FOTO RUMPAN.ID
Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera, menunjukkan foto-foto Monumen Ketenangan Jiwa saat menyampaikan keterangan pers kepada media, di Kantor Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Jalan Semarang Indah Blok D15/32, Kota Semarang, Senin (10/6/2019).

SEMARANG – Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang, Theodorus Yosep Parera mengirimkan surat rekomendasi kepada Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Isinya, agar peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang, juga digelar di Monumen Ketenangan Jiwa.

Menurut Yosep, Monumen Ketenangan Jiwa di kawasan pesisir Pantai Baruna, tepi muara Sungai Banjir Kanal Barat, juga menyimpan peristiwa pertempuran pemuda Semarang melawan warga Jepang, 15-19 Oktober 1945, silam.

“Ceritanya, sekitar 150 tentara sipil Jepang yang jalan kaki dari Weleri, Kendal, menuju pusat tentara di Jatingaleh, dihadang pemuda Semarang di sana. Akhirnya terjadi peperangan. Mayat-mayat orang Jepang dan pemuda Semarang, dilarung (dihanyutkan) di sungai itu,” tuturnya, Senin (10/6/2019).

Yang menarik, lanjutnya, ada orang Jepang yang menuliskan ‘hidup kemerdekaan Indonesia’ dengan bahasa Jepang, menggunakan darahnya sendiri.

“Ini sejarah yang tidak boleh dilupakan. Karena itu, kami mengirimkan surat rekomendasi kepada wali kota agar Monumen Ketenangan Jiwa dipugar. Dan peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang tidak hanya di Tugu Muda saja, tapi juga di sana,” bebernya.

Jika Pemkot Semarang tidak menanggapi, Yosep berencana bakal mengumpulkan warga Semarang, untuk bersih-bersih Monumen Ketenangan Jiwa. Tidak mentup kemungkinan, juga menggelar acara saat peringatan pertempuran lima hari.

“Surat rekomendasi juga kami tembuskan ke presiden, DPR RI, dan Gubernur Jateng. Agar menjadi perhatian, karena tempat ini juga berpotensi untuk kawasan wisata, terutama untuk turis dari Jepang. Selain itu, juga membuka lapangan kerja baru,” harapnya.

Munumen Ketenangan Jiwa dibangun atas inisiatif warga Jepang yang notabene keturunan dari tentara Jepang yang tewas saat era penjajahan. Monumen itu dibangun 14 Oktober 1998 yang diresmikan mendiang Wali Kota Semarang Soetrisno Soeharto.

Nuansa peninggalan bangsa Jepang sangat mencolok dari pahatan unik yang tergores jelas di batu tersebut. Berupa huruf Kanji atau aksara Jepang. Pada bagian atas, tulisan Jepang tertulis cukup besar. Sementara di bagian bawah tertulis kecil-kecil dalam jumlah banyak. Penyusunannya tergolong sangat rapi. 

Huruf Kanji yang terpahat di batu itu, merupakan nama-nama tentara Jepang yang tewas dalam pertempuran. Sebagian lain adalah warga Jepang sipil yang juga tewas terbunuh sebagai imbas pecahnya pertempuran dengan pemuda Semarang.

Konon, warga sipil Jepang itu merupakan para pegawai yang tinggal di Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal. Di sana mereka bekerja pabrik milik Jepang. Saat pertempuran lima hari pecah, mereka yang terancam lalu secara sembunyi-sembunyi mencari perlindungan. Mereka berjalan kaki menuju pusat tentara Jepang di Jatingaleh Semarang. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here