*Milenial Dominasi Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas di Jateng

SEMARANG – Belasan ribu kecelakaan lalu lintas (lakalantas) terjadi di Jawa Tengah, selama tahun 2018. Dari lakalantas itu, tiga ribuan orang meninggal. Polisi menyebut korban terbanyak rata-rata usia produktif termasuk para milenial.

“Terbanyak jadi korban usia 25 sampai 35 tahun,” ungkap Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Rudi Antariksawan, di Mapolda Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis (17/1/2019) siang.

Di penghujung tahun lalu, Polda Jawa Tengah dipimpin Kapolda, Irjen Pol Condro Kirono, sempat menggelar konferensi pers akhir tahun. Salah satu materi yang disampaikan adalah terkait insiden lakalantas di Jawa Tengah.

Berdasarkan paparan itu, terinci; jumlah lakalantas di Jawa Tengah selama tahun 2018 ada 17.531 kejadian, mengakibatkan 3.266 korban meninggal dunia, 221 luka berat dan 20.406 luka ringan. Lakalantas itu juga menyebabkan kerugian materiil sebesar Rp12.958.019.500.

Jumlah ini meningkat di banding tahun 2017, yang tercatat ada 17.526 lakalantas di Jawa Tengah, mengakibatkan 3.319 korban meninggal dunia, 333 luka berat dan 20.905 luka ringan. Kerugian materiilnya Rp12.543.681.000.

Dari perbandingan data tahunan itu, didapati fakta kejadian lakalantas di Jawa Tengah terjadi peningkatan. Secara persentase, terhitung tiap 29 menit 59 detik, terjadi 1 lakalantas di jalanan Jawa Tengah.

Sementara jumlah pelanggaran lalu lintas di Jawa Tengah selama 1 tahun, baik tahun 2018 maupun 2017, jumlahnya di atas 2 juta kasus.

Pada tahun 2018 tercatat terjadi 2.558.122 kasus, pada tahun 2017 terjadi 2.599.660 kasus pelanggaran lalu lintas di Jawa Tengah.

“Lakalantas itu biasanya didahului dengan pelanggaran lalu lintas,” sambung Rudi.

Berbagai pelanggaran itu, di antaranya; berboncengan lebih dari 1 orang, tak memakai helm saat bersepeda motor di jalan raya, berkendara melawan arus, memainkan telepon seluler saat berkendara, mengemudi secara zig-zag, ataupun mengabaikan rambu lalu lintas.

Melihat berbagai kejadian itu, terutama para milenial yang terbanyak jadi korbannya, menimbulkan kekhawatiran tersendiri jika ini terus berkelanjutan.

Salah satu sebabnya, mereka ini, yakni para milenial adalah generasi penerus bangsa ini. Jika meninggal sia-sia di jalanan, maka akan menyebabkan kerugian besar bagi negara.

Rudi menyebut, pihaknya mencoba mengkampanyekan tertib lalu lintas bagi para pengendara, terutama kaum milenial tadi. Caranya, membuat serangkaian kegiatan bertajuk “Millenial Road Safety Festival”.

Itu adalah serangkaian kegiatan yang rencananya akan diadakan mulai tanggal 2 Februari hingga 31 Maret 2019 mendatang, dipusatkan di Kawasan Simpanglima Kota Semarang.

Isinya berupa rangkaian kegiatan yang disukai milienial. Di antaranya; pertunjukan musik hingga goes bareng. Semua kegiatan itu disisipkan kampanye tentang pentingnya keselamatan berlalu lintas.

“Intinya mengajak kaum milenial jadi pelopor safety riding,” tegas Rudi Antariksawan. (Sutrisno)

Pembinaan Tertib Lalu Lintas Para Milenial Perlu dilakukan

Advokat dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Adi Laksono Ahmad, menerangkan, sesuai Pasal 1 ayat (24) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) disebutkan kecelakaan lalu lintas (lakalantas) adalah peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan atau kerugian harta benda.

Pada masa ini, penggunaan gadget jadi kebutuhan primer bagi masyarakat, terutama para milenail. Namun, sangat disayangkan penggunaan gawai kadang melebihi batas kewajaran.

“Salah satunya berkendara sambil memainkan ponsel, akibatnya kurang konsentrasi saat berkendara, pelanggaran ini dapat menyebabkan lakalantas,” kata Adi kepada rumpan.id, Jumat (18/1/2019).

Pada pelanggaran seperti itu, bisa dijerat Pasal 283 regulasi tersebut. Disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagaimana dimaksud Pasal 106 ayat (1) dipidana kurungan maksimal 3 bulan atau denda maksimal Rp750ribu.

“Sangat diperlukan pembinaan tentang kesadaran dan keselamatan berlalu lintas untuk para generasi milenial”

Sangat disayangkan, sebut Adi, jika korban meninggal dunia akibat lakalantas didominasi generasi milenial yang merupakan penerus bangsa ini.

“Sangat diperlukan pembinaan tentang kesadaran dan keselamatan berlalu lintas untuk para generasi milenial ini,” lanjutnya.

Namun bagaimanapun juga, keselamatan berlalu lintas merupakan tanggung jawab dan kesadaran bersama. Generasi muda harus lebih semangat dan mampu menyerap proses transformasi berkendara dengan bijak.

Adi mengatakan, tertib lalu lintas merupakan perwujudan dari Sila ke 2 Pancasila yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Berkendara mematuhi aturan lalu lintas adalah manifestasi dari merawat kemanusiaan. (Sutrisno)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here