Roestono memperlihatkan karya ukiran cangkang telur yang biasa dijual antara Rp50ribu hingga Rp75ribu.

Roestono mampu menyulap sampah cangkang telur menjadi rupiah. Bermodalkan bor dan alat lukis, cangkang telur diolah menjadi buah tangan dan hiasan yang cukup menarik.

Di depan rumahnya, Roestono menunjukkan beberapa karyanya. Ada cangkang telur berlukis tokoh kartun, pemandangan desa, motif batik dan sejumlah lukisan lainnya. Tidak hanya itu, ada juga telur yang diukir membentuk pola cukup menarik.

Untuk membuat karya ini Roestono memanfaatkan telur ayam, bebek dan telur angsa dengan ukuran lebih besar. Ia cukup menguras habis isinya untuk kemudian membubuhkan lukisan pada cangkang telur tersebut.

“Membersihkannya pakai suntikan. Disemprot sampai semua isinya keluar dan bersih. Jangan terlalu kencang, karena bisa pecah,” ujarnya, Senin (11/11/2019).

Untuk urusan gambar menggambar, ia menyerahkan kepada rekannya, Jatmiko. Pria asal Jimbaran, Kabupaten Semarang yang kini tinggal di sebelah rumahnya, Jalan Cimandiri 10 Kelurahan Mlatiharjo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang.

Sampai di sini, kesenian yang dibuat Roestono terkesan tidak terlalu sulit untuk dibuat. Seperti tanpa tantangan. Tapi tunggu dulu, tantangan muncul ketika ia harus membuat ukiran pada telur.

Modalnya memang bor kecil. Itu modal alat. Tapi ada yang lebih penting, yaitu modal ketelitian dan ketelatenan. Sebab, ia harus mengukir pada bahan dengan tekstur mudah pecah.

“Sebenarnya paling enak mengukir di telur ayam. Karena teksturnya keras. Tidak gampang pecah,” ujarnya.

Tanpa kehati-hatian, upaya membuat karya seni ini akan berakhir menggemaskan. Bagaimana tidak, pernah satu waktu ia membuat ukiran telur. Satu persen menuju selesai, telur yang ia hadapi remuk karena sedikit kelalaian.

“Yang bolong-bolong ini sepertinya sepele. Hanya dilubangi. Tapi ini butuh ketelatenan,” kata dia sembari menunjuk telur angsa yang diukir dengan banyak lubang.

Karya tangan terampil Roestono

Hasil karyanya Roestono dijual dengan harga bervariasi. Tergantung tingkat kerumitan dan kesulitannya. Biasanya untuk telur ayam biasa, ia bisa menjual dengan harga Rp50ribu hingga Rp75ribu. Untuk yang dari telur angsa, bisa dibanderol hingga Rp200ribu sampai Rp300ribu.

“Sebab telur angsa ini belinya saja per butir bisa Rp30ribu. Itu yang kecil. Kalau yang besar bisa sampai Rp50ribu,” ujar pria yang juga membuka toko sembako di rumahnya ini.

Beberapa hasil karyanya sudah laku terjual sebagai suvenir dan buah tangan. Ia berharap, ke depan bisa mendapat kemudahan untuk melakukan pemasaran. Sebab, hingga saat ini kendala yang dihadapinya hanya dalam hal pemasaran saja.

“Kalau pembuatan tidak terlalu susah. Karena kalau hanya gambar saja sehari bisa membuat banyak. Kalau ukir butuh waktu sampai 3 hari,” bebernya. Untuk cangkang telur berukuran besar, setelah diukir, biasanya dijadikan karya semacam kap lampu. Hasilnya cukup menarik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here