FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Direktur Perlindungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Herwan Chaidir.

Di tengah arus global, Indonesia dihadapkan pada ancaman masuknya paham-paham radikal. Propaganda-propaganda radikal menyebar secara masif tak terkecuali melalui media sosial.

Para tokoh bangsa ini, sejak awal sudah mempersiapkan penangkalnya, yaitu Pancasila. Terus menjaga sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila adalah cara yang paling tepat menjaga utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu diungkapkan Direktur Perlindungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Herwan Chaidir kepada tim rumpan.id.

Ketika berada di Semarang Kamis (22/8/2019), Herwan Chaidir menyediakan waktu khusus untuk wawancara dengan tim rumpan.id tentang fenomena tersebut.

Bagaimana pandangan Herwan Chaidir tentang Pancasila sebagai penangkal radikalisme terorisme, terutama di era global ini? Berikut wawancaranya.  

Sekarang ada fenomena radikalisme terorisme online, bagaimana?

Ya kalau kita berbicara radikalisme, terorisme online itu. karena yang melalui online itu mereka membuat konten-konten radikal, mengajak untuk sesuai keinginan atau paham mereka.

Artinya di situ ada hal-hal, kalau kita tidak melakukan apa namanya…sharing ataupun banyak referensi, kita akan termakan dengan omongan itu.

Dan karena online itu seperti contoh adik kita Nurshadrina (anak muda yang sempat tergelincir terbuai kelompok radikal), karena dia merasa jauh dari orang tua, maka medsos yang dia pegang.

Kemudian dia temukan akun tertentu di situ orangnya lemah lembut, bisa menarik simpati. Menimbulkan kesan inilah tempat saya harus bergantung, bertanya dan mengikuti apa gerak-gerik orang itu. Ternyata orang itu provokator juga secara halus.

Buktinya ajakan ke Siria dia ikuti dan ternyata apa yang terjadi tidak sesuai dengan fakta (tidak sesuai dengan janji-janji manis).

Inilah bahaya online itu. Maka harus cari pembandingnya, carilah referensi yang banyak  

Yang kedua, dari BNPT meluncurkan beberapa websitenya seperti jalandamai.com, ikuti kontennya di situ banyak narasi yang memberikan apa namanya…narasi yang benarlah seperti itu.

Pancasila bisa untuk menangkal?

Ya, kita itu begini. Kan mereka itu sebagai apa ya, konten-konten tadi mengajak kepada kesesatan, untuk apa namanya menimbulkan perlawanan kepada pemerintah, tidak suka kepada pemerintah, kan gitu. Menginginkan suatu perubahan, mengganti Pancasila kan begitu.

Nah ini kan artinya, perlu kita benahi, Pancasila ini perlu ditanamkan lagi untuk kembali ke generasi-generasi di bawah kita, juga kita sendiri.

Untuk memahami bahwa Pancasila, Pancasila itu kan sebagai guiden (penunjuk jalan) kita, way of life (jalan hidup) kita.  

Kalau seandainya tidak kita pahami secara kontinyu, terus-menerus, bisa hilang dari pikiran kita. Samalah seperti kita kalau tidak diasah begitu kan nantikan pisau itu jadi tumpul, kira-kira begitu.

Dengan banyaknya arus globalisasi dari luar, kemudian Pancasila kita lupakan, masuklah paham yang menurut versi orang itu kemudian kita sendiri menerima secara telak kan seolah-olah Pancasila tidak dianggap lagi, benar paham orang itu.

Padahal historis kita, yang menyatukan kehidupan berbangsa dan bernegara kita tadi dari semua komponen, dari Sabang samapai Merauke, 714 suku, 1044 bahasa kan begitu ya, Pancasila sebagai perekat, ditambah dengan bingkai Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda kita tetap satu. Seperti itu.

Jadi saya pikir Pancasila harus kita perkuat, dan kita tanamkan. Karena itu nilai-nilai luhur bangsa.

Pancasila itu bukan suatu agama, tapi kan ideologi kita yang menghantarkan kita, yang menuntun kita kepada kehidupan yang di tengah kemajemukan. Di pluralisme kita ini.

Nah kalau itu kita kawal dengan baik ya insya Allah kita jadi negara yang aman tenteram.

