mau memberikan keterangan langsung kepada wartawan karena masih trauma dengan insiden yang menimpanya.

Menurut keterangan Jefri, adiknya mendapat berbagai perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa oknum polisi saat dibawa ke Polres Jepara sesaat setelah ditangkap di daerah Batealit.

Tindakan yang diterima F mulai dari pemukulan hingga digigit oleh oknum polisi.   

“Bahkan saat di Polres, adik saya disuruh bersihin kakus pake mulut,” lanjut Jefri.

F diminta mengaku melakukan pemecahan kaca mobil dinas polisi. Tapi, karena tidak melakukan F bersikukuh tidak mengakuinya. F akhirnya dibebaskan karena tidak cukup bukti.

Tak lama setelah insiden penganiayaan itu, F mengadu ke Seksi Profesi dan Pengalaman (Propam) Polres Jepara. Laporannya pada 19 Juli 2019. Laporan ini ditindaklanjuti Propam dengan melakukan pengumpulan bahan keterangan hingga pemeriksaan terhadap para oknum polisi terduga pelaku penganiayaan itu.  

Ada tiga oknum polisi yang diperiksa Propam. Melalui putusan sidang disiplin Propam teregister No.B/08/VIII/2019 ketiga oknum polisi itu dijatuhi hukuman berupa penundaan kenaikan pangkat selama satu periode dan penahanan khusus.  

Merasa hukuman yang diterima 3 oknum polisi itu terlalu ringan dan tidak menimbulkan efek jera, F melaporkan mereka secara pidana di Satuan Reskrim Polres Jepara. 

Advokat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Sigit Wibowo, yang mendampingi perkara ini mengatakan, kasus F, memenuhi unsur untuk dilanjutkan ke ranah pidana sesuai dengan putusan bersalah dari Propam Polres Jepara.

“Kami laporkan sesuai dakwaan saat sidang profesi, Pasal 170 dan/atau Pasal 351 ayat (1) KUHP,” terang Sigit.

Sigit juga menjelaskan, saat ini kasus F sudah dilakukan BAP, dan sedang menunggu hasil penyidikan dari Polres Jepara.

“Sudah BAP, sedang menunggu hasil,” lanjutnya.

Sigit mengemukakan, kasus ini adalah pelanggaran terhadap sila ke-2 Pancasila, di mana filosofinya adalah merawat kemanusiaan.  

“Klien kami diperlakukan tidak seperti manusia, disuruh bersihkan kakus dengan mulut,” tegas Sigit. (sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here