Foto Istimewa
Sejumlah seniman Demak suarakan bencana banjir rob yang menenggelamkan Dukuh Nyangkringan Desa Sriwulan Kecamatan Sayung Kabupaten Demak selama puluhan tahun lewat kesenian secara virtual, Minggu (27/6) Pagi.

DEMAK – Komunitas Rumah Kita (Koruki) sebuah komunitas sosial di Demak bersama sejumlah seniman menggelar  teatrikal virtual. Pertunjukan ini untuk mengenang rumah warga di sekitar Dukuh Nyangkringan Desa Sriwulan Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak yang terendam air akibat rob selama puluhan tahun.

“Pertunjukan virtual ini kami lakukan berawal dari rasa duka dan keprihatinan kami atas nasib warga Desa Sriwulan yang sudah puluhan tahun rumahnya tergenang air rob dan sampai saat ini belum ada perhatian dari Pemda setempat,” terang Ketua Koruki Kusfitria Marstyasih melalui keterangan tertulis yang diterima rumpan.id Sabtu (27/6) sore.

Kusfitria menyebut pertujukan yang menampilkan para seniman Demak ini sengaja digelar sebagai bentuk ekspresi. Selain itu juga sebuah ajang pembuktian bahwa jiwa seniman yang tidak akan pernah mati gaya untuk terus berkarya walaupun bencana melanda apalagi di tengah pandemi seperti ini.

Sementara itu, lokasi pertunjukan dipilih di tengah genangan air rob. Lokasi ini merupakan satu dari 21 desa di pesisir Kabupaten Demak yang terancam tenggelam akibat pengikisan di daerah pantai karena gelombang dan air laut yang terjadi di wilayah itu.

“Para seniman ingin membuktikan, di mana saja dan kapan saja ketika jiwa seni berontak maka tak perlu manja dengan fasilitas yang ada, walaupun di tengah genangan rob tapi tak akan menyurutkan kreatifitas kami,”ungkapnya.

Sedangkan waktu pementasan dipilih panitia pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB. Hal ini sebagai antisipasi air laut pasang ketika menjelang siang hari, yang menyebabkan akses jalan menuju tempat pertunjukan tidak bisa dilalui kendaraan.

Teatrikal diawali dengan pertunjukan seorang penari, penggurit dan dua pelukis yang  berkolaborasi menunjukkan kebolehan masing-masing di tengah genangan air yang hampir merendam setengah tubuhnya.

Selanjutnya penggurit berada di atas sampan kecil, membawakan geguritan diselingi tembang Jawa. Sampan yang terombang ambing oleh angin laut direspon oleh sang penari yang menyibakkan selendang di tengah genangan air yang hijau kecokelatan.

Sementara para pelukis asyik mengekspresikan imajinasi di atas kanvas berukuran satu depa. Pertunjukan itupun ditutup dengan berjalan beriringan menuju daratan sebagai simbol kemenangan bersama dalam melawan bencana yang telah mengancam jiwa rakyat.

“Idenya untuk membuat kolaborasi seni ini merupakan sebuah upaya dokumentasi. Apabila desa ini nantinya benar-benar tenggelam setidaknya ada jejak digital yang telah mencatat sejarah bahwa di sini pernah ada kehidupan warga yang gemah ripah loh jinawi,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here