Kita bisa lihat? Istilahnya kalau Pak Harto dulu kan tinggal landas. Istilahnya, kita jadi betul-betul paripurna, mampu mensejahterakan bangsa dan negaranya.

Artinya tokoh bangsa sudah menyiapkan itu?

Ya itu, sudah disiapkan.

Masih relevan sampai sekarang?

Saya kira masih relevan sekali!

Tidak ada negara yang memiliki Pancasila (selain Indonesia). Tadi dijelaskan di Yugoslavia, Bosnia, Kroasia dan segala macam itu, mereka 3 etnik aja bisa pecah, iya kan?

Nah kita 714 suku (masih bertahan). Orang baru 3 suku sudah kewalahan. Jadi bukan tentaranya diperkuat, tapi bingkai-bingkai tadi, sendi-sendi kehidupan tadi yang kita jaga.

Sehingga muncullah yang namanya toleransi, cinta kepada Pancasila, cinta kepada NKRI. Tidak mudah mengkafir-kafirkan orang lain.

Tapi kalau kita tidak punya bingkai-bingkai tadi, semua paham radikalisme itu masuk, menerabas menerjang semua kehidupan generasi bangsa kita ini. Negara kita akan runtuh.

Kenapa runtuh, karena kita tidak punya fundamen yang kuat. Toleransi tidak ada? Bagaimana? Kita mau ke masjid tidak bisa, mau ke gereja tidak bisa, mau ke pasar tidak bisa, mau ke rumah sakit nggak bisa, karena apa? karena situasinya nggak jelas.

Nah itulah yang perlu kita tanamkan norma-norma itu. nilai-nilai luhur kita. Udah betul sekali udah.

Pancasila tidak ada yang duanya, menurut saya.

Banyak orang itu kan kafir (Pancasila)? Mengatakan Pancasila itu kafir? Kita bukan menyembah Pancasila, itu kan guiden kita.

Oh bendera itu kafir kita hormati? Itu kan simbol-simbol dari lambang negara, simbol-simbol dari perjuangan veteran-veteran kita. Kita bisa merebut kemerdekaan kita pancangkan tiang bendera.

Kita hormat bukan menyembah, tapi ada nilai-nilai luhur bangsa kita yang ada di situ ya.

Karena orang menegakkan, mengibarkan bendera merah putih itu berdarah-darah. Nyawa taruhannya.

Nah sekarang itu naik, hormatlah. Oh ada kakek saya, oh ada pejuang-pejuang bangsa di situ. Bukan kita menyembah 5 waktu kepada bendera, bukan. Jadi jangan salah artikan.

Kita bisa hidup tenang seperti itu karena mereka berjuang untuk siapa? Untuk NKRI, untuk kita semua. Nah itu yang harus kita tanamkan.

Kembalikanlah hakikat hidup kita seperti apa, tidak boleh seperti saling-saling menyalahkan. Kita harus hidup dengan toleransi yang baiklah di negara ini.

Kita ini majemuk, banyak. merdeka itu yang merebut dari Sabang sampai Merauke, ada perjuangan yang bersifat nasional. Artinya kalau itu yang bersifat nasional, jadi yang berjuang itu seluruh bangsa dan negara.

Tiba-tiba ada unsur kecil yang ingin melibas itu, ingin menancapkan keinginan mereka, ya pasti terjadi friksi, terjadi ketidakharmonisan.

Jadi seperti bensin dengan air, kita selalu ingin mengisi bensin dengan air, tiba-tiba masukkan air aja, mana mau jalan itu?

Jadi ini refleksi juga 74 tahun (HUT RI)?

Ya refleksi juga 74 tahun, saya pikir ya kita jaga perdamaian, persatuan dan kesatuan bangsa, jaga toleransi, jaga kata-kata kita.

Mulutmu adalah harimau bagimu? Apa artinya? Jangan sampai kita membuat statemen, kata-kata yang membuat tiba-tiba orang tersinggung, sakit hati. Jaga pakai perasaan, pakai hati, pakai naluri.

Hati harus dikedepankan, perasaan harus dikedepankan. Kalau kita digitukan orang kira-kira bagaimana? Mau nggak? Gitu kan.

Jaga keharmonisan bangsa kita, jaga perdamaian kita, jaga persatuan kita. Mari kita jaga persatuan bangsa ini bersama-sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here