Seorang anak kecil rela meninggalkan waktu bermain dan belajarnya demi membantu orang tuanya bekerja mencari nafkah. Dia bekerja keras, tidur lebih larut dari sebayanya, meski esoknya harus sama-sama berada di sekolahan.

Di Indonesia, gotong royong sudah jadi urat nadi. Gotong royong bisa dimulai dari lingkup keluarga, seperti terlihat di foto itu, anak membantu mencuci piring di warung makan kaki lima milik orang tuanya.

Menurut United Nations Children’s Fund (UNICEF), ada perbedaan antara pekerja anak dengan buruh anak. Pekerja anak, asalkan pekerjaannya ringan, tidak mengganggu pendidikan anak dan tidak berbahaya bagi kesehatan anak, bisa dibenarkan. Bahkan, dianggap baik karena melatih anak.

Sementara, buruh anak jelas dilarang. Perburuhan anak, bahkan ada yang ekstrim, seperti; anak yang dipekerjakan sebagai pelacur, anak bekerja di kawasan terpencil, anak bersentuhan dengan zat-zat kimia berbahaya, dan anak yang mengoperasikan peralatan mesin berbahaya.

Belakangan ini juga ada kekhawatiran ekstra tentang modus baru perburuhan anak dalam bentuk ekstrim, yaitu anak-anak yang mulai dimanfaatkan sebagai kurir narkoba. 

Di sini, peran orang tua dalam membentuk karakter anak sangat penting. Anak diminta membantu bekerja atau dipaksa bekerja, hasilnya akan berbeda.

Semoga anak-anak Indonesia yang sejak dini sudah ditanami benih-benih gotong royong di lingkup keluarga, bisa menjadi generasi penerang bangsa. (Ajie Mahendra)

FOTO: AJIE MAHENDRA

Seorang anak usia SD tampak gesit mencuci piring, membantu orang tuanya yang membuka warung makan kaki lima di salah satu sudut kota.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here