Foto: Ajie Mahendra
Kepala Balai BPOM di Semarang, Safriansyah ketika menunjukkan contoh jamu ilegal di Festival Jamu dan Kuliner 2019 di Cilacap Jawa Tengah.

CILACAP – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tengah mengawasi jamu yang berkhasiat dan menjanjikan mampu mengobati penyakit. Diindikasikan, ada kandungan obat kimia dalam jamu tersebut.

Kepala Balai BPOM di Semarang, Safriansyah menjelaskan, tahun ini, pihaknya sudah memidanakan tiga pengusaha yang mencampur jamu dengan bahan kimia obat. Modusnya, beragam obat dicampur menjadi satu dalam kapsul, kemudian ditambahi serbuk jamu.

“Sampai September ini sudah ada tiga. Di Kota Semarang, Kabupaten Demak, dan terakhir di Kabupaten Tegal,” ucapnya di sela-sela Festival Jamu dan Kuliner 2019 di Lapangan Eks Batalyon 405 Kabupaten Cilacap, Jumat (27/9/2019) malam.

Dari jamu yang dicap ilegal tersebut, paling banyak jenis yang berkhasiat mengobati rematik dan obat kuat khusus pria dewasa.

“Jamu itu untuk menjaga kesehatan dan menghilangkan sakit ringan seperti kembung. Memang ada yang berkhasiat mengobati yang berat seperti hipertensi, rematik dan lain sebagainya. Tapi tidak cespleng. Khasiatnya tidak langsung terasa dalam satu atau dua jam,” tegasnya.

Dikatakan, jamu yang bisa langsung terasa khasiatnya, ada kemungkinan mengandung bahan kimia obat. Jamu jenis ini dianggap ilegal karena menipu masyarakat. “Atas nama jamu dari bahan alam, tapi mengandung kimia obat. Kalau dikonsumsi dalam jangka waktu lama, bisa membahayakan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, pihaknya mendorong pengusaha jamu di tingkat UMKM untuk melakukan sertifikasi produk. Dengan begitu, jamu yang diracik bisa diedarkan secara luas dengan jaminan standar mutu dan keamanan.

“Kami siap mendampingi. Dari produksi, hingga kemasan. Kalau biaya sertifikasi, hanya Rp 300 ribu-Rp 500 ribu. Semuanya transparan. Kalau ada yang bilang sertifikasi itu mahal, mungkin lewat calo,” tandasnya. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here