K.H.M. Yusuf Chuldori alias Gus Yusuf

SEMARANG – Undang – Undang (UU) Pesantren digadang-gadang mampu membuka akses bagi para santri untuk mengakses fasilitas negara. Tidak melulu soal pendidikan saja.

Ketua DPW PKB Jateng KH M Yusuf Chudlori menilai, perlu ada bumbu budaya hingga ekonomi di dalam UU Pesantren. Yang harus digarisbawahi dalam UU ini adalah adanya kepedulian negara kepada pesantren.

Karena itu, dia berpendapat, masih banyak masukan dari berbagai pihak agar UU ini benar-benar selaras dan tepat sasaran. “Masih harus dibedah lagi, dan pengawalan. Karena nanti butuh Peraturan Menteri, hingga peraturan daerah provinsi atau kabupaten/kota,” ucap pria yang akrab disapa Gus Yusuf, Selasa (8/10/2019

Ketua DPP PKB Bidang Pendidikan dan Pesantren ini menambahkan, dalam UU ini ada definisi pesantren. Mulai dari adanya kiai, masjid, madrasah, hingga adanya pendidikan khas, seperti kajian kitab kuning.

“Ada rambu-rambu. Jadi bukan hanya ada papan saja, kemudian juga bisa disebut Pesantren. Atau kemudian muncul pesantren-pesantren dadakan,” bebernya.

Gus Yusuf juga berharap dengan adanya UU ini, dorongan dana APBN ditambah. “Misal BOS pesantren. Yang lebih penting kesejahteraan bagi guru ngaji,” harapnya.

Meski membuka keran anggaran dari pemerintah, juga perlu regulasi yang pakem mengenai penggunaannya. “Jangan sampai seperti soal desa. Dimana setelah ada nomenklaturnya, di Kementerian, kemudian ada dana desa, namun ada banyak kades-kades yang masuk penjara,” bebernya.

Sementara itu, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, Theodorus Yosep Parera menilai, dalam mewujudkan perintah Pancasila, seluruh pembuatan UU harus dilengkapi sejumlah hal. Yaitu bertuhan, memanusiakan dan mengadabkan manusia, menjaga persatuan dalam perbedaan, menjadikan masyarakat hikmat dalam penyelesaian masalah demi terwujudnya kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, UU bukan dibuat hanya mengakomodasi kepentingan minoritas atau mayoritas, tapi harus hadir untuk semua. Jadi, UU pesantren harus mampu menghadirkan pesantren untuk Indonesia. Bukan pesantren untuk umat Islam saja.

“Kedepan diharapkan pesantren dapat melahirkan manusia-manusia Pancasilais dalam membangun Indonesia lebih baik,” tegasnya. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here