Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera (kiri) mewawancari
Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin selaku Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sesaat setelah Ma’ruf Amin menghadiri kegiatan “Harlah NU dan Haul Akbar: Merawat Tradisi, Menjaga NKRI, Wujudkan Islam Rahmatal Lil’alamin” di Alun-Alun Wonosobo, Rabu (27/3/2019) siang.


Di sela-sela kesibukannya, Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin selaku Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), berkenan meluangkan waktu khusus untuk diwawancarai tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum.  

Wawancara berlangsung sesaat setelah Ma’ruf Amin menghadiri kegiatan “Harlah NU dan Haul Akbar: Merawat Tradisi, Menjaga NKRI, Wujudkan Islam Rahmatal Lil’alamin” di Alun-Alun Wonosobo, Rabu (27/3/2019) siang.

Warga memadati Alun-Alun Wonosobo

Beliau menekankan, bahwa Pancasila adalah landasan kebangsaan dan kenegaraan yang sudah disepakati oleh seluruh elemen bangsa. Sebab itu, tidak ada lagi ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila yang boleh hidup di Indonesia.  

Pancasila adalah nilai-nilai hidup yang harus diwujudkan. Sebab itulah, seluruh lapisan masyaraat harus berangkat, bergaul, berperilaku, berpikir, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.  

Wawancara dilakukan langsung oleh pendirinya, yakni Theodorus Yosep Parera. Saat wawancara, Wury Estu Handayani sang istri Kyai Ma’ruf Amin, turut mendampingi.

K.H. Ma’ruf Amin tampil di podium

Berikut wawancaranya:

Yosep Parera: Profesor, kami ini dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, yang kegiatannya memberikan bantuan hukum secara gratis pada seluruh masyarakat Indonesia, dan juga mengadakan diskusi, seminar-seminar nasional tentang Pancasila dan bantuan sosial kepada seluruh masyarakat Indonesia, meminta Profesor sebagai Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk memberikan pesan moral kepada seluruh masyarakat Indonesia agar menjaga rumah Indonesia tetap damai di tahun 2019 ini sehingga menjadi rumah yang indah, yang nyaman bagi kita semua, pesan moral dari Profesor seperti apa?

Ma’ruf Amin: Ya. Pertama, bahwa Pancasila itu merupakan landasan kebangsaan dan kenegaraan kita yang sudah disepakati oleh seluruh elemen bangsa. Karena itu, tidak ada lagi ideologi lain yang boleh hidup yang bertentangan (dengan Pancasila), sebagai landasan berbangsa dan bernegara.

Yang harus kita jaga seperti itu.

Karena itu, tidak ada benturan antara Pancasila dan agama, tidak boleh dibenturkan. Dan itu sudah diselesaikan. Karena itu, maka di dalam kita membangun bangsa, maka landasannya adalah Pancasila.

Karena itu, paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila, paham-paham yang intoleran, paham-paham yang mempersoalkan Pancasila itu harus dihilangkan. Harus dikikis.

Makanya, dialog-dialog kebangsaan kita, baik nasional maupun regional kita, harus terus digiatkan. Jangan sampai tumbuh kelompok-kelompok intoleran itu.

Dan yang kedua, bagaimana sumber-sumber, paham-paham yang intoleran, yang bertentangan dengan Pancasila itu, harus tidak boleh diberi ruang, baik yang bersumber dari luar negeri maupun dari dalam negeri.

Nah itu yang dari luar negeri, supaya dia menjadi seorang yang Pancasilais, sebaiknya dikarantina dulu, supaya dicuci dulu otaknya. Yang di dalam negeri, sumber-sumber yang bisa mempersoalkan atau tidak Pancasilais itu juga harus dihilangkan. Harus ditekan, karena kalau itu dibiarkan boleh jadi akan terjadi erosi kepercayaan terhadap Pancasila.

Yosep Parera: Yang terakhir Kyai…Profesor mungkin memberikan motivasi kepada seluruh anak muda, mahasiswa-mahasiswa, yang ikut di Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, termasuk para advokat-advokat, untuk termotivasi membangun Indonesia lebih baik dengan filosofi Pancasila. Ada motivasi dari Profesor untuk kita semua untuk terus menjaga Indonesia tetap baik?

Ma’ruf Amin: Ya, Pancasila itu kan nilai-nilai yang hidup. nilai-nilai religiusnya ada, nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradabnya, sehingga kita bisa bergaul di dunia internasional dan nilai-nilai persatuan Indonesianya ini juga, setelah itu nilai keadilan sosial, kemudian juga kedaulatan.

Ini semua itu harus diwujudkan, diinterpretasikan dalam perilaku. Nah itu yang harus. Itu yang tidak mudah, bagaimana kita berperilaku seperti yang di dalam sila-sila Pancasila ini.

Itu seluruh lapisan masyarakat harus berangkat, bergaul, berperilaku, berpikir, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Yosep Parera: Ya, berpikir, berbicara dan bertindak sesuai dengan filosofi Pancasila?

Ma’ruf Amin: ya, itu saya kira.

Yosep Parera: Profesor, terimakasih banyak atas waktunya, kami doakan sehat selalu

Ma’ruf Amin dan Istri: Aamiiin.  

Dikalungi surban oleh nahdiyin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here