sumber: https://image.freepik.com/free-vector/map-indonesia_23-2147839464.jpg

S

Oleh: Yosep Parera

(Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum)

Pada tanggal 19 September 1951, ketika mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada, Presiden Sukarno berkata:

“Pancasila yang Tuanku promotor sebutkan sebagai jasa saya itu, bukanlah jasa saya. Oleh karena saya, dalam hal Pancasila itu, sekadarlah menjadi ‘perumus” daripada perasaan-perasaan yang telah lama terkandung bisu dalam kalbu rakyat Indonesia, sekadar menjadi ‘pengutara’ daripada keinginan-keinginan dan isi jiwa bangsa Indonesia turun temurun…Pancasila itu telah lama tergurat pada jiwa bangsa Indonesia. Saya menganggap Pancasila itu corak karakternya bangsa Indonesia”

Penekanan berulang pidato Sukarno, terbaca pada kalimat “jiwa bangsa Indonesia”. Pertanyaan yang timbul kemudian, apa itu jiwa?

Jiwa atau jiva berasal dari bahasa Sansekerta, yang artinya benih kehidupan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jiwa memiliki arti roh manusia yang ada dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup.

Pengertian roh manusia, mendorong kita untuk melirik arti jiwa dalam kacamata psikologi, yang menurut Hakam Abbas dikatakan:

“Jiwa merupakan cermin dari perilaku yang dimunculkan seseorang dalam bentuk tindakan dan perbuatan nyata, yang meliputi tindakan yang dapat diamati maupun tindakan yang tidak diamati secara langsung”

Sukarno secara tegas mengatakan, saripati jiwa Pancasila adalah gotong royong.

Maka, saripati jiwa Pancasila adalah gotong royong antar semua kelompok agama/kepercayaan kemudian mempraktikkan kemuliaan Ilahi yakni melakukan yang benar, baik dan luhur di rumah Indonesia. 

Gotong royong antarmanusia dalam spirit mulia sila ke-1 untuk menegakkan kemanusiaan, keadaban dan keadilan di rumah Indonesia.

Gotong royong antara sesama anak bangsa dalam spirit mulia sila ke-1 dan keharusan normatif sila ke-2 untuk menjaga persatuan di rumah Indonesia.

Gotong royong antara semua penyelenggara negara dalam spirit mulia sila ke-1, keharusan normatif sila ke-2 dan semangat persatuan sila ke-3 untuk bersama-sama secara hikmat-bijaksana dan musyawarah mufakat mengelola negara dalam rangka melayani kepentingan rakyat sebagai pemilik rumah Indonesia.

Gotong royong antara sesama warga masyarakat, kaya dan miskin, kuat dan lemah atas dasar spirit mulia sila ke-1, keharusan normatif sila ke-2, semangat persatuan sila ke-3 dan misi luhur sila ke-4 untuk saling berbagi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang menghuni rumah Indonesia.

Apakah saya, kamu atau kita Indonesia? Hanya cermin perilaku kita dalam berpikir, berbicara dan bertindak yang menjawabnya. 

Tapi, kami di Rumah pancasila dan Klinik Hukum lantang berteriak: Kami Indonesia! 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here