Silaturahmi Kebangsaan Rawat Persatuan

    0
    47

    CIREBON – Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol Tito Karnavian bersama Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menghadiri acara silaturahmi kebangsaan di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (26/1/2019).

    Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB. Pada kegiatan itu, Kapolri didampingi sejumlah pejabat utama Mabes Polri, mulai dari Kadiv Humas, Dankor Brimob dan Karo Provos Divpropam Polri.

    Sebelum kegiatan dimulai, Kapolri dan Panglima TNI bersilaturahmi bersama pengasuh ponpes setempat, di kediaman K.H. Moh. Mustofa Aqiel Siroj, yang masih di dalam area ponpes.

    Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian dilanjutkan sambutan dari K.H. Moh. Mustofa Aqiel Siroj.

    Selaku pengasuh, Mustofa Aqiel Siroj, menyampaikan bahwa pembangunan negara ini terdiri dari pembangunan fisik dan non fisik.

    “Pembangunan non fisik yaitu pembangunan mental melalui agama untuk memperkuat keyakinan dan keteguhan hati dalam kehidupan sehari-hari,” kata Aqiel, melalui siaran pers Mabes Polri yang diterima rumpan.id, Sabtu siang.

    Dia menyebut ponpes yang diasuhnya siap untuk mengamankan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti makna simbol Nahdlatul Ulama (NU) yang berbentuk dunia atau jagad. Maknanya, NU harus bisa mengayomi dan siap melayani orang sejagad.

    Kyai Mustofa Aqiel Siraj mengapresiasi dan bangga atas kunjungan pimpinan TNI dan Polri itu. Ini adalah pertama kalinya.

    “Dari Zaman Nabi Adam sampai sekarang, baru sekarang Panglima TNI dan Kapolri datang ke Pesantren KHAS Kempek,” lanjutnya.

    Pada kesempatan itu, Panglima TNI menyampaikan kehadiran mereka di pesantren itu dalam rangka kebulatan tekad untuk mempersatukan NKRI, sebab NKRI harga mati.

    Panglima TNI mengemukakan, secara formal, ponpes adalah tempat menimba ilmu. Namun, secara kultural, ponpes adalah tempat lahirnya gagasan-gagasan, sehingga peran kyai dan santri sangat sentral dalam menjaga keutuhan NKRI.

    “Keutuhan NKRI jangan sampai terkoyak koyak dengan fitnah, hoax, ujaran kebencian yang banyak timbul dari handphone, maka kita harus cerdas dalam melihat perkembangan zaman dengan menggunakan teknologi dengan baik dan bijak,” tutur Panglima TNI.

    Selain itu, kata Panglima, tanggung jawab menjaga negara adalah tugas seluruh lapisan masyarakat. Caranya, dengan merapatkan barisan untuk menyatukan visi dalam satu perahu untuk menjaga keutuhan NKRI.

    Pada kegiatan itu, hadir pula Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI Tri Soewandono beserta pejabat utama, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto, para pimpinan daerah setempat dan para sesepuh pesantren.

    Contoh Teladan

    Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, berargumen apa yang dilakukan Kapolri dan Panglima TNI adalah contoh yang perlu diteladani kita semua.

    “Bahwa sebagai pemimpin kita wajib untuk datang menyapa rakyat, mengajarkan serta menuntut rakyat untuk hidup secara baik dan benar di rumah Indonesia,” kata Yosep, Sabtu.

    Cara hidup yang baik dan benar itu adalah mempraktikkan nilai-nilai dan filosofi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup privat maupun publik.

    Nilai utama untuk dapat merawat manusia, menjaga Indonesia, merawat pemerintah dan mewujudkan keadilan sosial adalah dengan cara bertuhan sebagaimana sila ke-1 Pancasila.

    “Maka, marilah kita menjadi pemimpin yang meneladani dan menuntun kita dalam kebaikan, seperti yang dilakukan Kapolri dan Panglima TNI,” tutupnya. (eka setiawan)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here