Oleh: Theodorus Yosep Parera

(Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum)

Aksi teror bermodus pembakaran kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, marak terjadi di Jawa Tengah dua bulan terakhir.

Insiden ini seolah menjadi seri terbaru dari rangkaian intimidasi selama “tahun politik” negeri ini.

Ini menjadi ironis. Sebab, gelaran pemilihan umum (Pemilu) yang diwacanakan sebagai “pesta rakyat”, “pesta kegembiraan” justru malah tampak sebagai “ajang membuat pilu” dengan cara bebas menebar ketakutan dalam beragam modus.

Sungguh benar, pada masa-masa menjelang Pemilu, sudah untuk membedakan mana orang baik mana orang jahat.

Dalam masa seperti itu, semua orang berlomba memberi kesan orang baik-baik. Tapi meyakinkan orang tentang siapa kita, membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata.

Siapa kita? Kata Allen Wheelis, ditentukan oleh apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita katakan.

Sebab, para siluman jahat pun selalu berteriak tanpa henti tentang dirinya sebagai orang baik, pro-rakyat, pro-demokrasi. Namun, apa yang mereka lakukan?

Dipaksakannya rasa takut supaya rakyat tunduk!

Disebarkan hoax multimedia supaya rakyat tertipu!  

Dikibarkan, dinobatkannya maxim tujuan “menghalalkan segala” cara demi menggenapi keinginan menang!

Mereka merusak dan menghancurkan demokrasi tanpa malu-malu. Mereka adalah para diktator.  

Dalam fragmen The Monster of Mr. Cogito karya penyair Polandia, Zbigniew Herbert (1924 – 1998), diktator itu seperti monster. Katanya, para monster itu bagai depresi berat yang menimpa seluruh negeri.

Dia menyebar kematian, keberadannya bagaikan gas beracun menyergap rumah-rumah, tempat-tempat peribadatan hingga pasar-pasar.  

Dia meracuni sumur-sumur, merusak struktur pikiran dan membuat roti jadi berjamur.

Begitulah karakter diktator. Dia merusak dan menghancurkan apa saja tanpa ketahuan. Sulit dibuktikan bahwa ia ada.               

Menurut Zbigniew, satu-satunya bukti bagi “keberadaannya” adalah adanya korban yang berjatuhan. Sehingga hanya satu, ya, satu-satunya yang mengusik “nurani”-nya, yakni mengemas kebusukan dalam hoax, jargon, mitos, rekayasa yang serba artifisial.

Maka teringatlah kita pada kelicikan Mephistopheles dalam “kisah” adegan pertama opera “Faust” karya Charles Gounod.

Berkat tipu daya Mephistopheles, Faust—filsuf tua renta—yang tergila-gila pada Margereuite—dara ayu dengan guratan-guratan merah pipinya, telah menjual jiwanya pada raja dusta itu (Mephistopheles).

Dibuatnya Faust selalu terbayang akan si jelita Margereuite yang sedang mengatih benang tenun sambil bersenandung merdu. Dalam buaian Mephistopheles, Faust melayang dalam “gelora kesenangan duniawi—eros”:

“Betapa kudambakan,

kesenangan dan kemudaan!

Kudambakan belaiannya,

dan asmara berahinya.!   

Kuinginkan keperkasaan

Dorongan menggelora

Dan gelimang nikmat gila-gilaan

Dalam hati, dalam rasa

Kemudaan berkantar nafsu

Kudambakan asmaramu

Kuinginkan pesonamu

Kurindukan kenikmatanmu “ (dikutip dari Liek Wilardjo,1990:144).

Faust terjebak dalam tipu daya Mephistopheles meneken kontrak untuk menikmati kesenangan duniawi, meski harus ditukar dengan “jiwanya”.

Faust telah terperangkap dalam jeratan Mephistopheles dan menjadi budak abadinya.

Dengan tebusan jiwanya, Faust memang memperoleh kejantanan, kemudaan, keperkasaan, dan perhatian si jelita Margereuite. Bersama Margereuite, Faust jatuh ke dalam kekuasaan si raja iblis, Mephistopheles.

Seperti kisah “Faust”, siluman-siluman jahat bakal menggoda dan memaksa pemilih menjual jiwa dalam jeratan muslihat mereka.

Karena itu, tidak ada salahnya apabila kita ingat kembali nasihat leluhur:

“Hendaklah senantiasa eling lan waspada!”

Ya! Tetap ingat dan waspada meski di tengah kemelut, terlebih menghadapi Pemilu mendatang.

Siasat memang sangat perlu, tapi siasat untuk kepentingan orang banyak, siasat untuk membangun Indonesia lebih baik, siasat untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran.

Siasat para pendiri bangsa dalam memerdekakan Indonesia, untuk Indonesia, bukan untuk saya, untuk kamu tapi siasat untuk kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here